Kej 12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
Kehidupan Abram merupakan perjalanan, yang dimulai di Ur, sebuah tempat di Kasdim atau disebut juga Chaldea. Tempat itu dikenal sebagai tempatnya orang Kasdim yang menjadi kerajaan Babilonia kuno. Tempat itu disebut Ur sesuai dengan keyakinan orang yang tinggal di sana, yaitu para penyembah api dan bintang – demikianlah Ur berarti dalam bahasa kuno berarti api. Terah, ayah Abram, nampaknya bukan orang yang turut menyembah api, sehingga ia membawa keluarganya pindah, sampai akhirnya menetap di Haran. Perjalanan Abram sudah dimulai sejak kecil ketika Terah mengajarkannya tentang nenek moyang mereka yang bergaul dengan Allah – dan berlanjut terus hingga Abram juga bergaul degan Allah.
Tetapi perjalanan Abram sendiri baru terjadi ketika ia sudah berusia tujuhpuluh lima tahun. Ini bukan hal yang mudah bagi orang setua itu, untuk memulai sesuatu yang baru. Abram memang masih kuat – orang jaman dahulu tetap bertubuh kuat dan sehat hingga ratusan tahun – tetapi pengalaman hidupnya selama 75 tidaklah sedikit. Ia sudah memiliki banyak kenangan, ada hal-hal baru yang dibuat dan dibangunnya, yang kini semua harus ditinggalkan. Dibutuhkan tingkat hubungan yang tinggi sehingga di saat TUHAN berbicara, Abram pergi seperti yang difirmankan-Nya. Tiga hal yang dijanjikan TUHAN: Abram dibuat menjadi bangsa yang besar, nama Abram menjadi masyhur, dan Abram menjadi berkat.
Jika kita berada dalam posisi Abram, apa yang akan kita katakan? "Oh, TUHAN, Engkau tahu aku baru membuka ladang di sebelah sana dan tempat ternak di atas bukit. Aku baru membersihkannya dan mengusir binatang-binatang liarnya. Benarkah aku harus pergi?" Atau, "TUHAN, bagaimana ini, sekarang ternakku sudah ada begitu banyak. Ada begitu banyak kesulitan dan pengeluaran yang besar untuk suatu perjalanan…" Mengikuti perintah TUHAN untuk menjalankan perintah-Nya tidak mudah, juga tidak murah. Ketika seseorang sudah menetap dan menikmati hasil tangannya, dapatkah ia meninggalkannya?
Dalam suatu ketika, TUHAN juga menyuruh kita pergi. Ada yang harus ditinggalkan: kenyamanan dan rasa enak. Kepastian dan keamanan. Tempat kerja itu mungkin berisi kumpulan para penyembah uang, atau penyembah teknologi, atau popularitas dan kekuasaan – sesuatu yang sudah diusahakan bertahun-tahun, dan kini Tuhan mau kita pergi meninggalkannya. TUHAN mau kita memenuhi Firman-Nya, karena rencana-Nya jauh melampaui segala kenyamanan dan rasa enak dan kepastian dan keamanan Abram. Ada rancangan yang lebih besar daripada diri kita sendiri, dan adalah suatu anugerah untuk boleh ambil bagian di dalamnya. Itulah yang Abram lakukan: ia meninggalkan tempat tinggal dan ayahnya serta saudara-saudaranya. Itulah yang juga dapat kita lakukan, ketika TUHAN menunjukkan tempat yang baru bagi kita; perjalanan kita.
Mari! Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar