Jumat, 15 Januari 2010

Perjumpaan

Hak 6:14-15 Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!" Tetapi jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku."

Ada saatnya menjadi orang yang percaya adalah hal yang sukar, mendekati mustahil. Sekalipun TUHAN telah membuktikan penyertaan-Nya, manusia menjadi sangat bodoh dan lemah di dalam kesulitan. Bodohnya, semakin besar kesulitan, orang pun semakin menjauh dari Allah. Sepertinya sudah menjadi tabiat manusia untuk percaya pada apapun yang dipercaya oleh sang pemenang. Apalagi jika para pemenang itu sedemikian dahsyatnya, sehingga orang Israel begitu ketakutan dan membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu. Itulah kengerian yang dibawa oleh orang-orang Midian.

Bagaimana mengalahkan orang Midian? Mungkin yang dibayangkan oleh orang Ibrani adalah persenjataan yang lebih hebat. Pengalaman dan kebijaksanaan yang lebih cerdas. Bukankah dari jaman dahulu sampai sekarang masih sama saja? Orang yang mau menang harus mengumpulkan kekuatan terlebih dahulu. Kumpulkan uang, pengaruh, kekuasaan, pengetahuan, dan segala hal yang memungkinkan orang mendapatkan kemenangan, termasuk mempunyai dewa yang hebat dan memberi kemenangan. Bagi Gideon yang paling muda di keluarganya, yaitu keluarga yang paling kecil di suku Manasye, ia tidak punya apa-apa.

Ketika perjumpaan itu terjadi dan pernyataan TUHAN diberikan, reaksi Gideon adalah kekerdilan dirinya. Dia muda! Keluarganya kecil! Sukunya tidak berarti! Memiliki penyertaan Allah tidak cukup; ia mengharapkan hal-hal lain yang lebih nyata. Bukankah kita sekarang pun mengalami hal serupa? Penyertaan Tuhan tidak memadai, orang lebih mengandalkan uang dan kepandaian (baca: titel) serta koneksi untuk mendatangkan keberhasilan. Orang yang merasa dirinya kecil mencari-cari 'nasehat' dari berbagai motivator yang heboh di hotel-hotel mewah, sedangkan keyakinannya kepada TUHAN hanya sebatas untuk ritual dan saat kelak meninggalkan dunia saja.

Maka, Gideon meminta tanda untuk meneguhkan keyakinannya. Pertama-tama ia minta tanda bahwa dirinya memang berarti, persembahannya memang diterima. Apakah kita ragu, apakah persembahan kita juga diterima oleh Tuhan? Itu adalah keraguan yang tidak berguna! Di saat TUHAN mengutus anak-anak-Nya, Dia tidak main-main dengan janji-Nya untuk menyertai. Kalau Gideon ragu, Tuhan bersedia memberi tanda. Akan lebih baik lagi jika kita percaya, tanpa harus mendapatkan segala macam tanda! Maka hidup Gideon setelah perjumpaan itu pun berubah: ia menghancurkan berhala-berhala, ia memimpin, dan ia membebaskan bangsanya dari orang Midian.

Temuilah Allah. Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: