1 Raj 19:4,13 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." … Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"
Seumur hidupnya Elia melayani TUHAN. Dia ini orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, yang muncul di puncak kekafiran bangsa Israel ketika Ahab menjadi raja. Kalau diperhatikan, dimulai dari Yerobeam yang meninggalkan Tuhan, kemudian Baesa dan Ela anaknya yang sama jahat. Hukuman Tuhan jatuh kepada Baesa melalui Zimri – dia ini panglima atas setengah pasukan kereta, yang juga jahat. Rakyat mengangkat Omri, seorang panglima tentara yang membinasakan Zimri, tetapi Omri lebih jahat lagi. Dialah yang membeli Semer dan membangun kota Samaria sebagai pusat penyembahan berhala bagi Israel. Ahab adalah anak Omri, yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih daripada semua orang yang mendahuluinya.
Bayangkan, betapa sukarnya kehidupan kafir bagi orang-orang yang masih setia kepada TUHAN. Mereka bersembunyi, ketakutan oleh kekuasaan jahat yang mencengkram bangsa itu. Dalam keadaan begitulah Elia lahir dan dibesarkan, tetapi ia tetap melayani TUHAN dan membawa pesan yang keras: tidak akan ada hujan yang turun di atas Israel. Biasanya, Tuhan memakai tangan-tangan manusia untuk menjatuhkan hukuman kepada raja atau orang yang jahat di mata-Nya. Tetapi kini, oleh besarnya kejahatan bangsa itu, TUHAN memakai alam yang membawa kesengsaraan kepada setiap orang. Namun, bangsa itu masih saja belum bertobat.
Elia bersembunyi dari Ahab yang dengan panik mencarinya – menyalahkannya atas bencana kekeringan itu. Tetapi akhirnya ia muncul, membuktikan penyertaan TUHAN dengan menantang nabi-nabi baal untuk mempersembahkan korban, serta menunjukkan kepada rakyat itu siapa yang harus disembah. Seharusnya ada perubahan, namun nyatanya Elia kembali ke situasi yang sama seperti sebelumnya: ketakutan oleh kekuasaan jahat yang mencengkeram bangsa. Semua yang dahsyat itu, hasilnya nihil! Izebel masih berkuasa dan berbuat seenaknya – apa yang berubah? Maka, bagi Elia justru dirinya yang berubah, sampai ia masuk ke padang gurun.
Ada kalanya, kesusahan Elia juga menjadi pengalaman kita. Mulainya dari situasi yang tidak baik, situasi sulit. Dalam bagian kita melayani TUHAN, kita membuat ini dan itu serta mengusahakan perbaikan. Tidak jarang, ada kuasa TUHAN dan mujizat yang menyertai, sehingga menjadi bukti yang seharusnya menggerakkan orang. Nyatanya tidak: orang tetap ada di keadaan semula. Akibatnya, sebaliknya dari mengubah orang yang buruk, justru kita yang berubah menjadi putus asa. Kalau mujizat TUHAN sudah diabaikan, lantas apalagi yang bisa dilakukan seorang manusia? Disinilah kita menemukan pertanyaan TUHAN: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"
Apa kerja kita? Adakah kita sanggup untuk mengubah sesuatu? Bukankah kita hanyalah orang-orang yang dipakai oleh TUHAN, melakukan apa yang sudah ditetapkan-Nya, sudah dipersiapkan-Nya untuk kita lakukan? Ingatlah kata-kata Tuhan Yesus: kami hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya mengerjakan apa yang harus kami kerjakan.
Apa kerjamu? Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar