Rabu, 20 Januari 2010

Hati Penuh Hikmat

1 Raja 3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian. Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.

Salomo tidak menjadi raja karena ia berjasa. Ia bukan seorang pahlawan, bukan pula seorang yang berjuang; sebenarnya, ia adalah anak yang lahir belakangan dan mengalami kehidupan yang lebih tenteram dibandingkan semua anak Daud lainnya yang mati dibunuh Absalom. Itu adalah peperangan hebat antara Daud dan anaknya sendiri, yang berakhir menyedihkan. Daud menjanjikan tahtanya kepada Batsyeba, ibu Salomo, karena ia telah mendengarkan Firman Tuhan yang menyatakan bahwa Salomo yang kelak akan membangun Rumah bagi Allah. Salomolah yang akan membangun Bait Allah, maka ia harus menjadi raja penerus Daud.

Pengaturan ini sendiri sebenarnya tidak lazim, karena menurut kebiasaan orang saat itu, yang lebih 'dekat' sebagai pewaris tahta adalah Adonia. Dialah anak tertua setelah Absalom mati – Absalom adalah anak Daud yang dengan kejam membantai hampir semua saudara-saudaranya sendiri, sebagai balas dendam atas penderitaan Tamar, adiknya. Jadi begitulah gambaran kacau balau dari anak-anak Daud, dan dari tengah-tengah kekacauan ini Salomo menjadi raja dengan terburu-buru karena Adonia sudah lebih dahulu menyatakan diri sebagai raja! Bisakah dibayangkan bagaimana Salomo dibesarkan?

Ketika Salomo sudah menjadi raja, TUHAN memberinya kesempatan untuk meminta sesuatu. Kesempatan istimewa! Apakah yang akan diminta oleh seorang manusia kepada Allah semesta alam? Salomo meminta hati penuh hikmat! Ia tidak meminta sesuatu untuk memuaskan dirinya, melainkan memohon kemampuan untuk memikul tanggung jawab sebagai penerus tahta Daud. Salomo menyadari keadaannya dan ia melihat bahwa dirinya bertanggung jawab atas masa depan Israel. Ia bersedia untuk bertanggung jawab – maka TUHAN pun berkenan untuk memberinya hati yang penuh hikmat dan pengertian. Tidak ada lagi raja yang seperti Salomo.

Permintaan itu sendiri telah mengubah Salomo dan memberinya kehidupan yang baru, karena ia kini memahami lebih baik dibandingkan orang lain. Hanya saja, ternyata hikmat itu tidak disertai iman yang cukup besar, tidak seperti Daud, sehingga Salomo lebih melihat kesia-siaan dalam hidup dan perlahan-lahan membuat hidupnya sendiri kacau dengan meninggalkan TUHAN. Bagaimanapun, Salomo menjadi raja yang berhasil mengelola kerajaannya, menjadi sangat kaya dan sangat berpengaruh. Itulah buah dari hati yang penuh hikmat, yang diterima sebagai bagian dari kesediaan untuk bertanggung jawab. Ingin sukses? TUHAN yang memberikannya bagi orang yang layak untuk menerima.

Bertanggung jawablah. Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: