1 Sam 16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.
Daud terbiasa disebut anak kecil. Kisahnya mungkin menyerupai kisah Yusuf, kecuali bahwa Daud tidak disayang dengan cara yang luarbiasa oleh ayahnya. Sebaliknya, ia seperti terbuang dengan tugasnya menggembalakan domba di padang. Itu bukan pekerjaan yang mudah atau aman, karena di sana Daud harus berhadapan dengan singa dan binatang buas lain, juga menghadapi kekerasan sesama gembala, berebut air dan rumput, menahan dinginnya angin dan panasnya matahari – menjadi anak yang terlupakan. Bukankah ia tidak diingat-ingat ketika Samuel mendatangi Isai, ayahnya?
Tujuh anak yang gagah berlalu di hadapan Samuel, semuanya nampak gagah sebagai laskar Israel yang berperang melawan Filistin. Tak ada satupun yang dipilih TUHAN. Isai mengernyitkan dahi di depan Samuel, Hakim atas Israel yang dihormati, yang sekarang datang untuk mempersembahkan korban tapi tidak mau mulai sebelum anak yang bungsu itu datang. Hah, mengapa si bungsu itu perlu datang? Tidak cukupkah ketujuh anak laki-laki untuk mengikuti ritual persembahan? Dibutuhkan waktu beberapa saat untuk memanggil Daud, dan mereka harus menunggu dan menunggu… Ketika Daud hadir di rumahnya, Samuel bangkit dan mengurapinya. Ia mengambil tanduk minyak dan menuangkannya di atas kepala Daud.
Siapa yang menyangka? Isai tidak pernah mengira anak yang kemerah-merahan itu akan diperlakukan begini rupa. Orang tua itu sering bermimpi tentang anak sulungnya dan adik-adiknya sebagai pahlawan Israel, tapi tidak pernah disangka bahwa yang terpilih justru yang bungsu! Daud sendiri juga tidak menyangka – ia hanya menurut saja ketika Samuel mengurapinya di tengah saudara-saudara. Dan disitulah mulainya satu perubahan dahsyat dalam hidup Daud, sesuatu yang dalam seketika mengubahnya secara total dan radikal. Roh TUHAN berkuasa atas Daud sejak hari itu dan seterusnya – bahkan kini Samuel tidak lagi dibutuhkan, maka ia kembali ke Rama, ke rumahnya.
Siapa di antara kita yang merasa diri paling kecil? Yang tidak berarti, yang tidak diharapkan menjadi pahlawan, dan hanya kebagian tugas yang membosankan dan dianggap tidak penting walaupun berbahaya? Sepertinya tidak ada harapan untuk maju. Seolah-olah, kehidupan yang terlihat hanyalah berada di tempat ini, melakukan hal-hal yang biasa saja, menjadi biasa saja. Tetapi TUHAN berkuasa untuk hadir dalam kehidupan, dan mengubah semua gambaran dan rancangan manusia. Apa yang biasa menjadi luar biasa karena Roh TUHAN bersamanya! Bersyukurlah, karena kini bukan hanya Daud, tetapi seluruh anak Allah memperoleh Roh TUHAN atasnya sejak hari Pentakosta. Bukankah kita patut bergembira, karena kehidupan kita pun menjadi berbeda?
Roh TUHAN menguasai kita. Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar