Kamis, 28 Januari 2010

Yes 6:7-8 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Ratusan tahun setelah Israel dan Yehuda terpisah, kedua kerajaan ini tidak berdamai juga. Pada waktu itu hiduplah raja Uzia yang perkasa, yang mau mencari TUHAN dengan sungguh-sungguh. Hanya saja, ketika kesuksesan sudah diraihnya ia menjadi tinggi hati, merasa bisa melakukan apa saja. Uzia memaksa masuk ke Bait Allah, melangkahi para imam keturunan Harun. Maka TUHAN mendatangkan kusta kepadanya – demikianlah ia direndahkan sampai akhir masa hidupnya. Kejadian mewarnai proses yang sepertinya berulang-ulang terjadi di antara raja-raja Yehuda: awalnya bersungguh-sungguh, tetapi kemudian mereka melawan Tuhan.

Dalam keadaan inilah, di akhir masa hidup Uzia, tampil nabi Yesaya. Bangsa itu telah menjadi bangsa yang seperti berdiri di tepi jurang, di mana kesetiaan kepada TUHAN, Allah semesta alam, menjadi salah satu pilihan di antara penyembahan kepada banyak allah dan dewa dewi lain. Bahkan nabi-nabinya pun terpengaruh; melihat keadaan seperti begitu, siapakah yang dapat merasa diri benar di hadapan TUHAN? Bayangkan apa yang dirasakan oleh Yesaya. Seumur hidupnya ia telah mengetahui apa dan bagaimana tuntutan bagi umat TUHAN. Tetapi ia juga sudah melihat bagaimana dirinya berkompromi dengan kehidupan yang rusak, hanya sekedar bisa hidup sedikit lebih enak.

Kesadaran itu menggoncangkan akal dan pikiran Yesaya, ketika ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah kemuliaan TUHAN. Adakah kita juga tergoncang jika berada di tengah-tengah kemuliaan TUHAN? Betapa kita sendiri telah berkompromi dengan dunia! Bukankah anak-anak Tuhan jaman sekarang berlaku seperti bani Yehuda, yang menyembah TUHAN sekaligus membiarkan kesesatan dan penyembahan berhala kekayaan dan kesuksesan merajalela? Berapa banyak orang yang di bibirnya memuliakan TUHAN, tetapi dalam pilihan dan tindakannya, satu-satunya yang diutamakan adalah keberhasilan dan kemakmuran? Bibir ini najis, kata Yesaya, demikian juga ia tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibirnya!

Maka, ketika bara itu menyentuhnya, Yesaya tidak beranjak. Kengerian saat bara api menyentuh bibir tidak seberapa dibandingkan dengan anugerah pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan di hadapan Tuhan! Yang ada adalah penyerahan diri, dan di saat panggilan untuk menjadi utusan itu datang, Yesaya tidak ragu untuk menunjuk dirinya: "Ini aku, utuslah aku!" Apakah kita mempunyai resolusi yang sama, ketika menyadari bahwa darah Kristus telah menyucikan kita dari segala kejahatan dan memberi keampunan bagi setiap dosa? Kita diutus untuk membawa pesan penting; suatu ketetapan Ilahi tentang Yerusalem dan Yehuda. Suatu peringatan bagi umat Tuhan, untuk tidak berkompromi dengan dunia, dan tidak berpaling dari kemuliaan TUHAN mencari kemuliaan diri sendiri belaka.

Soli Deo Gloria! Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: