Senin, 31 Januari 2011

Renungan Sehari - 31 Januari 2011

Ef 3:12-13 Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu. 

Salah satu ciri khas orang Asia adalah merasa sungkan. Bukankah bagi kita sekalian, sopan santun adalah suatu hal yang sangat, teramat penting? Orang bisa berkelahi karena yang satu tidak bersikap cukup sopan di mata yang lain. Kadang-kadang, urusan sopan santun juga dipakai untuk menyatakan kedudukan, atau martabat, yang biasanya diikuti oleh kemarahan kalau orang lain bersikap kurang hormat. Kata-kata yang sering terlontar untuk menyatakan kemarahan adalah, "kurang ajar!" -- ini adalah kata-kata khas, yang tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris, terutama di Amerika. Mungkin di Barat orang tidak berpikir sopan santun dengan intensitas seperti di Timur.

Ada sesuatu yang berbeda dalam masa lalu bangsa-bangsa, antara yang mengembangkan feodalisme seperti di Eropa dan Asia, dengan yang menjelajah seperti di Amerika. Namun masa penjelajahan baru dimulai pada abad ke-15, sebelumnya orang-orang bersikap tahu diri di bawah kekuasaan raja-raja di dalam dunia. Kalau sekarang kita bisa mengekspresikan diri dengan bebas, bisa berpendapat dan bertindak tanpa memikirkan sopan santun kecuali apa yang disebut "norma masyarakat" yang longgar -- dahulu sama sekali tidak demikian. Dahulu, orang harus berpakaian dengan cara tertentu, berjalan dengan cara tertentu, berkata-kata dengan cara tertentu, untuk disebut "sopan". Kalau tidak sopan, orang itu tidak dapat diterima bekerja, tidak diterima dalam masyarakat, dan --bisa dibilang suatu kekejaman-- diusir dan dikucilkan oleh penguasa atau pemimpin komunitas.

Sopan santun berasal dari kepercayaan masyarakat. Di jaman dahulu, ada orang kuno yang mempercayai bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa, hasrat adalah akar dari kejahatan, dan hanya dengan mendisiplinkan diri orang bisa mencapai pencerahan. Maka tubuh tidak boleh dihias, tidak patut diperlihatkan -- dan standar sopan santun adalah menutupi tubuh dengan jubah bagi laki-laki dan tubuh perempuan tertutup seluruhnya, Seksualitas hanyalah tugas untuk menyambung keturunan, suatu tindakan tidak suci yang tidak sopan, suatu kekotoran, bahkan suatu kejahatan karena memenjarakan jiwa baru atas dasar kepentingan keluarga. Yang diharapkan dari suatu seksualitas adalah anak laki-laki demi menyambung marga keluarga, sedang perempuan lebih 'rendah' karena menjadi penjara jiwa berikutnya. Tidak sopan membicarakan seks, bahkan menyebutkan "seks" pun adalah sebuah tabu. (semoga pembaca tidak tersinggung karena harus membaca kata itu dalam artikel ini).

Dalam masyarakat kuno lainnya, tubuh adalah bagian dari alam, suatu pecahan dari semesta -- allah adalah semesta itu sendiri. Maka tubuh adalah bagian yang mulia dari manusia, suatu keindahan yang harus diapresiasi, disukai, dan dinikmati. Sebagaimana dalam alam ada mahluk yang tinggi dan mahluk yang rendah, demikian pula manusia dibagi dalam kasta-kasta yang berbeda -- tapi ada hal yang serupa dalam semuanya, sama-sama terbuka dan menyatu dengan alam semesta, walaupun tidak saling bercampur satu sama lain. Seksualitas adalah hal yang alami, bahkan merupakan puncak dalam keberadaan hidup manusia. Kenikmatan dalam seks adalah bagian dari kenikmatan sorgawi, yaitu tempat di mana para dewa berada dan menikmati hidup mereka. Demikianlah seks menjadi bagian dari ritual penyembahan kepada para dewa -- sopan santun adalah memperlihatkan tubuh yang indah, serta melayani satu sama lain dalam memberikan kepuasan dan kesenangan. Tulisan seperti Kamasutra adalah kitab suci. Ketelanjangan adalah alami, karena di alam ini segala sesuatunya telanjang, tidak berpakaian...

Masyarakat manakah yang lebih sopan? Tergantung pada apa yang kita percaya -- sekali lagi, sopan santun berasal dari kepercayaan. Kita tidak hanya membicarakan tentang tubuh dan hubungan badani, melainkan seluruh hubungan sosial dan spiritual dalam masyarakat, yang seluruhnya disebut sopan santun. Di masa dahulu kala, masyarakat masih terbagi-bagi, dan sebuah tempat mempunyai kepercayaan yang dipaksakan oleh penguasa. Dibutuhkan keberanian untuk tidak mengikuti sopan santun, dibutuhkan keyakinan yang kokoh untuk bersikap sesuai dengan apa yang benar, bukan apa yang 'baik' di mata orang lain.

Dahulu, sopan santun dalam hal seksualitas dalam beberapa masyarakat merupakan sesuatu yang sensitif, namun sopan santun dalam hal religius lebih sensitif lagi di seluruh masyarakat. Jika urusan seks orang bisa marah, dalam urusan agama orang bisa saling membunuh satu sama lain, sekalipun terhadap keluarganya sendiri. Untungnya, di jaman sekarang, manusia telah belajar untuk lebih menerima satu sama lain, di mana di dalam satu masyarakat, misalnya dalam sebuah kota, ada banyak kepercayaan di dalamnya --disebut pluralisme-- sehingga sopan santun lebih longgar. Tetap saja, disini pun ada respon kekuasaan mayoritas terhadap minoritas. Kita melihat dampaknya dalam penutupan gereja, atau pengusiran ahmadiyah, atau sidang Ariel - Peterpan. Seluruhnya berakar dari kepercayaan yang berbeda, sehingga sikap sebagian orang tidak dapat diterima oleh orang lainnya.

Bagaiman dengan sikap hidup para pengikut Kristus? Jika kita berharap untuk hidup 'baik', pertama-tama kita harus menerima standar tentang apa yang 'baik' itu. Paulus kalau mau 'baik' harus menjadi Yahudi, sesuai darah dan dagingnya. Seharusnya ia tetap menjadi Saulus. Seharusnya ia tidak membuat murka para imam dan pemuka agama di Yerusalem. Seharusnya ia tetap menjadi farisinya orang farisi.

Tapi, Paulus memiliki yang lebih tinggi, lebih besar, dan lebih penting daripada dipandang baik di hadapan manusia. Ia memilih melanggar Hukum Taurat supaya dapat memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Ia memilih dipandang tidak baik daripada tidak mengikuti Tuhan. Ia memilih ditolak manusia, daripada ditolak Tuhan. Ia memilih berada dalam Kristus daripada berada di tempat ibadah yang tidak mengakui-Nya.

Semua itu membutuhkan keberanian. Bayangkan, waktu itu Paulus menjadi orang yang dibenci banyak orang Yahudi sebangsanya. Ia juga tidak disukai dalam berbagai masyarakat karena menyebarkan Injil. Dalam istilah kita sekarang, Paulus tidak sopan. Persona non grata. Dia ditangkap di Yerusalem, dan dari penjara ia menulis surat kepada jemaat Efesus, untuk tujuan memberitakan Injil. Pada dasarnya, ia tidak berhenti, penjara tidak menghentikannya. Ia tidak sungkan.

Apa yang membuat Paulus kuat? Dia berada di dalam Kristus. Jika kita membutuhkan ketegaran yang sama, satu-satunya cara adalah juga berada dalam Kristus. Kemudian, Paulus bukannya tidak sopan, namun ia memiliki kepercayaan yang berbeda dengan orang lain. Paulus dan segala orang kudus berada dalam perjalanan yang pasti menuju Allah karena berada dalam Kristus -- itu adalah iman kita sekalian, bukan? Tidak ada hal yang lebih baik. Kita hidup dalam kasih karunia!

Maka, kesesakan dunia tidak sepadan dengan kemuliaan Surga. Sekalipun orang tidak memahami, menganggap tidak sopan memberitakan Injil, Rasul Paulus tetap melakukannya juga, membuat surat yang juga kita baca sekarang.

Beberapa mungkin merasa tawar hati. Jika memberitakan Injil adalah suatu sikap tidak sopan, bagaimana kita bisa menjadi "orang Kristen pembawa terang" yang disukai?

Tapi, berita Injil bukanlah tentang baik atau sopan di mata dunia. Ini adalah berita yang benar, suatu kebenaran yang mutlak tanpa melihat waktu atau tempat. Kita melayani kebenaran, bukan cocok atau tidak cocok dengan masyarakat. Kesesakan seorang Paulus adalah kemuliaan bagi orang-orang yang dilayaninya, karena dengan demikian  berita Injil diberitakan dengan biaya yang mahal. Nilai tinggi datang dari fakta bahwa ada perjuangan yang besar untuk hal itu, sesuatu yang telah dilakukan dengan kesulitan. Untuk Jemaat Efesus. Untuk kita juga.

Masihkah kita berkata, tidak sopan untuk mengabarkan Injil kepada orang yang belum percaya? Masihkah kita merasa tidak enak untuk menjelaskan bahwa hidup teman kita terancam, karena tidak memiliki jaminan keselamatan? Atau kita takut dikenal sebagai orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya?

Ingatlah, Paulus telah melaluinya. Pada akhirnya ia berpegang pada kebenaran, dan lihatlah, Paulus mendapatkan mahkota kehidupan. Adakah kita juga sanggup untuk memutuskan sikap dan mengikuti langkah Paulus?

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Jumat, 28 Januari 2011

Renungan Sehari - 28 Januari 2011

Ef 3:7-11 Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Jika menjadi orang Kristen adalah suatu kasih karunia, seperti apakah sikap kita terhadap panggilan untuk memberitakan Injil? Beberapa mengatakan, bahwa itu tugasnya "hamba Tuhan". Beberapa merasa, "itu bukan bagian saya" karena, "saya tidak bisa bicara..." -- pada akhirnya, sumber dari sikap mereka adalah pikiran bahwa pekerjaan ini tidak cukup berharga atau penting untuk dikerjakan. Tidak jarang kita merasa ancaman memberitakan Injil lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh -- lagipula toh orang-orang itu tidak mau menjadi Kristen, bukan?

Kalau kita berpikir demikian, maka pertama-tama kita tidak memikirkan tentang kasih karunia Allah, dan akibatnya kita juga tidak memikirkan mengenai anugerah berkesempatan memberitakan Injil. Kita mengabaikan panggilan mulia itu, karena menolak menjadi pelayan Injil. Itu bukan kehilangan di sisi Tuhan. Itu adalah kehilangan di sisi kita, suatu kerugian yang sangat besar karena tidak berkesempatan mengalami pengerjaan kuasa TUHAN yang luar biasa.

Sangat menarik untuk merenungkan apa yang terjadi dengan Rasul Paulus, yang dahulu bernama Saulus ini. Saulus tidak dibesarkan sebagai orang yang kalah, atau orang yang rendah. Sebaliknya, ia menjadi orang yang ditakuti, sangat dihormati, berkedudukan tinggi. Ia dari awal belajar untuk menegakkan Hukum Taurat setinggi-tingginya, setegak-tegaknya, dan tidak mengijinkan penyimpangan apapun terjadi, apalagi membiarkan Firman Tuhan dibahas di luar orang-orang Yahudi. Sekali pun saat itu orang Yahudi di bawah penindasan orang Romawi, dalam hal rohani spiritual penguasanya tetaplah orang-orang Farisi. Hanya perjumpaan dengan Tuhan yang membawanya menjadi Paulus, membuatnya meninggalkan segala hal yang dahulu dipegang kuat-kuat.

Bagi Rasul Paulus, ia menempatkan dirinya adalah pelayan Injil sesuai kasih karunia Allah, sebagai kuasa yang diterimanya. Perjumpaan dengan Tuhan bukan sekadar peristiwa dalam perjalanan ke Damaskus, melainkan suatu proses yang berkelanjutan seiring dengan kuasa yang berulang kali terwujud, dan akhirnya mengubah seluruh hidup Paulus. Semua hal ini lebih bermakna, lebih penting dan bernilai dari apapun juga, sampai ia tidak lagi melihat bahwa dirinya penting. Jabatan lamanya, penghormatan dan penghargaan yang banyak orang berikan padanya, menjadi tidak berarti.

Sebaliknya, Paulus melihat kehinaan dirinya. Ia menempatkan dirinya sebagai "yang paling hina dari antara semua orang kudus." walaupun dalam kenyataan, mungkin Paulus adalah rasul yang paling menguasai kitab-kitab Perjanjian Lama, juga berbagai filsafat dan pengetahuan. Semua dari masa lalunya bukan hal yang membanggakan, dan dengan demikian Paulus boleh merasa menjadi yang paling beruntung karena mendapatkan anugerah yang besar.

Ketika anugerah itu diterima, apa yang menjadi pokoknya adalah hal yang mulia -- walaupun sebelumnya hal ini sangat bertentangan. Dahulu, Saulus menentang pemberitaan terhadap orang-orang bukan Yahudi. Kini, Paulus memandang tugas pemberitaan kepada orang-orang bukan Yahudi sebagai panggilan yang mulia. Yang dibawanya kepada orang bukan Yahudi bukan sekedar berita atau cerita, melainkan kekayaan yang hebat dari Kristus Yesus, juga tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah. Itu adalah hal yang sangat besar dan luar biasa!

Berita ini disampaikan bukan hanya bagi orang Efesus, tapi juga bagi kita -- sama-sama orang bukan Yahudi. Sikap seperti apakah yang kita ambil? Jika bagi si pembawa pesan, anugerah itu telah mengubah Saulus sedemikian drastis menjadi Paulus, adakah sebagai penerima pesan kita juga berubah dengan drastis? Ya, pasti!

Pertimbangkanlah baik-baik. Kepada kita telah diberitahukan pelbagai hikmat Allah, sehingga jemaat juga bisa memberitakan rahasia ini kepada pemerintah Sorga, kepada penguasa langit, sesuai maksud TUHAN yang kekal. Ketika kita mendapatkan hikmat Allah, dapatkah kita bersikap masa bodoh?

Jika kita telah mendapatkan kasih karunia, sudah sepantasnya dan selayaknya kita menerima juga panggilan-Nya, untuk memberitakan Injil. Jangankan kepada sesama manusia, bahkan kepada pemerintah pun kita perlu mengatakannya. Kita menjadi bagian dari rencana Allah untuk mengungkapkan kuasa-Nya. Ketika seluruh anak-anak Tuhan bersama-sama memberitakan Injil, ada kuasa yang dinyatakan, yang mengubah setiap tempat di mana anak Tuhan berada, dan mengubah dunia. Inilah dunia yang ada sekarang -- adakah kita masih mau mentaati panggilan untuk memberitakan Injil?

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Rabu, 26 Januari 2011

Renungan Sehari - 26 Januari 2011

Ef 3:4-6 Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.

Seberapa banyak yang telah kita baca dari surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus? Sudahkah kita membacanya dari awal sampai akhir? Sudahkah kita menikmati setiap kata-kata, yang dituliskan dengan hati-hati dan indah sejak guratan pertamanya? Rasul Paulus tidak menulis surat ini dengan sembarangan. Ia tidak mengerjakan sebuah surat seperti hanya curahan hati dari orang yang dipenjara, atau seperti sebuah novel untuk memikat pembaca. Rasul Paulus menuliskan sesuatu pokok yang sangat penting, yang telah diungkapkan tanpa tedeng aling-aling sejak kalimat pertama -- tidak banyak basa basi, tidak ada ungkapan curahan hati, atau keluhan tentang diri sendiri. Ia memakai kesempatan pertama menulis surat kepada jemaat di Efesus ini untuk mengungkapkan suatu rahasia, bahkan suatu rahasia yang BESAR.

Jika belum sempat membacanya, berhentilah sekarang dan baca kembali surat dari Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus. Dan kalau mau mengikuti renungan mengenai surat ini, boleh mengunjungi blog kami, http://renungan-sehari.blogspot.com. Kalau sudah, mari kita lanjutkan.

Sebuah rahasia diberikan dalam bentuk pasangan, yaitu pengungkapan rahasia dan pengertian untuk memahami rahasia itu. Jika rahasia hanya diungkapkan begitu saja, orang yang membacanya atau mendengarnya tidak dapat memahami. Ini seperti kode enkripsi: orang membuat kode-kode yang menyembunyikan informasi, sehingga tidak dapat diketahui orang lain. Jika hanya mendapatkan kode-kode saja, orang memiliki rahasia tetapi tidak mampu memahaminya. Tentu saja ada berbagai metode yang mungkin dilakukan untuk memecahkan kode-kode, yaitu dengan memahami bagaimana orang biasanya membuat kode. Dengan berbagai metode matematika dalam bidang cryptology (atau disebut juga cryptography), ada aturan-aturan mendasar mengenai cara menyembunyikan kata-kata, juga cara untuk mengungkapkannya kembali. Sekali metodenya dapat ditentukan, komputer bisa disuruh untuk mencoba berbagai kombinasi kunci rahasia yang mungkin ditaruh, sampai akhirnya seluruh informasi dapat diungkapkan. Tetapi, metode enkripsi dalam cryptology juga berkembang sehingga pengungkapan jauh lebih sukar untuk dilakukan. Cara yang paling baik adalah mendapatkan pengertian yang benar sebagai pasangan informasi rahasia yang telah disampaikan, dari orang yang mengetahuinya.

Yang hebat dalam surat ini adalah, bagian awal merupakan kunci, suatu pengertian yang benar sebagai pasangan informasi rahasia yang telah disampaikan sebelumnya, yang terkandung dalam Firman Allah. Keajaiban besar dari rahasia Allah adalah, bahwa sejak semula TUHAN telah mengungkapkan maksud dan rancangan-Nya kepada manusia, dalam setiap Firman dan nubuat yang disampaikan melalui para nabi. Rahasia itu sendiri tersimpan dengan baik, tersembunyi dalam setiap nubuat dan pengajaran. Ajaibnya pula, sekalipun manusia tidak memiliki pemahaman untuk mengerti rahasia TUHAN, Firman Tuhan yang telah disampaikan memiliki otoritas untuk mengatur dan menyusun umat Allah serta kehidupan seperti yang TUHAN inginkan. Bangsa Israel selama berabad-abad mengikuti Firman Allah, membentuk budaya dan identitas Yahudi sebagai umat Allah yang dengan sejarah panjang dan menyedihkan dalam pembuangan, sampai kembali lagi dan belajar untuk sungguh-sungguh mentaati Hukum Musa. Orang-orang Israel memiliki rahasia itu, dapat membaca nubuat di dalamnya, tetapi mata mereka tidak melihat dan telinga mereka tidak mendengar. Rahasia itu tetap tersembunyi, bahkan ketika Yesus telah hadir dan mengerjakan karya-Nya di antara orang Yahudi. Bukankah berulang kali Yesus tidak mengajar dengan penjelasan penuh, melainkan memakai perumpamaan?

Sampai genaplah karya Tuhan, ditutup dengan kenaikan Tuhan Yesus ke Surga sambil dipandangi oleh murid-murid-Nya. Setelah Roh Kudus datang, mulailah rahasia itu diungkapkan -- sesuatu yang tidak pernah diberitakan di jaman sebelumnya, di "angkatan-angkatan dahulu", kini diberikan kepada murid-murid Kristus, juga kepada Rasul Paulus. Kini Roh telah menyatakan rencana semula yang telah ditetapkan TUHAN, yaitu bahwa karya keselamatan bukan hanya tersedia untuk orang Yahudi saja, melainkan juga bagi semua orang lain, semua bangsa lain. Rahasia ini sukar dipahami, karena pada awalnya Firman Allah seolah-olah membentengi bangsa pilihan dari bangsa-bangsa lainnya serta memisahkan manusia berdasarkan keturunan darah dagingnya. Hanya pendalaman Firman yang teliti yang mengungkapkan bahwa sejak awal mula, Tuhan memberikan kesempatan dan kasih karunia kepada bangsa-bangsa lain.

Rahasia inilah yang diungkapkan oleh Rasul Paulus, yang dituliskan dalam surat ini. Adalah suatu keadaan yang sangat istimewa dan sangat khusus, jika semua bangsa dapat turut menjadi ahli waris dan anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Jika kita hari ini -- yaitu kita yang bukan orang-orang Yahudi -- dapat turut ambil bagian dalam kasih karunia TUHAN, itu adalah keadaan yang sangat istimewa dan sangat khusus. Sayangnya banyak orang yang bukan Yahudi tidak dapat memahami apalagi mengapresiasi keistimewaan besar ini, jadi menganggap kekristenan sebagai suatu hal yang biasa saja. "Agama Kristen" menjadi suatu pilihan di antara agama-agama lainnya, tidak ada istimewanya kalau orang bisa menjadi seorang pengikut Kristus, yaitu seorang Kristen.

Semua agama lain diadakan melalui pemberitaan, penerimaan, dan konversi berdasarkan hak asasi manusia. Dalam piagam Hak Asasi Manusia, hak untuk memilih kepercayaan merupakan hak mendasar pertama yang melekat pada setiap manusia merdeka. Dalam prakteknya, hak inilah yang paling banyak dilanggar, karena jika seseorang telah masuk sebagai anggota dari suatu agama tertentu, ia tidak dapat mengubah agamanya tanpa menimbulkan hukuman, atau paling sedikit konflik, dari anggota agamanya. Sudah umum terjadi dalam suatu tempat, penganut agama mayoritas akan menerapkan standar ganda dalam hal pemberitaan, penerimaan, dan konversi. Jika ada penganut agama atau kepercayaan lain mau mendengar pemberitaan agama mayoritas, mau menerimanya, serta mau berubah menjadi penganut -- itu dianggap sebagai bukti pelaksanaan Hak Asasi Manusia, sekalipun dibalik proses itu ada intimidasi dan manipulasi. Sebaliknya, pemberitaan dari agama minoritas merupakan suatu pelanggaran, penerimaan ajaran agama lain merupakan tindakan murtad yang harus dihukum, dan konversi dari agama mayoritas ke minoritas merupakan kejahatan yang harus dihukum.

Tidak heran, jika ada dua wilayah dengan perbedaan agama sama-sama menerapkan standar ganda di wilayahnya, dapat timbul konflik dan mengarah kepada perang yang panjang dan berdarah-darah atas nama agama. Semakin rendah pendidikan masyarakat, semakin picik dan sederhana kepercayaan, dan semakin kuat suara para penghasut yang fanatik, semakin hebat pula perangnya. Agama Kristen memiliki sejarah yang juga berdarah-darah, banyak jiwa yang melayang karena standar ganda dan "penerapan hukum" yang bisa kita sebut sesat! Seolah-olah bisa menjadi Kristen adalah pilihan bebas yang dapat diambil manusia.

Bacalah kembali surat Efesus, maka kita bisa melihat bahwa untuk menjadi pengikut Kristus tidak dapat hanya merupakan pilihan manusia. Orang tidak dapat menerapkan Hak Asasi Manusia dalam hal menjadi Kristen, karena manusia yang berdosa tidak berhak untuk menuntut kembali kepada TUHAN, Allah semesta alam. Menjadi anak-anak TUHAN bukanlah Hak Asasi Manusia, melainkan kasih karunia Allah. Tetapi ketika orang terpilih untuk menjadi pengikut Kristus, ada kuasa Roh Kudus yang memeteraikan dan memberikan kuasa yang melampaui semua akal dan pikiran manusia.

Ketika kita sungguh-sungguh memahami rahasia ini, sudah sepatutnya kita sungguh-sungguh bersyukur kepada TUHAN. Jangan anggap enteng atau biasa saja, jika kita boleh menjadi orang percaya yang mengikuti Kristus. Juga merupakan suatu kebanggaan, sebuah anugerah, jika kita boleh turut memberitakan Injil kepada orang-orang, sehingga mereka yang telah ditetapkan-Nya dapat terus mengikuti-Nya sesuai rencana dan kehendak Tuhan. Baiklah kita menyadari dan menghargai karunia ini, sehingga kita berperilaku dan berkata-kata dengan kesadaran dan hikmat, tidak berbuat atau berbicara sembarangan, supaya kehidupan kita menjadi kesaksian hidup karya Tuhan.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Selasa, 25 Januari 2011

Renungan Sehari - 25 Januari 2011

Ef 3:1-3 Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah --memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. 

Bagi Paulus, kehidupannya adalah kehidupan orang Yahudi. Seumur hidup ia diajari mengenai TUHAN dan Hukum Musa, sampai menjadi orang farisinya orang farisi. Mereka belajar membedakan orang, memisahkan diri berdasarkan keturunan. Antara Yahudi dan Samaria saja, ada pemisahan yang cukup besar, sampai orang Yahudi tidak bicara dengan orang Samaria walaupun sebenarnya masih ada hubungan kekerabatan. Apalagi dengan bangsa-bangsa lain, kecuali dengan Romawi yang telah datang menjajah Yudea dan Galilea. Tetapi, sekarang Tuhan menugaskan Paulus ke bangsa-bangsa bukan Yahudi, bahkan sampai ke Asia jauh, dan sampai ke Efesus.

Memikirkan kebiasaan Paulus, rasanya cukup pantas kalau ada sejumlah kemudahan, bukan? Cukup susah untuk mengubah cara pandang dalam memperlakukan orang. Ingat saja, dibutuhkan satu perang saudara di Amerika untuk menghapus perbudakan, dibutuhkan demonstrasi dan jiwa martir Martin Luther King untuk mengajukan kesetaraan, dan butuh waktu puluhan tahun sebelum seorang negro diterima sebagai Presiden Amerika Serikat. Butuh waktu lama bagi manusia untuk menerima keberadaan manusia lainnya, yang selama berabad-abad dipandang lebih rendah. Bagaimana Paulus diharapkan bisa mengubah cara pandangnya dalam waktu singkat?

Jika kita berpikir Paulus mendapatkan kemudahan, kita keliru. Sebaliknya dari mudah, Paulus dipenjara, dan dari sanalah ia menuliskan surat untuk jemaat di Efesus ini. Apakah ia memohon pertolongan? Tidak. Apakah Paulus menyuruh orang membuat hidupnya lebih nyaman? Tidak!

Sebaliknya, Paulus bangga ia dipenjara karena Kristus Yesus. Ia tahu dirinya mengalami semua kesulitan itu untuk orang-orang bukan Yahudi; mereka yang dahulu dipandang rendah, tidak sederajat secara rohani, disebut kafir dan fasik -- mereka yang dahulu bahkan tidak pernah disapa Saulus. Kini Paulus dipenjara untuk orang-orang bukan Yahudi, seperti untuk orang Efesus, juga untuk kita semua, orang-orang yang tidak mengenal Allah. Berubah menjadi mau berbicara dan melayani orang yang dianggap rendah adalah satu hal, sedangkan sampai dipenjara untuk itu adalah hal lain.

Mengapa Paulus melakukannya? Pertama-tama, ia menerima wahyu dari Allah, menerima Firman Tuhan. Paulus tidak mengikuti pendapat dirinya atau orang lain -- tidak ada yang berpendapat demikian -- sebaliknya ia menunjukkan kepada para penatua di Yerusalem bagaimana Allah bekerja di antara orang-orang bukan Yahudi. Yang kedua, Paulus mengerti rahasia yang tersembunyi bagi orang Yahudi, yaitu bahwa Allah juga menyelamatkan bangsa-bangsa lain berdasarkan kasih karunia. Rahasia ini tersembunyi selama berabad-abad sejarah Israel, yang selama itu memandang bangsa lain sebagai sumber dosa -- bukankah dahulu Allah memerintahkan untuk membinasakan bangsa Kanaan secara total, supaya orang Israel jangan menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan Hukum Taurat? Bukankah Salomo yang penuh hikmat itu jatuh karena istri-istrinya yang asing, yang membawa penyembahan berhala di Israel, sampai akhirnya negara besar ini pecah? Bukankah dahulu orang Israel yang kembali dari pembuangan di masa Ezra dan Nehemia, telah menceraikan dan mengusir istri bangsa asing mereka, supaya kembali ada pemurnian? Bukankah selama empat ratus tahun, bangsa Israel telah menjadi bangsa yang tertutup, yang dengan ketat mengikuti Hukum Taurat, membentuk adat istiadat baru yang keras dan memunculkan orang-orang farisi? Orang Israel tidak tahu rahasia ini.

Rahasia, bahwa Tuhan juga mengasihi bangsa-bangsa lain. Bahwa ada keselamatan bagi segala bangsa, yang sebenarnya adalah manusia juga, yang diberi jalan dan kemampuan untuk percaya kepada Yesus Kristus, TUHAN. Jika kita sekarang bisa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, ini adalah hasil dari pembukaan rahasia besar. Ini adalah hal yang indah dan besar dan tidak terbayangkan pada masa kehidupan Rasul Paulus. Sedemikian hebat dan besarnya, sehingga Paulus mau menempuh apa saja untuk mengambil bagian dalam mengungkapkan kebenaran, untuk membawa Injil kepada pelosok terjauh yang dapat dijangkaunya. Apa yang dimulai Paulus diikuti oleh Rasul lain, yang membawa Injil sampai jauh ke India dan Cina, ke seluruh dunia kuno -- sampai ke seluruh dunia kita.

Kita sekarang tidak lagi mengenal pembedaan Yahudi dan bukan Yahudi, dan mungkin kita tidak lagi bisa menghargai betapa hebat perubahan yang telah terjadi. Bagaimanapun juga, perubahan itu ada, dan kalau kita benar-benar memahaminya, kita juga bisa belajar untuk melayani semua orang yang tidak sama dengan kita, sebagai manusia yang juga dikasihi Allah. Kasihilah sesamamu manusia, dan beritakanlah kabar keselamatan itu kepada mereka.

Terpujilah TUHAN!


Salam kasih,

Donny

Jumat, 21 Januari 2011

Renungan Sehari - 21 Januari 2011

Ef 2:21-22 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. 

Urusan menjadi satu di dalam Kristus, pertama-tama, adalah urusan TUHAN. Keberadaan kita sebagai Gereja yang berada di dalam Kristus bukanlah sebuah pilihan manusia, dan utamanya juga bukan untuk melayani kepentingan manusia. Walaupun ada banyak sekali manfaat bagi orang-orang percaya untuk bersatu, ada banyak sekali sukacita dan keuntungan yang dapat kita peroleh -- kesatuan umat Allah adalah kepentingan TUHAN, di dalam Tuhan Yesus Kristus. Karena ini adalah urusan-Nya, maka Tuhan membangun dan menumbuhkan setiap orang percaya, individu demi individu, ke dalam Kristus, di dalam damai sejahtera dan kasih karunia. Tuhan tiap hari menambahkan orang-orang percaya, hingga kini gereja telah berada di seluruh dunia. Pertumbuhan, pada akhirnya, benar-benar merupakan karya Tuhan.

Ada tiga hal yang menarik untuk direnungkan. Yang pertama, jika Tuhan yang menumbuhkan, lalu apa peran manusia? Kita bersyukur karena Tuhan memberi anugerah untuk kita boleh ambil bagian. Seperti yang dikatakan rasul Paulus, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan." Bukan berarti Tuhan tidak bisa menanam atau tidak bisa menyiram -- Dia sanggup mengerjakan apapun juga dengan sempurna, namun dalam kasih karunia-Nya Tuhan memberi peran kepada umat-Nya untuk melakukan sesuatu. Kalau kita boleh aktif, bisa turut serta dalam suatu kegiatan gereja, dapat berbicara kepada seseorang dan menolongnya mendengar tentang TUHAN -- semua adalah peran yang diberikan Tuhan. Jika kita tidak mau ambil bagian, tujuan Tuhan tetap akan terlaksana -- tapi betapa ruginya kita yang tertinggal di belakang!

Yang kedua, pertumbuhan tidak terjadi sesuai rancangan manusia. Mungkin manusia bisa membuat bangunan gereja yang bagus, bisa membuat acara yang besar-mewah-mengesankan, namun tidak ada seorangpun yang dapat membuat kerajaan Allah. Yang terjadi, malah kekayaan gereja dan rencana pembangunan gedung gereja seringkali menimbulkan percekcokan, perselisihan, dan sakit hati. Sekali waktu ada rencana untuk pegelaran rohani -- musik dan tari -- yang hebat, yang meriah, mengesankan banyak orang -- tetapi di akhir acara, justru timbul kepahitan karena ada ketidakpuasan dan kritik. Saat manusia hanya memikirkan tentang rencananya sendiri, dengan ukuran-ukurannya sendiri, kebanggaan dan kesombongannya sendiri -- di saat itulah orang tidak mengikuti kehendak dan rencana Allah, dan hasilnya adalah bangunan yang kacau balau, tidak rapih tersusun, dan harus dirubuhkan untuk dapat dibangun kembali.

Yang ketiga, apa yang dibangun bukan sekedar organisasi, bukan lembaga, bukan komunitas. Memang dalam perwujudannya, ada organisasi, ada lembaga gereja, dan pasti ada komunitas orang-orang percaya. Tetapi TUHAN tidak sedang membangun sebuah masyarakat, melainkan Dia sedang membangun bait-Nya yang kudus. Dia bersemayam di antara umat-Nya -- bukan hanya seorang, bukan cuma satu individu -- dan tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim bahwa "Tuhan ada pada saya, tidak ada pada kamu" karena pengalamannya bersama Tuhan. Apa yang dilakukan Tuhan dalam setiap individu yang percaya dan takut akan Tuhan menjadi pengalaman individu itu sendiri, tetapi TUHAN hadir dalam individu yang berelasi dengan individu lainnya. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka," Firman Tuhan.

Jika kita benar-benar menjadi murid Yesus Kristus, perintah yang kita terima adalah untuk mengasihi satu sama lain. Kasih adalah kekuatan yang mengikat kita -- demikianlah bangunan bait Allah dibangun di dalam Tuhan yang mengasihi. Barangkali kita mendapati bahwa sesama orang Kristen bukanlah orang yang sempurna, bukan orang yang berkarakter benar dan kuat, sebaliknya masih saja penuh banyak kekurangan. Yang paling buruk, karakter yang bertentangan dengan kebenaran serta melanggar prinsip-prinsip dasar dari Tuhan. Yang tidak terlalu buruk, karakter yang bertentangan dengan keinginan kita sendiri, sehingga kita tetap saja merasa tidak suka kepadanya walaupun orang itu tidak melakukan sesuatu yang salah  di dalam prinsipnya.

Sayangnya, lebih sering perpecahan terjadi karena orang yang satu "melanggar" orang yang lain. Kita berpikir tentang gereja serupa seperti perusahaan, atau organisasi sosial, atau kumpulan lainnya. Kita berpikir bahwa "bersatu" adalah urusan kita, kehendak manusia. Kita duduk dan melakukan rapat untuk saling membagi pikiran, mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional dan emosional -- kita memakai apa saja, tanpa mengijinkan Roh Tuhan bekerja. Seringkali, hubungannya adalah hubungan sebab-akibat: sebab saya berbuat baik, Anda berbuat baik. Jika Anda berbuat tidak baik, akibatnya saya juga tidak berbuat baik kepada Anda. Tidak ada kasih di sana, sama seperti organisasi lain -- toh, kasih atau cinta hanya dituturkan sebagai cinta antara pria dan wanita, bukan?

Jika benar demikian, maka apa yang kita bangun bukanlah bangunan yang kudus bagi Allah. Gereja yang ramai dengan konflik, kepahitan, kemarahan dan kekecewaan sambil terus berupaya untuk bersatu, bukanlah gereja yang kudus. KIta turut dibangunkan di dalam Roh, di dalam ketaatan, di dalam takut akan Tuhan. Bersama-sama, kita mengalami Tuhan berada di tengah kita. Bersama-sama, kita memberikan kesaksian kepada dunia bahwa karya Tuhan tidak terputus, belum berhenti, sampai semuanya digenapi.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Kamis, 20 Januari 2011

Renungan Sehari - 20 Januari 2011

Eph 2:17-20 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Penyakit yang melanda banyak orang Kristen saat ini adalah perpecahan. Perpecahan besar terjadi paling sedikit dua kali dalam sejarah gereja; pertama-tama terjadi ketika gereja Barat dan gereja Timur terpecah. Perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan dalam detil seperti "apakah roti yang dipakai dalam Perjamuan Kudus memakai ragi atau tidak", "Apakah Paus berkuasa atas seluruh wilayah kekristenan", juga "apakah kota Constantinople menjadi pusat kekristenan", disertai perseteruan politik dan perbedaan-perbedaan teologis yang tidak mudah dipahami awam -- semua itu membuat perpecahan di tahun 1054.

Perpecahan besar kedua terjadi ketika Paus begitu hebat menegaskan kekuasaannya, sehingga terjadi korupsi. Benarlah kata-kata ini, "diantara manusia dengan kekuasaan absolut, ada korupsi yang absolut." Martin Luther mengajak orang-orang untuk kembali ke Alkitab, selamat hanya oleh iman, bisa hanya karena anugerah -- dan perpecahan terjadi dalam Reformasi 1517, ketika Luther menempelkan ke 95 tesisnya di pintu gerbang gereja Castle, di Wittenberg, Saxony.

Perpecahan masih terjadi lagi dan lagi. Sebagian karena perebutan pengaruh dan kekuasaan (serta kekayaan yang mengikutinya), sebagian besar lainnya karena perbedaan teologis dan ritual -- mulai dari cara beribadah, cara baptis, sampai kepada doktrin mendasar seperti "apakah Alkitab Firman Allah yang mutlak benar atau tidak". Jika mau dituliskan, satu buku tebal saja tidak cukup menjelaskan semua perpecahan besar secara teologis, apalagi menuliskan semua peristiwa perpecahan dalam gereja, bahkan oleh karena alasan sakit hati karena suatu perkataan atau sikap seorang pendeta senior kepada juniornya.

Perpecahan begitu sering sampai menjadi norma, dan ada yang mengatakan bahwa Allah memang mengijinkan perpecahan agar Firman Tuhan bisa disampaikan hingga ke ujung bumi. Benarkah demikian?

Jika perpecahan terjadi karena kesetiaan dan ketidaksetiaan kepada Firman Tuhan, perpecahan adalah pemurnian, karena Tuhan sendiri pada saat-Nya memisahkan antara ilalang dengan gandum, antara kambing dan domba, dan antara yang sesat dengan yang tetap lurus. Masalahnya, alasan ini sudah terlalu sering disalah-tafsirkan, bahkan diam-diam digunakan sebagai alat untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Bukan Firman Tuhan yang jadi patokan, melainkan tafsir atas Firman, yang dilakukan dengan tujuan dan niat membenarkan diri sendiri serta mengangkat kepentingan sendiri.

Pada akhirnya, yang terjadi adalah setiap orang merasa dapat menafsirkan Firman Tuhan sesuai apa yang dipikirkannya -- bahkan tanpa merasa perlu memahami dasar-dasar cara menafsirkan yang benar -- kemudian mengumumkan bahwa penafsirannya yang paling benar dan yang lain salah serta sesat -- oleh karena itu, demi meluruskan iman jemaat maka didirikanlah gereja baru.

Dahulu, suatu denominasi dalam kekristenan terdiri dari sejumlah besar gereja-gereja dengan satu asas. Sekarang, satu denominasi dapat direpresentasi cukup oleh satu gereja. Teologia telah menjadi sedemikian individual, karena bukan saja menyangkut apa dan bagaimana proses memikirkannya, namun juga perasaan dan pengalaman yang terlibat. Pengalaman orang yang satu dapat sangat berbeda dengan pengalaman orang lainnya, apalagi perasaan religius seperti "perasaan saat bertemu dengan Tuhan".

Perpecahan membawa pertentangan, dan tentunya di sana tidak ada damai sejahtera. Ini adalah hal yang ironis, karena sebenarnya sejarah menunjukkan bahwa ada bangsa yang sungguh-sungguh bertemu dengan TUHAN -- itulah bangsa Israel. Mereka "terpecah" dari dunia karena dikhususkan, dipisahkan sebagai milik TUHAN. Bangsa-bangsa lain selama berabad-abad tidak memiliki kesempatan untuk mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan perasaan seperti bangsa Israel. Mereka tidak pecah karena manusia, melainkan karena desain TUHAN sesuai Perjanjian. Sekarang, Tuhan Yesus Kristus telah meletakkan sebuah dasar yang baru, Perjanjian Baru, di mana tidak ada lagi pemisahan. TUHAN kini mengumpulkan umat manusia di dalam diri-Nya sendiri.

Tapi manusia yang mengaku sebagai anak-anak-Nya, justru memecahkan diri.

Ada yang bertindak untuk melakukan penyatuan kembali, seperti menyatukan berbagai organisasi politik menjadi satu koalisi. Penyatuan seperti ini memang bisa dilaksanakan, tetapi dengan dasar kepentingan. Orang-orang mempunyai kepentingan yang terpenuhi hanya dengan penyatuan -- jadi mereka bersatu. Di saat kepentingannya tidak terpenuhi, perpecahan terjadi kembali.

Penyatuan yang sesungguhnya bukanlah mengenai orang yang satu bersatu kepentingan atau kehendak dengan orang yang lainnya. Kebenarannya, setiap orang dipersatukan di dalam Kristus. Artinya tiap orang harus menyatu dengan Kristus, dengan Roh Kudus yang satu. Firman Tuhan tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, melainkan harus dengan Roh Kudus -- dan karena Roh Kudus hanya satu, maka prinsip dasar juga hanya satu. Tentu masih ada ruang untuk berbeda, karena penafsiran harus berguna dalam kehidupan nyata dan kontekstual di tempat dan budaya penafsiran dilakukan -- tetapi perbedaan itu bukan dalam prinsip-prinsip utama, bukan pada doktrin-doktrin utama, yang tetap sama. Orang Kristen menyatakan percaya sesuai Pengakuan Iman Rasuli yang sama di segala abad dan tempat, yang jika benar-benar dipahami, membawa prinsip-prinsip yang serupa. Itulah satu Roh yang bekerja!

Demikianlah kita semua menjadi satu, sebagai kawan sekerja di dalam Tuhan tanpa pembedaan. Kita mempercayai apa yang diletakkan oleh para rasul sebagai dasar, dengan Tuhan Yesus Kristus sebagai fokus yang mengikat dan mempersatukan -- karena kita semua menyangkal diri dan mengikuti-Nya, bukan mengikuti kemauan sendiri. Tidak ada orang yang boleh mengatakan, "oh saya menafsirkan Firman ini begini dan begitu, jadi saya berbeda dari mereka" -- karena prinsip utama adalah bagaimana kita semua sama-sama bersatu dengan Tuhan. Satu-satunya perbedaan yang memisahkan adalah, jika yang seorang mengikuti Tuhan dan yang lain tidak mengikuti-Nya.

Marilah kita bersama-sama ada dalam Tuhan, bersama-sama berusaha untuk hidup mengikuti Firman dan Roh yang menuntun perjalanan dengan Kristus sebagai batu penjuru -- yaitu batu yang menjadi acuan dan penilaian akan ketepatan arah dan kebenaran -- sesuai dengan Pengajaran para Rasul, maka ketika kita bersatu dengan-Nya, kita juga bersatu dengan semua saudara-saudara kita lainnya, tidak perduli apapun denominasi dan asal gerejanya. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny


Selasa, 18 Januari 2011

Renungan Sehari - 18 Januari 2011

Ef 2:14-16 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Tidak ada mahluk lain di bumi yang saling membunuh dalam jumlah sangat besar dan alasan-alasan ideologis, seperti yang dilakukan oleh manusia, tercatat sepanjang sejarahnya. Mahluk lain, seperti serangga, kadang kala juga berseteru dan saling membinasakan namun hal itu dilakukan karena persaingan untuk bertahan hidup, merebutkan sumber makanan. Tetapi manusia membunuh hanya karena pihak lain berbeda -- beda warna kulit, beda kepercayaan, beda kebudayaan, dan seringkali beda kepentingan.

Saat manusia terpisah dari Allah yang hidup, tiap orang memilih sendiri apa yang baik dalam pandangannya, dan melihat pihak lain adalah "jahat" -- itulah yang diberikan oleh buah pengetahuan baik dan jahat. Bukan baik dan buruk, karena kalau buruk masih bisa diperbaiki atau ditoleransi sedangkan yang jahat harus dibinasakan, paling sedikit perilaku atau pikiran jahat harus dienyahkan. Dan betapa mudahnya orang saling menuduh dan menghakimi!

Salah satu contoh menarik adalah mengenai pornografi, dengan berita yang berlangsung selama berbulan-bulan tentang artis-artis yang berhubungan badan di luar pernikahan. Jelaslah perbuatan mereka yang mengumbar hasrat seksual bukan hal yang baik. Tetapi, apakah yang mereka lakukan -- melakukan seks yang direkam kamera hp -- adalah perbuatan yang jahat? Jika dikatakan salah, jelaslah bahwa itu perbuatan yang salah. Tetapi kejahatan lebih dari sekedar kesalahan pribadi, karena kejahatan merampas sesuatu dalam hidup orang lain. Apa yang dirampas oleh mereka yang bersetubuh itu?

Sebaliknya, orang-orang berteriak-teriak dan menuntut hukuman yang berat bagi para pelaku hubungan seks itu, yang berarti menganggap mereka telah melakukan kejahatan. Apa yang mereka lakukan bukan hanya salah, tetapi juga jahat, harus dihukum. Dan dari pandangan "harus menghukum", justru para penuntut ini merampas kehidupan para artis yang dibawa ke depan sidang pengadilan, ketika masyarakat telah menghukum sebelum pengadilan memutuskan. Siapa yang peduli dengan asas praduga tak bersalah (menurut hukum)?

Tetapi manusia telah memakan buah pengetahuan baik dan jahat, jadi menentukan sendiri apa yang baik dan jahat. Apa yang kelihatan jahat, harus dihukum, dienyahkan. Artis "pelaku pornografi" harus dienyahkan dari publik, tidak boleh lagi menjadi artis, karena orang-orang sudah melihat bagaimana mereka larut dalam nafsu badani. Lain lagi dengan mereka yang diam-diam memuaskan nafsunya dengan memangsa anak gadis baru gede, mencemari dan merusak tubuh dan pikiran para putri yang cantik dan seksi -- selama tidak diketahui bagaimana hal itu dilakukan. Sekali waktu ada tokoh agama yang ketahuan memperistri anak perempuan di bawah umur, tapi tidak ada keributan, tidak seperti terhadap artis-artis porno. Selama tidak terlihat, ada saja pembenaran dan sebagian orang mungkin berkata itu adalah hal yang baik-baik saja. Bukankah ada nabi yang juga memperistri anak perempuan di bawah umur?

Bagaimana jika yang "jahat" adalah sebuah bangsa? Orang Jerman melihat bangsa Yahudi adalah bangsa yang jahat, lantas melakukan pembinasaan. Tetapi, bukan hanya orang Jerman yang melakukan itu. Di Armenia, suku Armendia dibinasakan Turki dalam PD I. Di Kamboja, Khmer Merah membantai rakyat Kamboja. Di Irak, suku Kurdi dibinasakan pengikut Saddam Hussein. Pandangan "jahat" dilandasi oleh berbagai alasan, entah itu ideologis seperti yang dilakukan pengikut komunis, atau perebutan kekuasaan seperti di Armenia, atau kesukuan seperti holocaust Yahudi yang luar biasa sadis, juga karena alasan agama. Pada intinya, yang jahat harus dibinasakan, bangsa yang kafir harus dilenyapkan.

Hanya manusia yang menghakimi berdasarkan apa yang baik dan jahat menurut pandangannya, dan dalam penghakiman itu ada pembenaran atas pembunuhan, demonstrasi, kerusuhan, anarki -- di mana pelakunya merasa bahwa apa yang dilakukan sepenuhnya baik, beralasan, dan bermoral. Itulah yang memisah-misahkan umat manusia, mengisi sejarah dengan berbagai perang dan pembantaian. Entah bagaimana, mereka bisa memandang para wanita dan anak-anak sebagai pihak yang "jahat" dan harus ditumpas habis, dan merasa sepenuhnya benar untuk melakukannya -- seperti yang diperbuat kaum Taliban di Afghanistan.

Selama manusia tidak diselamatkan dari dosanya, selama manusia masih terpisah dari Allah dan menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, perseteruan tetap ada di sana. Sesungguhnya, semua perang antara manusia terjadi karena manusia bermusuhan dengan TUHAN, Allah semesta alam. Orang-orang menyebut diri sebagai umat Allah, mau mengikuti berbagai ritual agama dan perilaku 'saleh' -- tetapi semua itu menurut pandangan manusia sendiri tentang apa yang baik, dan dengan begitu bertentangan dengan Allah, menjadi musuh Allah. Mereka yang berseru-seru "Allah Besar! Allah Besar!" tanpa sadar menyerukan kejatuhan mereka sendiri, jika di saat mereka meneriakkan kata-kata itu, mereka juga melawan kehendak Allah demi kepentingan dan keinginan manusia.

Orang Israel mempunyai posisi yang khusus karena mendapatkan wahyu dari Allah, dalam Perjanjian yang dimulai antara Allah dan Abraham, hingga turunnya Hukum Taurat di Gunung Sinai kepada Musa dan bangsa Israel. Hukum Taurat menunjukkan apa yang baik dan jahat menurut Allah, mengungkapkan standar Allah yang sempurna serta pilihan-Nya kepada bangsa Israel. Secara hukum dan keturunan, Israel dipisahkan dari semua bangsa lainnya, diberi kesempatan untuk selamat melalui Hukum. Tetapi bangsa ini gagal total -- justru oleh Hukum Taurat mereka tidak dapat mengelak dari hukuman yang patut mereka terima, yang dijatuhkan bukan oleh manusia melainkan oleh Allah sendiri. Hukum Taurat menegaskan bahwa bangsa pilihan Allah telah menjadi musuh-Nya, seperti istri yang berselingkuh dengan setiap laki-laki yang dikenalnya, sekalipun laki-laki itu telah merampas segala yang baik dari kehidupan sang istri yang tidak tahu diri!

Darah Kristus membawa damai antara manusia dengan Allah, dengan membawa perseteruan itu serta menyalibkannya. Ketika Kristus mati di atas salib, kehendak Allah yang dinyatakan oleh Hukum Taurat dipenuhi-Nya, sehingga Perjanjian Lama berakhir -- berakhir pula Hukum Taurat yang menyertai Perjanjian Lama. Tembok pemisah yang membedakan orang Israel -- bangsa pilihan -- dengan bangsa-bangsa lain, telah runtuh. Tuhan Yesus Kristus datang untuk memanggil semua bangsa menjadi anak-anak-Nya, umat manusia tidak lagi dipisahkan menurut darah dan keturunan, melainkan berdasarkan apa yang mereka percaya. Sebagian percaya kepada Kristus, sebagian lagi tidak.

Itulah keajaiban kasih karunia, ketika kita semua dipersatukan Kristus di dalam diri-Nya sendiri. Ketika kita semua bersama-sama menyangkal diri agar bisa mengikuti Kristus setiap hari, apa yang baik dan jahat ditentukan oleh Firman yang hidup, yaitu Yesus Kristus. Kebenaran tidak relatif menurut apa yang dipikirkan manusia, melainkan mutlak menurut Firman Tuhan -- yaitu kebenaran tentang apa yang baik dan jahat. Prinsip-prinsip kehidupan bukan lagi dibuat menurut kehendak dan keinginan serta ide manusia mengenai apa yang baik dan jahat, melainkan menurut Firman Tuhan.

Semua terjadi jika dan hanya jika perseteruan telah disalibkan -- itulah yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus dengan diri-Nya sendiri. Jika Tuhan Yesus telah menyatukan kita di dalam-Nya, maka seharusnya tidak ada lagi yang memisahkan anak-anak TUHAN, termasuk orang Yahudi dengan kita yang bukan Yahudi. Kita semua telah menjadi satu tubuh; akankah kita juga berselingkuh seperti yang diperbuat orang Israel dahulu kala? Kita telah menjadi manusia baru -- jangan lagi mau kembali seperti manusia lama!

Sementara itu, orang-orang lain yang tidak percaya pada Kristus, masih tetap memilih sendiri apa yang baik dan jahat menurut mereka. Kita berbeda dari manusia lain di dalam prinsip mengenai apa yang baik dan jahat, di mana kita tahu bahwa kejahatan memang ada tetapi adalah hak TUHAN untuk menentukan apa yang jahat serta menghukum setiap kejahatan. Orang lain yang tidak percaya masih tetap lebih suka untuk menghakimi apa saja, siapa saja, menurut kehendak dan pikirannya sendiri -- di sinilah perbedaan antara orang percaya dengan orang-orang dunia.

Lantas, bagaimana dengan hukum dan pengadilan di dunia? Sebenarnya hukum di dunia adalah perwujudan tentang kesepakatan yang diberlakukan oleh rakyat, melalui wakil-wakil rakyat di lembaga legislatif. Di sini rakyat bersepakat mengenai suatu hal, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang menjadi konsekuensi dari suatu perbuatan. Apa yang 'jahat' bukanlah sesuatu penghakiman menurut perasaan atau pendapat hakim, melainkan terbukti di pengadilan bertentangan dengan hukum yang telah ditetapkan. Tujuannya adalah agar rakyat dapat hidup menurut aturan yang disepakati, membentuk budaya dan pola perilaku yang dianggap sesuai -- beberapa bersifat permanen, lainnya dapat berubah seiring perubahan masyarakat.

Hukum negara berbeda dengan apa yang baik dan jahat. Ketika wakil-wakil rakyat ternyata bersekongkol untuk membuat kesepakatan yang tidak benar, hukum itu bisa diberlakukan dan setiap rakyat dipaksa harus mentaatinya dalam perilaku yang tidak benar. Tetapi, tetap saja perilaku itu jahat di hadapan TUHAN. Mengikuti apa yang tertulis dalam hukum negara tidak serta merta menjadikan orang baik di hadapan-Nya.

Pertanyaannya, apakah cukup banyak orang-orang percaya yang takut akan TUHAN menjadi wakil rakyat dan membuat kesepakatan hukum yang benar di hadapan-Nya? Ini menjadi tantangan bagi orang-orang percaya -- untuk menjadi garam dan terang dunia, bukan dengan cara diam dalam kenyamanan tempat yang gelap dan tidak terlihat, melainkan seperti lentera yang digantung tinggi dan menyinari seluruh ruangan. Setelah Tuhan Yesus mendamaikan kita dengan Allah, apakah kita cukup berpuas diri saja?

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Senin, 17 Januari 2011

Renungan Sehari - 17 Januari 2011

Ef 2:11-13 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, -- bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. 

Kata-kata kepada jemaat Efesus bukan hanya berlaku bagi mereka saja, melainkan bagi kita juga -- yaitu orang-orang bukan Yahudi menurut daging. Ngomong-ngomong, seperti apa sih hebatnya orang-orang Yahudi? Bukankah mereka dikenal juga sebagai orang-orang yang tertutup, yang dicurigai, yang tidak disukai? Reaksi negatif terhadap orang-orang Yahudi telah lama terjadi, sampai menjadi gerakan anti semit yang memuncak pada holocaust di perang dunia kedua. Walaupun umat manusia banyak berhutang kepada orang-orang Yahudi -- mereka menjadi penemu terobosan ilmiah, menjadi pengusaha sukses yang membangun berbagai institusi yang membangun dunia -- posisi orang Yahudi tetap tidak dihormati, tidak jarang menjadi objek lelucon miring di kala senggang. Di Indonesia, apapun yang berbau "Israel" dianggap haram.

Satu hal yang benar tentang orang Yahudi, adalah bahwa benar mereka sungguh-sungguh menjaga garis keturunan, atau bisa disebut juga orang Yahudi menurut daging. Satu perbedaan yang besar adalah mereka menamakan dirinya "sunat" sedang semua bangsa lain tidak bersunat. Sekarang praktek sunat dilakukan oleh berbagai bangsa dan agama, tapi tetap saja tidak sama dengan sunat yang dilakukan orang Yahudi. Sunat lahiriah yang dikerjakan tangan manusia itu mempunyai standar prosedur yang khas dan tidak dapat digantikan. Bagi orang Israel, sunat adalah tanda dari perjanjian yang sangat penting, yang sangat mereka banggakan, yaitu sebagai anak-anak Abraham, Ishak, dan Yakub. Ini adalah Perjanjian yang memastikan keselamatan kekal, selama orang Israel mematuhi Hukum yang Allah berikan.

Perbedaan besarnya dengan bangsa lain: walaupun bangsa lain memenuhi ritual hukum Taurat, jika mereka tidak menjadi Yahudi dan tidak disunat dengan cara Yahudi, maka tidak ada keselamatan. Bangsa lain, agama lain, sekalipun mereka melakukan hal-hal seperti yang dilakukan orang Yahudi, tetapi Perjanjian itu tidak berlaku. Mereka yang tidak disunat, tidak termasuk kewargaan Israel. Ibaratnya, Perjanjian adalah fasilitas yang disediakan sebuah Kerajaan bagi rakyatnya, jika seseorang bukan warga dari Kerajaan itu maka fasilitas tidak tersedia baginya, bukan? Warga Indonesia tidak bisa memperoleh apa yang menjadi hak warga Amerika, demikian pula sebaliknya. Perjanjian yang mengikat warga Indonesia dengan Negara Indonesia bersifat khas dan khusus. Begitu juga Perjanjian sebagai umat pilihan Allah.

Namun bahkan di dalam Perjanjian, manusia mati karena dosa-dosanya, dan oleh kasih karunia mendapatkan keselamatan melalui iman. Itu bukan hasil usaha manusia, tidak ada seorang pun yang dapat membanggakan diri. Jika Perjanjian Lama mensyaratkan adanya hubungan darah serta perilaku yang sesuai Hukum Allah, kenyataannya tidak ada perbuatan manusia yang cukup baik dan konsisten serta seluruhnya mengikuti Hukum -- malah sebaliknya, Hukum itu menyatakan bahwa manusia yang bersalah dan patut dihukum mati. Perjanjian Baru yang dibuat tidak mensyaratkan perilaku "mengikuti Hukum" untuk selamat, melainkan percaya kepada Kristus. Pekerjaan melakukan perbuatan baik sesuai dengan yang Allah persiapkan sebelumnya adalah respon, atau jawaban, atas keselamatan dan hidup baru yang Tuhan telah berikan.

Kalau perbuatan tidak lagi menjadi persyaratan, maka hubungan darah dan daging, yang mendefinisikan siapa yang melakukan, juga tidak lagi berlaku. Hal yang mempersatukan orang-orang adalah kepercayaan kepada Tuhan, sehingga kita dipersatukan dengan Abraham, Ishak, Yakub, orang Yahudi yang percaya, serta segala orang percaya lain di bumi, di segala abad dan tempat, oleh pengakuan iman yang sama. Ketika dipersatukan dalam iman, maka tidak ada lagi yang "jauh", karena darah Kristus telah membawa kita semua sama-sama ke dalam diri-Nya, bersatu pada-Nya sebagai anggota tubuh di mana Kristus adalah Kepala.

Sayangnya, orang masih melihat warna kulit, suku bangsa dan kebudayaan, serta golongan. Jika gereja dibuat mengikuti suku-suku untuk mempermudah dan menajamkan Injil serta pengajaran dan pertumbuhan jemaat, itu adalah hal baik. Tetapi ketika kita mulai melihat "gereja saya" lebih superior karena diisi oleh orang-orang dari suku tertentu, sedang orang lain adalah inferior -- itu adalah saat di mana kita harus mengingat bahwa tidak ada manusia yang lebih tinggi dibanding manusia lain di hadapan TUHAN. Tidak ada lagi yang jauh, tidak ada lagi yang lebih rendah, karena kita semua telah sama-sama menerima anugerah.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Sabtu, 15 Januari 2011

Renungan Sehari - 15 Januari 2011

Ef 2:10  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. 

"Untuk apa saya hidup dan beraktivitas di dunia?" adalah pertanyaan filosofis yang sudah kuno sekali. Ada yang menjawab, untuk bertahan hidup dan meneruskan manusia -- sama seperti segala mahluk lainnya yang ada dan beranak-pinak tanpa bertanya mengapa mereka ada. Namun kepada orang yang ingin mempersamakan manusia dengan segala mahluk lainnya, kita dengan cepat bisa menunjukkan bahwa manusia mampu berpikir dan bertanya seperti itu, artinya manusia berbeda dari mahluk lainnya -- dan menambah rumit pertanyaannya, "untuk apa saya, yang mampu berpikir dan bertanya seperti ini, hidup dan beraktivitas di dunia?"

Jawaban yang lebih cepat adalah untuk dapat menikmati hidup. Bukankah alam semesta ini ada untuk dinikmati? Tetapi, jawaban ini pun tidak bisa menjelaskan alasan keberadaan manusia, apalagi mengingat kenyataan bahwa di bawah kolong langit ini manusia adalah mahluk yang paling hebat merusak bumi beserta isinya. Ketika manusia mengejar kenikmatannya, tidak ada batasan untuk memuaskan hawa nafsu dan keserakahan. Mahluk lain yang memangsa mahluk hidup lain -- disebut karnivora -- membunuh dan memakan buruannya sampai habis, baru berburu lagi. Manusia membantai banyak sekali mahluk lain untuk diambil sebagian tubuhnya, kemudian membuang sisanya -- hanya untuk menikmati hidup. Jika alasan keberadaan adalah untuk memuaskan manusia, maka siapakah atau apakah manusia itu sehingga ada secara demikian? Tidakkah manusia menjadi sejenis kanker, penyimpangan alam, menjadi sel-sel ganas yang menghancurkan bumi beserta isinya?

Pemahaman tentang keberadaan manusia di bumi tidak dapat dipahami diluar dari hubungan manusia dengan Allah. Ketika manusia terputus dari Allah yang hidup, manusia mati -- dan apapun yang mati kehilangan makna, tidak lagi punya arti. Manusia berusaha mencari arti bagi dirinya sendiri, berjuang untuk meraih kekuasaan, berusaha keras untuk mempunyai pengaruh paling besar, paling hebat, paling dikagumi semua orang -- tetapi pada akhirnya semua itu di dalam realita tidak berarti baginya. Kekaguman orang lain tidak dapat mengubah hari-hari yang suram menjadi penuh sukacita, bukan?

Tahukah cerita tentang seorang raja yang memperhatikan rakyatnya? Ia dikagumi rakyatnya, semua tunduk memuji sang raja yang disebut bijaksana serta murah hati. Sang raja berpikir bahwa ia mempunyai hidup yang penuh arti, namanya akan terus dikenang orang sebagai raja yang penuh kharisma. Pada suatu hari, datanglah seorang pandai bijaksana dari seberang lautan, yang dijamu dengan mewah oleh raja yang ingin belajar sesuatu. Tentu saja, sang raja ingin memamerkan kemurahan hatinya dan puji-pujian yang diberikan oleh rakyatnya. Dalam pesta perjamuan itu, sang raja memanggil beberapa juru kebun istana, dimulai dari orang yang paling muda. Kepadanya raja mengucapkan terima kasih untuk kebun yang indah, lalu memberikan hadiah 100 keping uang perak. Langsung saja, tukang kebun yang masih muda itu mengucapkan banyak terima kasih dan menyembah sampai jidatnya menyentuh lantai.

"Nah, mereka memang benar-benar rakyat yang senang, bukan?" kata raja kepada orang pandai bijaksana. Datanglah tukang kebun yang kedua, raja mengucapkan terima kasih dan memberi hadiah yang sama, dan kembali memperoleh senyum lebar dan sembah sampai jidat menyentuh tanah. Tapi, si orang pandai bijaksana diam saja. Setelah beberapa saat, baru ia berkata-kata.

"Tuanku raja, bukankah masih ada seorang tukang kebun lagi, yang paling tua? Ia sudah tidak butuh 100 keping uang perak. Bagaimana kalau saya ambil 1 keping saja darinya?" tanya si pandai bijaksana. Raja pun mengangguk dan menyetujuinya. 99 keping uang perak masih banyak, bukan?

Tukang kebun yang paling tua datang, mendapatkan ucapan terima kasih dan hadiah dari raja, ia pun tersenyum lebar dan menyentuhkan jidatnya ke tanah. "Nah," kata si raja dengan puas, "diapun senang, bukan?"

Jadi, mereka memulai perjamuan makan itu sambil menikmati tari-tarian dan nyanyian dari istana raja. Di akhir acara, tiba-tiba datanglah tukang kebun yang paling tua. Kali ini, wajahnya tidak seceria sebelumnya. Ia sudah keriput, tetapi kerut-kerutnya nampak lebih jelas. Ia menyembah dari jauh, mohon untuk bicara kepada sang raja.

"Ya tuanku raja... mohon ampun, hamba memberanikan diri untuk bertanya. Mengapa hamba hanya menerima 99 keping uang perak, sedangkan semua orang yang lebih muda mendapatkan 100 keping?" -- tak urung, semua bisa mendengar nada menuduh dalam pertanyaannya. Ini adalah pengungkapan ketidakpuasan, perasaan mendapat ketidak-adilan. Bagaimana ini, raja telah bertindak tidak adil! Bukan raja yang baik seperti biasanya! Sang raja termenung mendengarkan pertanyaan ini, tak bisa menjawabnya. Orang pandai bijaksana itu memberikan sekeping uang perak kepada raja, "tuanku raja, rupanya kebaikan hati tuanku tidak lebih dari sekeping uang perak saja nilainya."

Manusia tidak dapat memperoleh jawaban atas arti hidupnya dari manusia lain. Seorang raja disukai atau ditakuti, bukan karena keberadaannya sebagai manusia melainkan karena kekuasaannya sebagai raja. Tetapi kedudukan raja itu tidak memberikan arti bagi hidupnya -- ia akan berakhir sama seperti manusia lainnya, mendapatkan kesenangan dan kesusahan sama seperti orang lainnya, hanya dalam bentuk yang berbeda. Orang-orang berusaha membuat perbedaan dengan memberikan penghormatan dan perlakuan yang berbeda, tetapi semua itu tidak mengubah apa yang dapat dinikmati oleh sang raja, lebih dari yang lainnya. Dan ketika sang raja tidak berhasil membuat senang semua orang, maka ada saja ketidakpuasan yang hadir, walaupun mungkin tidak dengan terang-terangan diungkapkan di hadapannya.

Keberadaan manusia hanya bisa dipahami melalui pengertian mendasar, bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan-Nya. Jawaban dari "Untuk apa saya hidup dan beraktivitas di dunia?" yang paling tepat adalah "memenuhi maksud Allah yang menciptakan." Ini adalah hakekat dasar dari penciptaan, yaitu sesuatu diciptakan dengan tujuan penciptanya, apapun itu. Dengan pemahaman ini, maka arti hidup seseorang dinilai dan diberikan oleh TUHAN, Allah semesta alam. Dalam pandangan-Nya dan penilaian-Nya, hidup bisa disebut "berarti" atau "tidak berarti". Dalam konteks penciptaan pula, kehidupan manusia bisa diumpamakan dengan tanah liat di tangan tukang periuk. Apa yang berarti dipelihara dan diolah sampai akhirnya menjadi sesuatu yang mempunyai nilai di mata si tukang periuk. Apa yang tidak berarti karena rusak, dihancurkannya, kemudian dibentuk ulang. Si tukang periuk mempunyai standar mengenai apa yang baik, yang berarti pada benda yang diciptakannya. Allah juga mempunyai standar mengenai apa yang baik pada manusia yang diciptakan-Nya.

Allah menciptakan kita di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Pahamilah: pekerjaan baik ini bukan untuk memperoleh keselamatan, atau untuk mendapatkan damai sejahtera dengan Allah. Itu semua sudah diberikan-Nya dalam Kristus Yesus sebagai kasih karunia. Pekerjaan baik ini dilakukan sebagai respon terhadap kasih karunia, suatu kehidupan yang dilakukan untuk memenuhi kehendak Allah yang menghidupkan. Dalam hal inipun berlaku kasih karunia: TUHAN sudah mempersiapkan pekerjaan baik untuk dilakukan umat-Nya.

Paling sedikit ada tiga hal yang Allah persiapkan untuk pekerjaan baik ini. Yang pertama-tama, Ia memberikan kesanggupan untuk bekerja bagi anak-anak-Nya. Tanpa kesanggupan, tidak ada yang dapat dikerjakan dari segala hal yang muncul dalam kehidupan manusia. Manusia diberi kemampuan untuk berpikir, merancang, dan menciptakan segala hal melalui teknologi dan rekayasa. Kemampuan itulah yang membedakan manusia dari mahluk lain di atas muka bumi ini.

Yang kedua, TUHAN memberikan peralatan dan kesempatan untuk melakukannya. Orang membutuhkan modal, mesin, dan material untuk bekerja. Orang perlu mengikuti metode dan membutuhkan manusia lain sebagai 'pengungkit' sehingga mampu mencapai apa yang tidak bisa diusahakan sendiri. TUHAN bukan hanya menyediakan bahan baku, Ia juga memberikan orang-orang, ide-ide, dan keterampilan untuk mengerjakannya.

Yang ketiga, TUHAN memberikan pembeli, memberi objek bagi anak-anak-Nya untuk bekerja. Ada ladang yang diberikan-Nya untuk dikerjakan, mulai dari disemai, dibersihkan, sampai dituai. Ada kesempatan-kesempatan untuk kita lakukan, di mana kita bisa membuat perbedaan, dan disanalah kehidupan kita jadi mempunyai arti.

TUHAN menginginkan agar kita hidup di dalam kehidupan yang diberikan-Nya, dalam pekerjaan yang telah dipersiapkan-Nya. Dia tidak memberikan hidup yang mudah atau gampangan, tapi pasti memberi hidup yang sungguh-sungguh bernilai. Panggilan-Nya adalah untuk hidup dalam jalan dan tujuan yang telah ditetapkan-Nya, jika saja kita mau hidup mengikuti kehendak TUHAN. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Jumat, 14 Januari 2011

Renungan Sehari - 14 Januari 2011

Ef 2:8-9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Paling enak menepuk dada sendiri. Manusia mempunyai kebutuhan untuk menyatakan dirinya sebagai orang yang berarti, mempunyai posisi dan pengaruh, serta berkuasa dalam suatu area di kehidupannya. Karena itu, ketika kita melihat sosok khayalan Tarzan yang menepuk dada sambil berteriak a-u-o, kita memahaminya dengan baik. Sekalipun kita tidak sebarbar Tarzan yang mengenakan cawat dan bergelantungan di pohon dalam rimba, namun kita mengerti maksud gerak geriknya -- bahkan menyukainya.

Beberapa orang lain tidak merasa cakap untuk menepuk dada sendiri, sehingga mengharapkan orang lain yang menepuk bahu mereka. Kebutuhan akan pengakuan diri tidak bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri, melainkan bergantung kepada respon dari orang lain -- biasanya karena mereka sejak kecil diajarkan untuk bersikap "rendah hati" dan jangan menonjolkan diri. Ajaran itu baik, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan yang manusiawi ini.

Mengapa orang menginginkan arti dalam hidupnya? Di satu sisi, ada kemampuan yang manusia bangun sejak masa kecilnya. Kita semua belajar merangkak, berjalan, dan berlari serta membangun kekuatan fisik. Kita belajar mengasah dan mengisi otak kita, dan perlahan-lahan kita menyadari bahwa kita mengerti dan bisa menyelesaikan berbagai tugas dari yang sederhana sampai yang rumit. Di sisi lain, kita belajar untuk menerima penghargaan atas keberhasilan-keberhasilan yang kita lakukan. Ketika kita berhasil berjalan, orang tua kita tertawa dan bertepuk tangan. Ketika kita menjadi juara kelas, orang tua kita begitu bangga dan mau membelikan hadiah yang kita sukai. Sebaliknya, jika kita cacat, atau gagal melakukan sesuatu, gagal mencapai sesuatu, kita merasa malu. Kalau keluarga kita tidak sebaik kelihatannya, kita merasa rendah diri.

Seringkali, kita berusaha untuk mencari pengalihan atas kegagalan kita. Kita menyalahkan orang lain, supaya kita sendiri nampak lebih baik. Ini adalah permainan orang yang kalah: upaya dilakukan bukan untuk jadi pemenang yang paling baik, melainkan agar jangan jadi yang paling buruk. Kesulitan hidup menjadi semakin berat ketika masalah datang bertubi-tubi, sampai akhirnya tidak ada lagi yang bisa kita tunjuk -- akhirnya sebagai orang yang kalah kita pergi dan menghilang dari komunitas lama, berupaya untuk "hidup baru" dalam komunitas yang baru, di mana pola yang sama berulang kembali.

Bagaimana dengan akhir dari hidup kita? Ketika permainannya adalah permainan orang kalah, yang mereka menghendaki agar kematian menjadi akhir final di mana semuanya berlalu, selesai, tidak ada lagi. Tetapi, siapa yang tidak dapat memahami bahwa alam semesta ini diciptakan, dan ada TUHAN Sang Pencipta yang tidakmemainkan permainan orang kalah? Sebaliknya, Tuhan menuntut pertanggung jawaban dari manusia yang pernah hidup di atas muka bumi. Kita dahulu telah mati, dan kemudian dibangkitkan kembali di dalam Kristus Yesus karena kita percaya pada-Nya. Orang-orang lain pun akan dibangkitkan, tetapi mereka harus berhadapan sendiri dengan TUHAN. Orang kalah harus menerima konsekuensinya -- kebinasaan.

Manusia berusaha dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri untuk menjadi cukup baik di hadapan TUHAN, melalui ritual dan aturan agama. Bukankah mereka mempercayai bahwa aturan agama diturunkan langsung dari TUHAN? Tetapi, karena orang menginginkan Tuhan menurut kepentingan mereka sendiri, maka mereka juga menuntut "keadilan" Tuhan menurut versi manusia. Banyak orang berpikir bisa "menyiasati" Tuhan dengan melakukan amal sedekah dan perbuatan "sosial" serta memberi persembahan, sambil tetap memelihara karakter yang buruk yang disukainya. Bukan perbuatan "buruk" saja yang menjatuhkan manusia, tapi juga banyak perbuatan "baik" menurut manusia sendiri. Entah bagaimana, banyak orang benar-benar berharap Tuhan mau menurunkan standar-Nya mengikuti standar manusia yang "masuk akal" tanpa benar-benar tahu kebenaran.

Begitulah, orang-orang mengusahakan keselamatannya, yaitu selamat dari hari di mana mereka harus bertanggung jawab kepada TUHAN. Orang mengusahakannya persis seperti segala sesuatu di atas muka bumi, yaitu kesuksesan tergantung pada diri kita sendiri. Lantas orang berpikir, kalau sekarang ini sukses membangun gedung tempat ibadah -- apapun namanya -- tentu itu suatu pahala yang diperhitungkan besar untuk keselamatan jiwa. Bisakah kita menganggap apa yang kita lakukan benar-benar berarti bagi TUHAN, tanpa mengetahui kebenaran dan apa yang dikehendaki-Nya?

Tidak ada orang yang dapat selamat oleh karena perbuatannya, karena setiap perbuatan adalah buah dari pikiran, dan setiap pikiran adalah buah dari pengetahuan yang baik dan jahat -- justru pengetahuan itulah yang mematikan umat manusia. Kemampuan untuk menentukan apa yang baik dan jahat, yaitu kemampuan yang mendefinisikan kemanusiaan -- itulah yang menjadi dosa asali manusia dan memisahkan dengan Tuhan.

Karena itu, keselamatan adalah kasih karunia dan oleh iman saja orang memperoleh keselamatan. Dalam segala hal yang dapat dipilih oleh manusia, dari semua hal yang dapat dikerjakan orang, beriman berarti memilih untuk tidak menentukan, berperilaku tidak berusaha sendiri. Maka, tidak ada satupun kemegahan manusia atas keselamatannya, karena dalam beriman ia mengaku bahwa segala sesuatu terjadi sebagai hasil karya Allah, pekerjaan Allah. Jika kita bisa mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan sesuatu, itu adalah anugerah bagi kita untuk boleh ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Sekali lagi, tidak ada kemegahan yang dapat kita terima. Kita tidak boleh menepuk dada. Kita tidak pantas menerima tepukan di bahu.

Kita tidak dapat melakukan sesuatu yang benar hanya berdasarkan apa yang baik dalam pikiran kita sendiri. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, untuk mengikuti-Nya kita harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya setiap hari. Kita juga tidak boleh mengharapkan tepukan bahu dari orang dekat, termasuk ayah, ibu, suami atau istri, atau mertua, atau atasan -- Yesus mengatakan, orang yang tidak membenci mereka, tidak layak mengikuti-Nya. Bukan benci dalam pengertian relasi, melainkan menempatkan "tepukan bahu" dari orang-orang yang kita cintai lebih dari persetujuan dari Tuhan.

Keselamatan kita peroleh karena dengan sadar kita paham bahwa kita sudah mati langkah, dan kini kita sepenuhnya bergantung, sepenuhnya mempercayai Yesus. Dalam hal ini tidak berlaku hukum tabur-tuai, seperti yang dipahami manusia berlaku dalam hal-hal lainnya. Kita tidak dapat menabur kebaikan, jika hal itu berasal dari diri kita sendiri, dan berharap bisa menuai keselamatan. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk memperoleh kasih karunia.

Sebaliknya, ketika kita telah memperoleh kasih karunia, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, banyak hal yang dapat ditabur untuk kelak dituai. Setelah kita diselamatkan, ada banyak aspek yang bisa disentuh dalam hidup, banyak pilihan untuk dilakukan. Jangan ada orang yang memegahkan diri; semuanya adalah pemberian Allah.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Kamis, 13 Januari 2011

Renungan Sehari - 13 Januari 2011

Ef 2:4-7 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan-- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. 

Pelanggaran karena tidak mengikuti standar Allah menjadi hal yang sewajarnya terjadi ketika manusia terputus hubungannya dengan Allah. Adalah suatu ketidakmungkinan yang mutlak untuk hidup mengikuti standar Allah, sementara Allah itu tersembunyi bagi umat manusia. Maka, satu-satunya kemungkinan adalah, Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya kepada manusia dan memberikan wahyu serta kuasa, yang menjelaskan standar-standar-Nya berupa hukum dan tuntutan serta etika bagi manusia yang mati. Masalahnya, manusia itu sendiri masih tetap mati karena menentukan sendiri apa yang baik dan buruk; dan masalah ini diperparah dengan adanya kuasa iblis yang jatuh ke dunia.

Karena manusia memilih sendiri apa yang baik dan buruk, akhirnya pencarian akan Tuhan diukur berdasarkan kebaikan dan keburukannya bagi manusia; cara-cara yang "ditemukan" serta "dibakukan" menjadi agama bagi manusia. Kalau manusia mengikuti agama, diyakini bahwa hidupnya di dunia akan menjadi "baik", sebaliknya hidup menjadi "buruk". Iblis berperan dengan membohongi orang tentang apa yang baik dan buruk itu -- memanfaatkan fakta bahwa orang tidak dapat berpikir panjang dan kompleks, banyak yang dikuasai oleh emosinya daripada pikirannya. Emosi tidak rasional, tidak mengingat masa lalu atau mempertimbangkan masa depan yang jauh, selain memenuhi rasa saat ini, suatu dorongan untuk bertindak sekarang juga. Iblis dengan mudah memenuhi emosi manusia, mendustai mereka dengan "keuntungan" yang segera dan nyata seperti kekayaan dan kekuasaan yang cepat. Dengan menyamar sebagai malaikat terang, iblis menampilkan dirinya sebagai allah dan menarik manusia untuk menyembahnya, serta menguasai mereka. Selama manusia mati, mustahil untuk mengikuti Allah yang hidup, sebaliknya iblis membunuh manusia dengan menarik kedalam kematian bersamanya.

Kasih TUHAN dan rahmat-Nya diberikan bersama dengan Kristus untuk mengatasi situasi yang mustahil ini. Kita dihidupkan bersama dengan Kristus, dipindahkan dari kematian menuju kehidupan -- artinya, kita dapat memilih untuk tidak menetapkan apa yang "baik" atau "jahat" menurut pikiran kita sendiri, karena kita mengikuti Kristus yang menunjukkan apa yang "baik" dan "jahat", apa yang benar, dan jalan yang harus dilalui. TUHAN bersedia menunjukkan kehendak-Nya kepada kita sekalipun dalam segala hal kita tidak layak di hadapan-Nya, karena Ia mengasihi kita. Kehidupan dalam Kristus menjadi suatu hidup yang terus menerus berupaya untuk selaras dengan Kristus, yang mensyaratkan Kristus bersedia menerima kita berada bersama-Nya. Merenungkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kasih karunia yang terbesar adalah kenyataan bahwa kita diterima-Nya untuk hidup bersama-Nya.

Untuk memahaminya, ingatlah pada kisah Musa. Saat itu situasi bagi orang Israel di Mesir adalah sebagai budak yang dibenci dan ditekan. Anak-anak ibrani dibunuh selagi masih kecil, dengan cara dibuang ke sungai, supaya jumlah mereka tidak bertambah banyak. Di bawah tekanan, banyak orang tua yang mengikuti apa yang "baik" sesuai maklumat Firaun, yaitu penguasa dunia, dan membunuh anak mereka demi sedikit kesejahteraan mereka sendiri. Bandingkan dengan orang-orang masa kini yang melakukan aborsi -- membunuh anak selagi di kandungan -- untuk sedikit kesejahteraan mereka sendiri. Tetapi kasih menyelamatkan Musa; pertama-tama, kasih dari orang tuanya membuat Musa tidak ditenggelamkan begitu saja, melainkan membuat peti pandan yang dilapisi ter dan diapungkan di sungai Nil. Kemudian, kasih dari Putri Firaun membuat Musa diangkat dari kematian menuju hidup sebagai bagian dari istana Firaun. Bagi Musa kehidupannya diterima sebagai kasih karunia dari orang-orang di sekitarnya, yang berasal dari Allah. Musa diterima oleh Allah bukan saja untuk hidup, tetapi juga untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir kelak -- 80 tahun kemudian sejak kasih karunia itu diterimanya.

Kita yang mendapatkan kasih karunia, dihidupkan bukan untuk tinggal di istana Firaun melainkan hidup di dalam Kristus Yesus. Kehidupan kekal yang sesungguhnya berarti terhubung dengan sumber kehidupan, yaitu TUHAN dan menyertai-Nya hingga dalam kekekalan. Kita memperoleh kehidupan kekal ini sejak Kristus membangkitkan kita, saat kita mengaku percaya dan dilahirkan kembali dalam roh. Kebangkitan TELAH diberikan, juga tempat kita di Sorga. Kita tidak perlu mencari-cari kehidupan atau kebangkitan dan hidup kekal -- semua itu telah kita terima. Tempat di Sorga adalah janji yang diberikan kepada orang-orang yang telah dibangkitkan -- saat itu kita dapat sepenuhnya memahami betapa kaya kasih karunia yang dilimpahkan TUHAN, sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.

Jika kita sungguh-sungguh memahami kekayaan kasih karunia TUHAN, kita bahagia dengan kemiskinan hidup kita di hadapan Allah, karena memiliki pengharapan yang pasti bahwa kita mempunyai Kerajaan Sorga. Kita tidak lagi perlu mencari TUHAN, dan ukurannya bukanlah soal hidup di dunia yang "baik" atau "buruk" bagi kita di dunia. Dalam hal ini, kekristenan berbeda dari agama, bahkan kekristenan bukanlah agama. Kekristenan adalah pengakuan dan penerimaan terhadap kasih karunia, sehingga apa yang mustahil dilakukan manusia telah dipenuhi oleh TUHAN, di mana manusia menempatkan diri untuk mengikuti-Nya -- sekalipun sebelumnya manusia telah mati oleh karena kesalahannya. Kasih karunia itu berlimpah-limpah, mengimbangi kenyataan bahwa kita sendiri, sebagai manusia yang masih berdaging dan dikuasai daging, masih melakukan kesalahan, yang kita sendiri tidak menginginkannya... tapi namanya orang masih hidup di bumi, dan masih bodoh juga... Memang, TUHAN sungguh baik!

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Rabu, 12 Januari 2011

Renungan Sehari - 12 Januari 2011

Ef 2:1-3 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

Kamu dahulu sudah mati. Sebenarnya kami dahulu juga sudah mati. Rasul Paulus mengatakan itu kepada jemaat di Efesus dan semua orang percaya yang turut mempelajari kata-kata yang diberikan melalui Roh -- juga menjadi kata-kata bagi kita sekarang, di sini, di segala abad dan tempat. Renungkanlah: bagaimana kita dapat memahami bahwa semua manusia sudah mati, termasuk orang-orang yang kita kenal selalu berbuat baik kepada sesamanya? Kita merasa heran karena seharusnya orang-orang baik itu selamat, meskipun mereka tidak percaya kepada Kristus, bukan? Kalau seseorang selalu mengasihi orang lain, selalu menyenangkan sesamanya dan diterima baik oleh masyarakat di sekitarnya, bukankah itu adalah pahala yang kelak akan diperhitungkan berikut segala amal perbuatannya?

Hal pertama mengenai dosa bukan menyangkut dari kualitas suatu perbuatan "baik" atau "buruk". Ketika manusia mati saat memakan buah pengetahuan baik dan jahat, mereka belum berbuat perbuatan "buruk" -- sebaliknya, Adam dan Hawa tiba-tiba menyadari bahwa mereka telanjang dan menjadi takut, katanya, "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Coba katakan, bukankah itu adalah hal yang baik? Telanjang itu MEMANG buruk, bukan? Sampai kita menganggap orang yang telanjang sambil berjalan-jalan di tempat terbuka adalah orang yang tidak sopan, atau orang gila. Anak-anak Tuhan yang sopan-sopan, harus berpakaian dengan baik, bukan?

Namun TUHAN memahami hal yang lebih penting dari kualitas suatu perbuatan sehingga bertanya, "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"

Tidak ada yang memberi tahu manusia bahwa mereka telanjang. Mereka mengatakan bahwa telanjang itu buruk berdasarkan pengetahuan mereka sendiri. Manusia menetapkan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk, sesuatu yang tadinya hanya ditetapkan oleh TUHAN, Allah semesta alam. Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."

Pelanggaran manusia bukan mengenai berbuat apa yang buruk, melainkan mengenai menentukan sendiri apa yang baik dan buruk. Ketika manusia melakukan sesuatu, mereka cenderung berpikir sendiri bahwa itu adalah hal yang "baik". Berapa sering perbuatan yang kita pikir "baik" ternyata mendatangkan malapetaka, berapa sering tindakan "kasih" yang dilakukan justru membawa bencana? Ketika orang berusaha keras untuk melakukan kebaikan, justru mereka melakukan kejahatan. Tragedi besar adalah bagaimana orang tua membesarkan anak-anaknya dengan hasrat dan niat yang kuat untuk menjadikan anak mereka "baik". Semakin besar mereka berusaha mengarahkan dan mengendalikan anak-anak mereka, bahkan dengan niat baik agar anak-anak selalu dalam Tuhan, menghasilkan anak-anak yang justru memberontak dan karakter yang buruk di sepanjang hidup mereka. Bapak teologia modern, Friedrich Schleiermacher (1768-1834) yang menyangkali kebenaran mutlak Firman Tuhan, terlahir dari keluarga gereja Moravian yang sangat mengutamakan kesalehan dan secara mutlak menekankan disiplin rohani. Schleiermacher saat kecilnya bersekolah di tempat yang menerapkan teologia Moravian, tetapi ketika besar ia justru meninggalkan praktek hidup suci (pietisme), sebaliknya merangkul rasionalisme yang dimulai Immanuel Kant dan filosofi Yunani kuno dari ajaran Plato dan Aristoteles.

Bagi orang tua Schleiermacher -- ayahnya adalah chaplain dalam ketentaraan Prussia di Gereja Reformed -- segala disiplin rohani bermaksud baik, tetapi hasilnya justru menumbuhkan keraguan dan pemberontakan. Bagi Schleiermacher, segala pemberontakannya bermaksud baik yaitu agar orang-orang menghargai pemikiran bebas dan nilai diri yang lebih tinggi, tetapi hasilnya adalah pengajaran yang menolak otoritas Allah, suatu sikap liberal atas kuasa ilahi -- itulah sebabnya maka teologianya disebut juga teologia liberal. Buah pemikiran dari Schleiermacher berkembang dan membawa banyak teolog liberal sampai awal abad ke-20, ketika Karl Barth menulis tafsir Roma dan mematahkan segala pengajaran teologia liberal, digantikan oleh teologia neo-orthodox -- yang sampai sekarang menjadi landasan dari banyak gereja 'modern' dan pandangan hidup post-modernisme. Dalam teologia yang serba relatif ini, tetap saja kemutlakan otoritas Allah diragukan, baik dalam kebenaran mutlak yang disampaikan Alkitab maupun kemutlakan keselamatan hanya melalui Tuhan Yesus Kristus.

Dalam semua rangkaian peristiwa ini, tidak ada satu perbuatan mereka yang dapat dikatakan buruk, tidak terhormat, atau menyimpang. Teolog-teolog besar seperti Karl Barth dan Friedrich Schleiermacher adalah orang yang patut dihormati dan dikagumi, dalam ketekunannya, dalam kegigihannya, dan dalam kerendah-hatiannya. Dalam banyak hal, keseriusan mereka untuk menunjukkan "kebenaran" tidak dapat ditandingi oleh teolog lain jaman sekarang. Siapa yang mampu menulis analisa yang begitu kuat dan mendalam seperti Karl Barth dalam bukunya, "Church Dogmatics" yang terdiri dari 13 volume, dan disebut magnum opus oleh para teolog sedunia?

Tetapi, ketika orang tidak mengikuti dengan tepat apa yang Tuhan tetapkan sebagai "baik" atau "buruk", ia melanggar, ia berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Kita semua sudah mati di dalam pelanggaran dan dosa-dosa kita -- saat kita berbuat "buruk" maupun saat kita berbuat "baik" dalam pandangan kita sendiri. Kita tidak mengikuti apa yang menjadi pemikiran Allah, melainkan memikirkan apa yang diarahkan oleh penguasa kerajaan angkasa, yang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.

Menarik untuk merenungkan istilah yang digunakan Rasul Paulus: "kerajaan angkasa", dalam bahasa aslinya "exousias tou haesos" atau "kekuatan angin". Ini adalah kekuatan yang tidak nampak, seperti angin yang berhembus, yang bisa dirasakan namun tidak terlihat. Kekuatan ini mampu menghancurkan, tetapi tidak ada yang bisa memahami dengan persis bagaimana mulanya -- bahkan sampai sekarang pun orang-orang berusaha keras untuk mengerti bagaimana angin topan terjadi. Angin membawa rasa senang dan malas, angin juga membawa kemusnahan yang mengerikan. Angin mendatangkan keuntungan, tetapi kemudian menghancurkan.

Kekuatan dari hawa nafsu manusia bersifat seperti angin -- tidak nampak mulainya, tetapi nyata akibatnya. Dalam satu sisi kita membutuhkannya, seperti nafsu makan, atau hasrat untuk membuat keturunan. Kita memiliki hasrat untuk berkembang, dan di dalamnya ada pemahaman bahwa diri kita ini baik, positif, dan mempunyai kehendak bebas. Bukankah itu yang membuat kita menjadi manusia -- sekalipun adalah manusia berdosa? Tetapi semua hasrat ini membawa bencana -- hasrat berkembang yang positif dan nilai diri yang tinggi membuat bangsa Jerman mengobarkan perang dunia yang mengerikan.

Mereka yang tidak berada dalam Tuhan, melakukan pelanggaran bukan karena memilih yang buruk dari yang baik, melainkan karena membuat pilihannya sendiri. Tetapi, kini manusia telah memakan buah itu, telah membuat sendiri pilihan yang baik dan buruk. Tuhan tidak mengubah keadaan itu, sekalipun kita telah diselamatkan-Nya. TUHAN memberikan kehidupan yang baru -- dan dari puing-puing, Ia menghidupkan kita kembali... (bersambung)

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Selasa, 11 Januari 2011

Renungan Sehari - 11 Januari 2011

Ef 1:22-23 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Pertanyaan 'nakal' dari theophany -- arti harafiahnya "penampilan Tuhan" adalah, jika Allah benar-benar mahakuasa dan mengasihi, mengapa ada kejahatan di dalam dunia? Mengapa umat manusia masih mengalami penderitaan oleh ketidakadilan, seolah-olah mereka berada dalam suatu dunia yang sepenuhnya tidak terkendali, tidak ada Tuhan di dalamnya? Benarkah Allah masih berdaulat atas dunia serta segala isinya, atau Dia telah meninggalkan bumi ini, setelah kejatuhan manusia dalam dosa?

Tentu saja, orang yang bertanya demikian mengasumsikan bahwa semua orang baik, atau setidaknya mempunyai suatu bagian yang baik, dan Tuhan seharusnya mengasihi semua orang. Asumsi ini harus dibuat karena orang ingin mempercayai bahwa semua orang setara dan mempunyai nilai yang sama, sehingga mempunyai hak yang sama dan harus diperlakukan setara. Asumsi ini harus diterima, karena jika tidak maka manusia terpaksa membenarkan adanya perendahan satu orang terhadap orang lainnya, yang satu bisa memperbudak yang lain -- itulah yang telah terjadi selama berabad-abad. Tidak bisa tidak, kita harus mengasumsikan semua orang setara di mata Allah... begitulah yang menjadi dasar dari aliran universalisme dalam teologia. Keyakinan universalisme adalah bahwa semua jiwa pada akhirnya akan diselamatkan, jadi tidak ada seorangpun yang masuk neraka -- apapun kepercayaannya. Karena semua selamat oleh satu Tuhan yang sama, maka pastilah semua agama menyembah Allah yang sama -- jadi semua kepercayaan dan agama juga bisa menyelamatkan, hanya saja Allah hadir dengan bentuk-bentukyang berbeda-beda. Itu, disebut pluralisme.

Apapun juga keyakinan orang, kenyataannya masih ada kejahatan di dalam dunia. Asumsi bahwa semua orang adalah "baik", dipatahkan oleh kenyataan ada perang di dunia akibat manusia, ada penyakit dan bencana alam akibat manusia, dan segala hal yang menimbulkan pertanyaan: apakah memang masih ada Tuhan? Kepahitan itu begitu buruk, sampai banyak orang tidak lagi mengakui Tuhan dan menjadi atheist -- kita menemukan banyak atheist di masyarakat Barat saat ini. Betapa menyedihkan!

Satu fakta yang sering dilupakan adalah, bahwa sejak jaman Rasul Paulus pun kejahatan sudah merajalela di atas muka bumi. Pernyataan yang paling jelas adalah bahwa semua orang sudah berbuat berdosa, sudah kehilangan kemuliaan Allah. Memang ada kesetaraan dan kesamaan di antara seluruh umat manusia, yaitu semua sama-sama harus binasa dan membawa kebinasaan satu kepada yang lainnya. Semua orang mempunyai nilai yang sama, yaitu membawa dosa asali pada dirinya. Nilai yang ada pada manusia hidup sama dengan nilai yang ada pada manusia yang mati, suatu kesia-siaan. Itulah yang ditemukan oleh Raja Salomo yang penuh hikmat, suatu kepahitan ketika menyadari semua hal yang dikerjakan manusia di bawah matahari adalah sia-sia.

Kepada dunia yang buruk seperti ini, Tuhan mengangkat anak-anak-Nya, sesuai pilihan-Nya. Kasih mensyaratkan pilihan -- Tuhan tidak mengasihi semua orang, atau memilih semua orang, melainkan menetapkan orang-orang untuk selamat. Di dalam penetapan ini, ada penegasan bahwa TUHAN tetap berada di atas segala sesuatu karena pilihan hanya terjadi jika seluruh obyek -- yaitu seluruh bumi dan isinya -- tersedia bagi-Nya. TUHAN tidak memilih karena terpaksa, atau karena kebetulan orang-orang ini telah mendengar Kabar Baik dan mau mempercayai-Nya. Sebaliknya! Hanya setelah TUHAN menetapkan orang untuk menjadi milik-Nya, baru orang itu mampu mempercayai-Nya. Orang-orang yang dimiliki-Nya memperoleh kemuliaan dari panggilan serta kuasa yang menyertainya -- itu adalah suatu keadaan yang lebih tinggi, sebuah hak dan kewajiban yang istimewa, karena mereka berada dalam Kristus yang juga istimewa, duduk di sebelah kananTahta  Allah!

Keistimewaan itu bermakna di dalam panggilan Allah, bukan untuk merendahkan orang-orang lain atau memperbudak sesama, sebaliknya suatu hak dan kuasa untuk membawa kehadiran Tuhan di atas muka bumi, membangun Kerajaan Allah dengan kebenaran dan di dalam roh. Sekali lagi, di sini ada penegasan Kristus tetap berada di atas segala sesuatu, karena umat-Nya masih hidup dan bekerja di dalam dunia ini. Segala sesuatu telah diletakkan dibawah kaki Kristus; Dia dapat melangkah kemana saja sesuai dikehendaki-Nya, sambil membawa kita di dalam-Nya untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Lalu, mengapa kejahatan masih ada di dalam dunia? Hal itu terjadi karena memang seluruh dunia telah mati dan terpisah dari Allah. Jika orang berpikir, "mengapa TUHAN tidak menghilangkan kejahatan dari dunia?" mereka harus siap untuk mengerti bahwa menghilangkan kejahatan dari dunia berarti menghancurkan bumi ini. Orang yang menginginkan kejahatan lenyap, harus siap untuk turut dibinasakan karena ia sendiri menjadi bagian dari kejahatan -- itulah arti dari "semua manusia telah berbuat dosa."

Tuhan tidak mengambil jalan penghancuran seperti itu karena kasih-Nya, melainkan mengerjakan keselamatan bagian demi bagian melalui orang-orang percaya. Sejak Gereja berdiri, perubahan telah terjadi di atas bumi, di dalam sejarah, dan membawa kesejahteraan yang lebih besar bagi umat manusia. Anak-anak Tuhan telah membuat sekolah-sekolah, rumah sakit, sistem keuangan, sistem pemerintahan, serta sistem keadilan yang lebih baik bagi manusia. Di mana ada orang-orang yang takut akan TUHAN, di sana terjadi perubahan positif. Ketika orang jauh dari TUHAN, terjadi korupsi dan pembusukan -- tetapi kemudian pembaharuan terjadi kembali melalui orang-orang percaya yang berupaya keras tanpa pamrih, yang memperoleh kuasa untuk melakukan hal-hal yang tak terpikirkan oleh orang-orang lainnya.

Jemaat adalah tubuh dan Kristus adalah Kepala dari segala yang ada. Selama orang tetap setia sebagai bagian yang taat pada Kristus, ia terus melakukan pekerjaan-Nya -- dan betapa banyak orang-orang yang menjadi anggota tubuh-Nya -- memenuhi segala sesuatu di seluruh dunia. Pada akhirnya, setiap orang yang menjadi tubuh-Nya juga mendapatkan kemuliaan-Nya, serta memperoleh bagian yang telah dijanjikan TUHAN. Itulah kemuliaan yang sempurna dan mengatasi segala sesuatu, ketika tiba saat Kristus menyatakan kuasa-Nya saat Ia datang kembali ke dunia -- membawa bumi dan langit yang baru, di mana manusia yang dipilih-Nya kembali hidup berdampingan dengan TUHAN.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Senin, 10 Januari 2011

Renungan Sehari - 10 Januari 2011

Ef 1:18-21 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.

Di dalam TUHAN, ada kehidupan yang berbeda. Namun perbedaan itu tidak dapat segera dipahami oleh manusia, sekalipun mereka telah mengaku percaya dan menjadi anak-anak Tuhan. Orang harus belajar untuk melihat melampaui apa yang terlihat, memandang ke kedalaman, melihat dengan hati, bukan hanya mata jasmani. Mata jasmani kita mempunyai tuntutan keinginannya: ingin melihat tempat yang indah, orang yang cantik atau tampan, benda-benda yang mempesona, dan jaman sekarang juga ingin menyaksikan video yang menyenangkan dan menggugah pikiran untuk tertawa, terharu, atau tegang. Seluruhnya adalah rangkaian gambar dan suara yang ada dan ditimbulkan, membuat ilusi yang memuaskan hasrat serta emosi -- tapi bukan kehidupan manusia itu sendiri.

Kehidupan manusia dibentuk oleh pengharapan yang ada di dalamnya, yang dijaman sekarang disebut sebagai "impian". Sebuah mimpi, angan-angan, tetap hanya sebagai bayangan yang tidak bermakna jika orang tidak memiliki pengharapan untuk mencapai hal ini. Misalnya saja begini: ketika kita berjalan-jalan di mall, mungkin kita bisa melihat ada mobil baru dan mewah dipajang di atriumnya. Kita bisa mengambil brosur dan berangan-angan untuk mengendarai mobil ini, rasanya enak juga, dan sampai kita senyum sendiri. Namun mungkin saat itu kita mengingat posisi keuangan kita, sehingga tidak ada sedikitpun pengharapan untuk memperolehnya, baik dalam waktu dekat maupun kelak di masa depan. Maka, kita berlalu meninggalkan atrium dan sesaat kemudian mobil itu menghilang dari benak kita, seperti mimpi yang hilang saat orang terbangun dari tidurnya.

Tetapi akan lain jika kita mempunyai pengharapan untuk memperoleh mobil itu, karena kondisi keuangan telah memungkinkan untuk memilikinya. Kita bisa mengusahakannya; tiba-tiba saja mobil itu teringat terus, dan kita mulai menyusun rencana. Pikiran itu mulai mengubah hidup kita, dengan membersihkan garasi agar ukurannya menjadi lebih luas untuk menampung mobil yang lebih besar. Belanja yang boros segera dikekang, diganti dengan pengeluaran yang lebih hemat untuk bersiap-siap membayar cicilannya. Nomor telepon petugas pemasarannya disimpan di hp, supaya bisa dihubungi untuk ditanya mengenai variasi aksesoris dan harga diskon... dan seterusnya. Demikianlah pengharapan membentuk kehidupan kita.

Dunia menawarkan banyak gambar dan video, serta setumpuk penawaran, namun tidak dapat memberikan pengharapan. Ketika orang hidup dalam Tuhan, di sana ada pengharapan yang hebat, yang besar -- yang tidak bisa dipahami melalui gambar dan video dan pandangan mata jasmani belaka. Kita perlu berdoa supaya hati menjadi terang untuk mengerti pengharapan -- ini bukan hal yang emosional dan sekejap, bukan hasrat atau nafsu, melainkan melalui hikmat memahami panggilan Tuhan.

Panggilan Tuhan memberikan kemuliaan yang luar biasa sebagaimana yang telah ditentukan bagi orang-orang kudus. Seluruhnya merupakan suatu kekayaan, yang dapat dipahami dalam tiga makna.

Pertama, kekayaan bermakna kepemilikan -- jika orang itu kaya berarti dia memiliki, karena tidak ada orang yang kaya oleh milik orang lain. Kemuliaan sebagai orang yang dipanggil oleh Tuhan menjadi miliknya sendiri.

Yang kedua, kekayaan bermakna nilai yang tinggi, sehingga ia sanggup membayar apa yang harus dibayarnya, memenuhi apa yang harus dipenuhinya, dan memperoleh apa yang diinginkan hatinya. Ketika seseorang memperoleh kemuliaan panggilan Tuhan, ia juga mendapatkan nilai yang tinggi, sehingga sanggup memenuhi panggilan Tuhan serta bertanggung jawab atas panggilan itu.

Yang ketiga, kekayaan bermakna kesanggupan untuk memberi kepada orang lain, karena kekayaan tidak diukur dari seberapa besar orang memiliki melainkan seberapa banyak orang sanggup memberi. Kekayaan serupa dengan keindahan, yang hanya bermakna ketika dapat dinikmati juga oleh orang-orang lain. Kemuliaan dari suatu panggilan bermakna ketika dibagikan sebagai berkat, sehingga orang-orang lain memuji Tuhan dan memperoleh panggilannya masing-masing.

Kemuliaan yang diberikan panggilan ini hanya dapat dipahami ketika orang mempercayai Tuhan dan kemuliaan-Nya, karena ukuran yang diberikan oleh dunia berbeda dengan ukuran Tuhan. Dunia tidak memandang Tuhan Yesus Kristus sebagai seorang yang mulia, karena Yesus saat itu bukan seorang raja. Ketika Ia memberi makan kepada ribuan orang, mereka mencari-Nya untuk dijadikan sebagai raja -- padahal saat itu Yesus Kristus jauh lebih mulia daripada segala raja yang ada, karena Dia adalah Raja dari segala raja! Tetapi orang-orang saat itu tidak mampu memandang kemuliaan-Nya, serta berusaha menurunkan-Nya dengan menjadikan Ia raja seperti yang dimengerti oleh mata dan pikiran mereka tentang raja. Siapa Yesus sebenarnya, tidak mampu mereka lihat. Banyak orang juga masih tidak mampu melihat kemuliaan anak-anak Tuhan, yaitu orang-orang kudus.

Sementara kemuliaan mendefinisikan siapa orang-orang kudus, kuasa yang menyertai anak-anak Tuhan mendefinisikan apa yang sanggup mereka lakukan. Bagi orang percaya ada kuasa yang hebat yang berasal dari TUHAN, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya. Ada kemampuan yang lebih besar, bahkan yang ajaib, bisa dilakukan oleh orang percaya ketika mereka percaya. Ingatkah kita akan pengalaman Petrus, saat ia berjalan di atas air menghampiri Yesus? Itu adalah kuasa yang tak terbayangkan, tak terpikirkan, sehingga sampai sekarang pun ada orang-orang yang tidak dapat mempercayainya.

Masalahnya, orang membatasi apa yang mungkin dan tidak mungkin berdasarkan apa yang dapat dipahami dan masuk akalnya. Betapa terbatasnya akal manusia! Tetapi, orang merasa sudah menyelidiki alam semesta dan mengetahui hukum alam cukup banyak untuk menjelaskan segala sesuatu. Jadi, ketika ada yang tidak dapat dijelaskan menurut akal, hal itu dianggap sebagai ilusi, seperti sulap. Bukankah ada tukang sulap yang bisa berjalan di atas air? Demikianlah orang yang tidak percaya menyikapi kuasa Tuhan.

Tetapi, Petrus tidak bermain sulap ketika berjalan di atas air: itu adalah karena ia percaya. Ketika kepercayaannya kepada Kristus hilang oleh karena ancaman yang dilihatnya, Petrus tenggelam -- dan sekalipun ia adalah nelayan yang sudah biasa berenang, Petrus sangat ketakutan dan berteriak, "Tuhan tolonglah aku!" Kepercayaan yang hilang mengambil semuanya, termasuk kemampuan yang sudah ada sebelumnya, karena pada dasarnya manusia tahu bahwa ia tidak tahu. Di saat Petrus memikirkan tentang betapa dahsyatnya ancaman, dan betapa ia tidak tahu bagaimana mampu bertahan melawan ancaman itu, ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan selain berseru minta tolong.

Kuasa untuk melakukan sesuatu berkaitan dengan panggilan, seiring dengan kemuliaan yang menyertai panggilan itu. Orang tidak bisa "mengetes" kuasa, karena dengan demikian ia bimbang atas kemuliaan yang diterimanya. Ketika Petrus mendapatkan panggilan Tuhan untuk datang pada-Nya, kemuliaan dari panggilan itu menentukan siapa diri Petrus dan ia bisa berjalan di atas air karena menjawab panggilan Kristus. Selama ia tetap memegang kemuliaan Kristus, Petrus tidak perlu "mengetes" kuasa yang menyertainya. Saat pikirannya teralih untuk menguji kuasa yang ada, ia melepaskan kemuliaan Kristus karena ujian merupakan perwujudan dari ketidak-percayaan, serta merendahkan nilai. Saat itu juga kuasa itu hilang, dan Petrus tenggelam.

Kalau orang Kristen bertanya-tanya tentang kuasa Tuhan dan "mencoba" apakah memang ada kuasa Tuhan, ia kehilangan kemuliaan panggilan Tuhan -- karena tidak pernah panggilan Tuhan diberikan untuk menguji kuasa-Nya. Tuhan tahu betul kuasa-Nya sendiri, tahu betul tentang apa yang telah diberikan-Nya bagi umat-Nya. Bahkan lebih dari itu, Ia tahu betul mengenai apa yang telah dikerjakan-Nya dalam Kristus -- karena di sanalah ada demonstrasi kuasa yang sesungguhnya.

Kuasa terbesar bukanlah kuasa untuk dunia, memperoleh barang-barang di dunia atau jabatan di dunia atau mengubah dunia menjadi tempat yang diinginkan manusia. Kuasa terbesar adalah kuasa untuk hidup dalam kekekalan, di luar dari dunia yang akan binasa ini. TUHAN telah mengerjakan kuasa-Nya yang terbesar dengan membangkitkan Kristus, dan dengan demikian membuka jalan rangkaian kebangkitan orang-orang percaya. Kuasa terbesar tidak berhenti hanya pada kebangkitan, melainkan juga pada posisi yang ditegaskan bagi Kristus, yaitu duduk di sebelah kanan TUHAN di Sorga.

Kita harus berusaha mengerti bahwa kehebatannya terletak pada fakta bahwa kita berada di dalam Kristus. Di dalam Kristus ada rencana kerelaan TUHAN. Di dalam Kristus ada bagian yang dijanjikan. Di dalam Kristus kita mendengar Firman Kebenaran, yaitu Injil yang menyelamatkan. Di dalam Kristus kita memperoleh Roh Kudus, yang membuat kita berada di dalam-Nya. Ketika Kristus berada di sebelah kanan Allah, maka kita yang berada di dalam-Nya pun berada di sana. Pernahkah kita membayangkannya? Tuhan Yesus Kristus jauh lebih besar daripada segala yang pernah atau dapat disebut sebagai penguasa, baik di dunia ini maupun dunia yang akan datang. Orang-orang percaya berada di dalam Dia yang terbesar di dalam kekekalan, sejak awal sampai akhirnya!

Kuasa Tuhan yang menyertai orang percaya merefleksikan posisi Kristus dan kemuliaan-Nya. Pertanyaannya: apakah kita mempercayai kuasa-Nya? Atau, kita masih merasa heran dan takjub pada kuasa itu, menyebutnya sebagai "ajaib" karena kita terus menerus tidak mempercayainya sampai Tuhan membuktikan kuasa-Nya dalam hidup kita!

Jika hati kita diterangi, maka kita mengerti kemuliaan yang menyertai panggilan Tuhan, dan dengan sewajarnya memahami kuasa yang besar yang menyertai. Kita tidak perlu mencarinya, memintanya, atau mengujinya -- karena kuasa Tuhan selalu ada di sana. Ketika kita percaya dan memuliakan Tuhan, kebesaran-Nya adalah hal yang sewajarnya dan tidak perlu diragukan. Kuasa-Nya selalu hadir, sekalipun hal itu tidak dapat kita rasakan, tidak terlihat oleh mata atau terdengar oleh telinga jasmaniah kita. Bagaimana mungkin kita masih merasa heran atas kuasa Tuhan? Bagi-Nya segala sesuatu mungkin!

Yang sesungguhnya menjadi urusan kita adalah memenuhi panggilan Tuhan, karena dalam hal ini diri kitalah yang perlu diragukan. Sekalipun kuasa itu ada pada kita, bukankah kita sendiri yang memilih untuk merasa lemah dan tidak percaya diri dan menjadi malas? Tuhan tidak perlu diragukan, kemanusiaanlah yang harus diragukan. Jika kita tidak lagi mengikuti panggilan itu, tentunya kita kehilangan kemuliaan panggilan-Nya -- dan juga kuasa yang menyertainya. Hiduplah menurut panggilan Tuhan, di sanalah kita tinggal bersama-sama dengan-Nya. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny