Jumat, 31 Desember 2010
Renungan Sehari - 1 Januari 2011
Kamis, 29 Juli 2010
Paskah & Tulah
Kel 12:26-27 Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.
Rumah adalah keluarga, tempat kehidupan timbul dan bertumbuh. Rumah-rumah orang Israel, demikian juga rumah-rumah orang yang percaya kepada TUHAN, Allah semesta alam, adalah rumah yang berbeda dibandingkan dengan rumah lainnya. Bukan manusia yang membuat perbedaan itu, melainkan karena TUHAN yang menyatakan diri-Nya, dengan jelas memberi keselamatan pada rumah anak-anak-Nya sementara Ia menulahi rumah orang-orang fasik, tempat kediaman orang Mesir.
Setiap keluarga Israel harus mengingat hal ini, bahkan menjadi ibadah yang diteruskan turun temurun: bahwa Allah membedakan umat-Nya dari dunia. Peringatan ini ditunjukkan dalam korban Paskah, ketika Anak Domba mati bagi rumah-rumah Israel sedangkan di seluruh rumah lainnya di Mesir ada kematian anak sulung. Bagi orang Israel, anak domba berasal dari kawanan ternaknya, namun bagi pengikut Kristus, Sang Anak Domba adalah Tuhan Yesus Kristus. Namun hakekatnya ada keserupaan: di dalam pengorbanan, ada keselamatan yang diberikan dan ada perbedaan yang dinyatakan.
Jika kita berada di sebuah rumah di Mesir pada waktu itu, di mana kita hidup dengan cinta yang besar kepada pasangan, kepada anak-anak, dan juga seisi rumah lainnya – tidakkah kita mengharapkan keselamatan hadir di dalam rumah kita? Bagi kita ada dua pilihan: menjadi rumah umat Tuhan atau menjadi rumah Firaun, sang penguasa dunia. Anak-anak kita bertanya, "buat apa merayakan Paskah?" dan kita menjawab bahwa inilah bukti yang paling kuat dan keras dan mengguncangkan bahwa rumah kita berbeda dari rumah lain di dunia.
Mencintai bukan sekedar bersenang-senang, tetapi di dalamnya juga ada kehidupan dan pertumbuhan serta perlindungan. Mencintai adalah suatu komitmen dan pengorbanan, bahkan di saat kegelapan dan tekanan, di antara amarah Firaun dan kegemparan karena tulah yang menghajar dunia. Perhatikanlah: bukankah dunia kita sekarang ini juga mengalami tulah? Bertahanlah, bertekunlah, dan ingatlah bahwa TUHAN membedakan rumah kita, keluarga kita.
Terpujilah TUHAN!
Rabu, 19 Mei 2010
Onan
Kej 38:9-10 Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.
Di hari-hari jaman modern seperti sekarang, banyak orang menghubungkan cinta dengan hubungan badani antara dua orang – seharusnya laki-laki dan perempuan, walau penyimpangan masih ada juga di mana-mana. Cinta menjadi sama dengan keintiman, sampai disebutkan dengan istilah "Making Love" disingkat ML alias bercinta. Tetapi, sungguhkah ada cinta di sana? Benarkah ada sesuatu yang harus 'ada dalam hati' ketika dua orang sama-sama melakukan persetubuhan? Nampaknya, kita perlu belajar dari apa yang terjadi, suatu tragedi yang mengenaskan.
Ini adalah tragedi pada keturunan Yehuda. Ia mempunyai anak yang jahat, bernama Er yang dinikahkan dengan Tamar. Karena Er jahat, maka ia mati. Menurut pemikiran orang-orang saat itu, Onan adik Er harus meneruskan keturunan kakaknya dengan menghamili iparnya, Tamar. Maka demikianlah terjadi: Onan menghampiri isteri kakaknya itu. Mereka berhubungan badan, tetapi Onan tidak membiarkan Tamar hamil dengan cara membiarkan maninya terbuang. Lihatlah: mereka berhubungan badan, tetapi tidak ada cinta di sana. Tidak ada cinta kepada kakaknya yang telah meninggal. Juga tidak ada cinta kepada iparnya yang menantikan keturunan. Onan pun harus mati karena perbuatannya yang jahat di mata TUHAN.
Cinta kasih yang sejati menginginkan pertumbuhan, hingga membawa keturunan. Demikianlah manusia diciptakan oleh TUHAN untuk memenuhi bumi, karena cinta yang timbul antara laki-laki dan perempuan. Namun, cinta juga mendefinisikan hubungan-hubungan dalam keluarga, antar keluarga, hingga ke dalam masyarakat. Renungkanlah: bukankah masyarakat berubah karena hubungan cinta – atau sebaliknya, karena ketiadaan cinta? Kejahatan Onan bukan sekedar karena maninya terbuang, melainkan karena keangkuhan dan keegoisan yang ada dalam dirinya.
Perilaku itu menjadi corak beberapa masyarakat modern, dan kita lihat betapa orang-orang menginginkan hubungan badan tanpa menjadi anak. Mereka menginginkannya tak lebih dari sekedar rekreasi, hanya untuk bersenang-senang – sehingga dengan sengaja membiarkan mani terbuang. Lihatlah apa yang terjadi: populasi bangsa menyusut, dan akhirnya menjadi masalah sosial karena banyaknya kaum migran yang memenuhi Eropa dan berbagai tempat di Barat. Itu adalah suatu kejahatan; mereka yang berbuat juga harus menanggung akibatnya, sebagai suatu bangsa, sebagai suatu negara.
Jangan remehkan cinta kasih, dan jangan berbuat dosa. Terpujilah TUHAN!
Kerja Demi Cinta
Kej 29:20 Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.
Seperti apa cinta yang sebenarnya? Para pria muda di jaman sekarang mendandani dirinya dengan berbagai-bagai penampilan; tidak sedikit yang membentuk tubuh yang atletis, pakaian yang perlente, dan rambut yang mengkilap. Para gadis berbisik-bisik tentang sosok yang gagah dan ganteng, dalam khayalan yang manis serta hati berbunga-bunga mendengarkan si dia berbicara. Mereka bertemu, berkasih-kasihan, dan tidak dapat lagi dipisahkan, karena sudah jatuh cinta dan dimabuk asmara.
Tetapi, siapa yang benar-benar mencintai harus membayar harganya, dan di sanalah ada ujian yang sesungguhnya. Bayangkan apa yang terjadi bila kita menjadi Yakub: ia bekerja tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel, kekasihnya. Kalau dipikir, tugas yang berpanas lelah menggembalakan kambing domba, menjagainya, merawat binatang sepanjang hari – 24 jam – selama 7 TAHUN bukanlah hal yang ringan. Tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cinta. Apakah kita benar-benar bisa melakukan apa yang Yakub perbuat? Apakah kita benar-benar mencintai, sehingga bersedia membayar dengan seluruh kehidupan kita selama 7 tahun?
Ada orang yang berkata mencinta, tetapi ketika ia harus sedikit berjerih lelah, langsung mundur teratur. Ada yang berkasih-kasihan tetapi hanya dalam konteks bersenang-senang, sehingga ketika disuruh membangun diri agar menjadi lebih bertanggung jawab langsung berhenti berpacaran. Ia tidak bersedia membayar harganya hari ini untuk calon istri yang (katanya) dicintai. Padahal, ketika seorang laki-laki menyatakan diri menjadi suami, ia juga harus meletakkan dirinya sebagai tumpuan keluarga – sesuatu yang harus ditanggungnya sampai kematian datang menjemput kelak.
Tidak ada hal yang berharga, yang diperoleh dengan begitu saja tanpa membayar harga. Jika sungguh-sungguh mencintai, maka segala hal yang lainnya tidaklah terlalu mahal untuk dikerjakan. Tidak ada gengsi – sekalipun bagi Yakub yang semula menjadi anak Ishak yang kaya raya dan biasa hidup dilayani. Jika kita menjadi Rahel, betapa hati kita diserahkan dengan segenap jiwa raga bagi orang yang mencintai kita begitu rupa! Rahel juga harus menunggu, bahkan ia menanti dengan tekun karena Yakub harus bekerja bukan cuma 7 tahun, tetapi 14 tahun untuk mendapatkannya. Penantian yang mengukuhkan cinta mereka – atas kerja demi cinta yang diberikan Yakub baginya.
Ketika cinta itu sudah dibayar mahal, maka yang didapatkannya adalah kemurnian yang indah. Terpujilah TUHAN!
Senin, 26 April 2010
Cinta Pada Pendengaran Pertama
Kej 24:66-67 Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.
Memang Ribka cantik. Kecantikan itu begitu jelas, begitu nyata, sehingga mustahil untuk diabaikan. Tetapi, kecantikan bukan monopoli seorang gadis; bukankah banyak gadis lain yang juga cantik-cantik? Keindahan rupa seorang gadis berbeda antara satu dengan lainnya, tetapi sukar untuk mengatakan bahwa "inilah yang paling cantik" selama masih ada pembanding-pembanding lain yang setara. Bagaimanakah cinta kasih bisa dimulai? Apakah hanya penampilan saja sudah cukup untuk mendatangkan rasa cinta, seperti yang banyak ditunjukkan oleh berbagai kisah dan penggambaran orang-orang modern yang serba instan?
Bagi Ishak, yang pertama-tama terjadi bukanlah melihat Ribka, melainkan mendengarkan kisah hambanya. Ia mendengarkan bagaimana TUHAN telah menyertai perjalanan hambanya itu, hingga membawa gadis bernama Ribka ke hadapannya. Tidakkah Ishak merasa takjub atas sebuah kenyataan, yaitu TUHAN menyediakan istri baginya? Seumur hidupnya, ia telah melihat sendiri bagaimana ayahnya membuat perjanjian yang hebat dengan TUHAN; dirinya adalah wujud perjanjian itu. Kini, ia memandang Ribka dengan satu pengertian, bahwa inilah yang menjadi bagiannya. Dalam pengertian itu, kecantikan Ribka menjadi pelengkap yang menyempurnakan.
Berapa banyak orang yang memulai hubungannya dengan pendengaran, dari pemahaman? Masalahnya, melihat adalah sesuatu yang instan, cepat, dan langsung, tetapi pemahaman membutuhkan waktu. Melihat adalah pemeriksaan fisik, sedang mendengar adalah pemeriksaan intelektual dan emosional. Kalau berniat menjalin hubungan cinta, seharusnya dimulai dengan pendengaran yang menuntun pada pemahaman, bukan penglihatan yang menuntun kepada nafsu. Tetapi orang yang menginginkan segala sesuatu serba cepat, serba langsung – kebanyakan memilih untuk mendahulukan apa yang dilihat. Kata-kata menjadi usang, suara-suara diabaikan, atau tertutup oleh bisingnya dunia modern.
Apa yang ada pada kita sekarang? Apakah kita sedang menjalin hubungan? Apakah sekarang ini telah berhubungan? Pertanyaan sesungguhnya ada sejak pertama kali pertemuan itu terjadi: apakah dimulai dari penglihatan, atau dari pengertian mengenai apa dan siapa pasangan yang kita temui? Jika kita belum memahami calon / pasangan kita, ada baiknya kita memulai sekarang dengan memberi waktu untuk duduk dan mendengarkan, berusaha memahami, mengerti. Sebaliknya, kita pun perlu berkata-kata, perlu bersuara dalam keheningan, agar didengar dan memberikan pemahaman bagi pasangan. Dapatkah kita memahami, bahwa inilah orang yang disediakan oleh TUHAN?
Rabu, 07 April 2010
Menjadi SATU
Kej 2:22-24 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Pada awalnya hanya ada satu manusia. Pada akhirnya, juga hanya ada satu manusia, karena laki-laki dan perempuan menyatu menjadi manusia. Dari yang satu dibuat dua, dan inilah yang disadari oleh manusia yang pertama itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!" Manusia pertama tidak melihat orang lain; ia melihat dirinya sendiri. Dan di saat itu juga lahir istilah perempuan dan laki-laki, yang satu diambil untuk yang lain – dan pada waktunya akan bersatu kembali, menjadi satu daging.
Cinta manusia yang pertama muncul sebagai pengakuan bahwa yang lain adalah bagian dari dirinya sendiri. Ketika laki-laki itu memandang perempuan, ia tidak melihat orang lain di sana. Di saat yang sama, ia juga berhadapan dengan individu yang lain, yang memandang dengan kerinduan yang sama, dengan hasrat yang sama: untuk kembali menjadi satu kembali. Ini adalah perasaan yang mulia yang diciptakan oleh TUHAN Allah, yang membangun kedua manusia itu. Dengan demikian manusia tetap satu, walaupun ada dua. Satu perasaan, satu pikiran, satu daging, dalam dua individu yang berbeda.
Awal mulanya, semuanya baik dan indah – sampai saat di mana manusia mati di hadapan Allah dan terbuang keluar. Hubungan dengan Allah hancur, maka hancur pula hubungan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan tidak lagi punya satu perasaan dan satu pikiran, walau hasrat untuk menjadi satu daging tetap ada – itulah yang menjadi nafsu eros, cinta badani yang masih mempersatukan manusia untuk beranak cucu dan memenuhi bumi. Itulah yang membuat laki-laki dan perempuan berbeda, dibedakan, bahkan dibuat menyimpang ketika laki-laki ingin bersatu dengan laki-laki dan perempuan ingin bersetubuh dengan perempuan.
Ketika kasih TUHAN dalam Kristus Yesus memulihkan hubungan yang hancur, mendatangkan damai sejahtera antara Allah dan manusia – pulih pula hubungan laki-laki dan perempuan. Maka, suami dan istri di dalam TUHAN kembali merasakan cinta yang pertama, yang menyatukan perasaan dan pikiran dan tubuh menjadi satu daging, satu manusia. Sang suami memandang istri bukan sebagai orang lain, melainkan melihat dirinya sendiri. Ia memandang dengan kerinduan yang sama, dengan hasrat yang sama: untuk menjadi satu kembali.
Mereka, suami dan istri, diciptakan TUHAN sebagai satu manusia. Terpujilah TUHAN!
Senin, 29 Maret 2010
Perubahan Terakhir
Wah 21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."
Kehidupan di bumi adalah pengulangan di bawah matahari. Adakah yang benar-benar baru? Selama manusia masih seperti ini, perjuangannya mungkin berbeda namun pengalamannya sama. Lihatlah sang calon ayah yang menunggu-nunggu. Sang ibu yang meregang nyeri berkontraksi. Manusia lahir dari air dan darah, menangis minta susu, dan setelah sekian puluh tahun berlalu akan meninggalkan raga yang renta dan rapuh. Apa bedanya orang miskin dan kaya? Apa bedanya orang baik dan jahat? Selama indra manusia masih begini saja, mampukah manusia menafsirkan pengalamannya dengan cara baru?
Banyak pengalaman manusia adalah pengulangan dari pengalaman orang lain di masa lalu. Hanya, manusia yang merindukan sesuatu yang baru selalu membuat perubahan, mencari tahu dan "menemukan" serta "menciptakan" – dan tahu-tahu manusia kini memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghancurkan dunia. Tentu saja, niat semula adalah untuk kebaikan, tapi bukankah yang dilahirkan adalah kejahatan? Ada hal baik yang timbul, namun kemudian kuasa dosa menunjukkan kekuatannya mendatangkan maut. Cukup satu orang gila bekerja, maka hal yang bagus untuk seluruh dunia itu menjadi monster kengerian! Tahu-tahu, hidup tidak jelas arahnya, tidak kelihatan ujungnya.
Apa artinya "Kehidupan Baru" bila akhirnya semua terulangi dan terperosok dalam spiral menurun yang menuju tempat gelap? Ada orang yang menunjukkan kesuksesan dalam sebuah masa, tetapi sejarah menunjukkan bahwa itupun akhirnya sia-sia. Siapa yang ingat dan tahu seperti apa kayanya dan suksesnya Raja Salomo di jaman purbakala? Itulah pelajaran sejarah! Apa arti dari usaha dan kemenangan manusia, kalau hari ini semua yang ada dahulu telah terlupa? Akhirnya, kebesaran masa lalu hanya menjadi miliknya ahli arkeologi, yang mengais-ngais debu mencari tanda.
Meskipun begitu, toh kita melihat bahwa masa lalu berbeda dengan masa kini. Renungkanlah dan ketahuilah, ternyata dunia tidak berjalan berputar. Pengalaman manusia bisa terulang, tetapi tidak pernah dalam situasi, dalam tempat yang sama. Memang bumi berputar mengelilingi matahari, tapi bumi tidak menempati ruang yang sama karena tata surya juga senantiasa bergerak mengelilingi galaksi. Apakah ada yang tahu seperti apa ujung akhirnya? Adakah yang putus asa? Sebaliknya, TUHAN sudah melihat ujung sejarah: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!"
Itulah kehidupan baru yang sesungguhnya. Itulah perubahan besar yang terakhir. Itulah harapan kita. Itulah yang perlu diingat, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.
Sungguh, semuanya kelak akan menjadi baru.
Terpujilah TUHAN!
Jumat, 19 Maret 2010
Berguna
Flm 1:10-12 mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus --dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. Dia kusuruh kembali kepadamu--dia, yaitu buah hatiku--.
Paulus berada dalam tahanan. Dia didakwa dengan tuduhan yang tidak terbukti, tetapi karena orang-orang Yahudi bersepakat membunuhnya, Paulus lantas naik banding kepada Kaisar – menghabiskan waktunya di tempat tahanan tapi bukan dengan penjahat kejam. Di situlah ada Onesimus, anak muda itu. Bagaimanakah seorang anak muda dapat berada dalam sebuah tahanan? Tentunya dia telah melakukan sesuatu yang salah. Ia sudah merugikan tuannya, dalam sebuah perbuatan yang cukup untuk membuatnya ada di penjara.
Berapa banyak anak muda yang berbuat keliru, hingga harus dipenjara? Inilah hasil dari masa lalu yang suram, pendidikan yang salah, sehingga bertumbuh secara keliru. Inilah yang membuat seseorang menjadi tidak berguna, sampai disebut sampah masyarakat yang patut dibuang. Tetapi, kalau memang ukurannya adalah mengenai kegunaan, kita sendiri bisa melihat bahwa banyak orang muda yang tidak berguna, baik di jaman dahulu maupun saat ini. Mungkin mereka tidak sampai masuk penjara, tetapi juga tidak mengerjakan apa-apa yang berguna. Atau tidak sanggup mengerjakan sesuatu yang bermakna, apalagi di jaman seperti sekarang ini.
Kehidupan Onesimus sepertinya berakhir ketika ia masuk penjara, namun kehadiran Paulus di sana membuat seluruh hidupnya berubah. Prinsip ini berlaku dahulu, berlaku juga saat ini: kehidupan berubah ketika seseorang mendapatkan TUHAN dalam hidup, melalui orang-orang yang menjadi hamba-Nya. Pertemuan Onesimus dengan Paulus, walaupun dalam suasana penjara, telah menghidupkan anak muda ini, merubahnya menjadi baru. Dia bukan lagi orang yang tidak berguna; sebaliknya sekarang sangat berguna bagi Paulus, juga bagi Filemon.
Onesimus dapat kembali kepada Filemon – di waktu itu, untuk mengeluarkan seorang pelayan atau budak dari penjara dibutuhkan persetujuan tuannya. Saat seseorang sudah berubah menjadi baik dan berguna, ia tidak perlu lagi dipenjara. Ketika kita telah menemukan kebenaran dan mengalami perubahan dalam Kristus, jangan lagi membiarkan diri dipenjara oleh kehidupan lama. Ada banyak hal yang dapat dilakukan, termasuk membangun kembali hubungan-hubungan lama yang sempat rusak oleh kebodohan masa lalu. Ada pertobatan, juga ada pemulihan, jika kita telah dilahirkan kembali dalam Tuhan.
Bukan kita yang bisa, melainkan TUHAN membuat kita jadi berguna. Terpujilah TUHAN!
Kamis, 18 Maret 2010
Fitnah
Kis 21:30 Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup.
Bait Allah adalah pusat kehidupan bagi orang Yahudi. Entah dia tinggal di Yerusalem, atau tinggal jauh di Asia, tempat yang menjadi sumber mereka adalah Bait Allah, tempat di mana Allah bersemayam dengan segala kekudusan-Nya. Di tempat ini pula orang Yahudi menyatakan kesetiaan kepada Hukum Taurat, yaitu Hukum Allah, dengan berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan Hukum, bahkan sesuai dengan 'petunjuk pelaksanaan' yang secara periodik ditinjau, diperbaharui, dan ditambahkan oleh para Ahli Taurat, Imam-Imam, dan orang-orang Farisi. Ini adalah bagian yang dikhususkan bagi keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub – maka tidak ada orang asing yang boleh ambil bagian.
Selama berabad-abad Bait Allah senantiasa terbuka bagi umat Yahudi, orang-orang Israel. Setiap orang Yahudi berhak untuk ambil bagian dalam hubungan dengan Allah, sebagai warisan yang tidak terhapuskan. Begitulah teorinya, sampai terjadi hari yang menegangkan itu. Hari di mana pintu Bait Allah ditutup bagi seorang Yahudi, yang sebelumnya hidup sebagai 'Farisinya orang Farisi' karena ketaatan yang luar biasa kepada Hukum Taurat. Hari di mana pintu ditutup bukan karena sesuatu yang nyata, melainkan karena fitnah yang diteriakkan oleh orang-orang yang gagal memahami rancangan Allah yang sesungguhnya.
Renungkanlah: Paulus hari itu datang menuruti Roh Kudus, untuk membawa persembahan serta memberi kesaksian mengenai karya Tuhan. Ia sudah menjelaskan kepada saudara-saudara seiman mengenai kehidupannya sendiri, bahwa Paulus tidak melanggar Hukum Taurat. Ada empat orang yang bernazar, suatu penyataan bahwa hidup mereka masih mentaati Taurat, dan Paulus mau mengambil bagian di dalamnya. Paulus bersedia melakukan pentahiran bersama mereka, karena ia tidak menolak Hukum Taurat, apalagi merendahkannya. Namun fitnah itu dengan cepat meluas, mengeluarkan Paulus dari Bait Allah dan dalam seketika semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup.
Ketika pintu itu telah ditutup manusia, mereka tidak dapat membukanya lagi. Maka Bait Allah pun tidak bermakna lagi – sampai akhirnya dihancurkan beberapa tahun kemudian oleh pasukan jendral Titus yang menyerbu Yerusalem. Tanpa disadari oleh orang Yahudi, peristiwa itu menandakan suatu babak di mana kehidupan orang Israel akan berubah secara total, karena Bait Allah terus dimusnahkan dan tidak ada lagi sumber utama kehidupan.
Apakah kita memiliki pelayanan? Apakah kita selama ini masih membuka pintu Gereja bagi sesama orang percaya? Awaslah dan waspadalah, agar kita tidak menutup pintu bagi sesama, apalagi saudara seiman. Kalau ada seruan, suatu fitnah, ingin dilontarkan maka lebih baik kita kembalikan kepada Allah yang menyediakan segala kebutuhan anak-anak-Nya. Terpujilah TUHAN!
Selasa, 16 Maret 2010
Beralih
Kis 17:34 Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.
Dionisius adalah seorang Yunani yang sepenuhnya, sejak lahirnya, hidup dalam ajaran dan kepercayaan Yunani. Dia bukan hanya seorang biasa, melainkan seorang anggota majelis Areopagus – ini semacam senat yang mengatur kehidupan orang-orang di Athena. Isinya adalah para pemuka masyarakat, yang duduk di sebuah dataran terbuat dari batu di atas bukit – Areopagus disebut juga bukit Mars (ing: Mars' Hill) – kemudian kepada mereka diperhadapkan perkara-perkara, mulai dari pembunuhan sampai sekedar berita mengenai sesuatu yang baru. Dalam prakteknya, mereka lebih suka mendengarkan berita-berita tentang segala hal yang baru.
Ada beberapa hal yang menarik di sini. Yang pertama, walaupun orang-orang Athena menyukai hal-hal baru, mereka tetap memegang kepercayaan lama mereka kepada dewa-dewa yang bersemayam di gunung Olympus. Yang kedua, orang Yunani sangat senang berfilsafat dan mempertanyakan segala sesuatu – dari sinilah landasan pemikiran modern diletakkan, begitu juga dengan pengembangan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dari orang-orang Yunani muncul filsafat Epikuros (kesenangan adalah tujuan hidup) dan Stoa (kebijaksanaan adalah pokok hidup), yang mempengaruhi banyak orang saat di dalam kekaisaran Romawi. Yang ketiga, saat itu Paulus berdiri sebagai terdakwa, yang harus menjelaskan ajarannya kepada majelis Areopagus.
Apa yang disampaikan oleh Paulus berbeda secara fundamental dari semua yang dipahami oleh orang Yunani. Sebagian besar dari orang-orang itu tidak dapat menerima perkataan Paulus, karena isinya secara total mengubah kehidupan mereka, mengubah dasar etika mereka. Tadinya, apa yang benar dan salah secara relatif ditentukan oleh rasa enak, rasa 'baik', dan kesenangan banyak orang. Kini, dalam pengajaran Paulus, apa yang benar dan salah secara mutlak ditentukan oleh Allah, yang membangkitkan orang mati. Tujuan hidup bukan sekedar kesenangan di dunia ini saja, melainkan keselamatan dan hidup kekal. Siapa yang dapat menerima pengajaran bahwa tujuan hidup yang sebenarnya ada melampaui umur manusia di atas muka bumi?
Ketika Dionisius memutuskan untuk menjadi percaya, ini bukan keputusan yang biasa. Ini adalah suatu perubahan hidup yang radikal, yang konsekuensinya adalah perubahan total dalam segala hal yang telah menjadi kebiasaan. Bayangkan, seorang anggota majelis Areopagus, hari itu memilih untuk menggabungkan diri dan menjadi percaya! Dari catatan Eusebius, kita tahu bahwa belakangan Dionisius menjadi uskup pertama di Athena. Jadi, pertobatan Dionisius hari itu bukan sembarangan saja, melainkan sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Semua terjadi karena perkataan Paulus, yang hari itu berada di kursi terdakwa yang harus menjelaskan keyakinannya. Itulah kekuatan dari pemberitaan Injil!
Kadang-kadang hambatan pertobatan begitu besar, tapi TUHAN lebih besar lagi dari semua masalah kita. Terpujilah TUHAN
Sabtu, 13 Maret 2010
Terbelenggu
Kis 16:29-31 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."
Biasanya dia berlaku bengis. Biasanya, dia menjadi tuan yang paling berkuasa di antara orang-orang kasar yang ada di bawah kekuasaannya – ya, begitulah sosok kepala penjara jaman dahulu kala. Dahulu penjara adalah tempat menghukum, bukan lembaga pemasyarakatan seperti di jaman kita sekarang. Orang jahat ada di situ untuk dihukum, bukan dikembalikan ke masyarakat. Kalau algojo bertugas mengakhiri hidup tahanan, kepala penjara bertugas memastikan kehidupan tahanan tetap seperti di neraka, membuat mereka kerja paksa dan sengsara. Begitulah penjara di abad pertama.
Kepala penjara menjaga tempat itu dengan taruhan kepalanya sendiri – kalau ia lalai atau lengah, ia dan keluarganya akan dihukum mati. Maka, kepala penjara akan berbuat sebisanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang selamat kabur dari penjaranya, bahkan tidak ada yang hidupnya selamat; tahanan harus selalu ada di tempatnya, pintu harus selalu terkunci, dan mereka harus sedemikian menderita sampai tidak punya kesanggupan untuk kabur. Tetapi, ketika Paulus dan Silas memasuki penjara – neraka ciptaannya – mereka bernyanyi dan tiba-tiba saja semua pintu terbuka. Itulah akhir dari penjara, yaitu saat semua belenggu terlepas dan pintu-pintu terbuka. Itulah akhir hidup kepala penjara.
Hanya saja, tidak ada yang kabur. Belenggu terlepas, pintu terpentang, tapi tidak ada yang pergi – semua orang hukuman masih ada di situ. Saat itu sang kepala penjara mendapati sebuah kenyataan, bahwa ada perbedaan besar antara dirinya dengan Paulus dan Silas. Sementara ia masih menjadi kepala penjara dan kelihatan berkuasa, sebenarnya ia sendiri terbelenggu dalam penjara kehidupannya yang juga terasa seperti neraka. Tetapi orang-orang ini, yang tubuhnya diikat dan dikunci, justru menjadi orang merdeka, yang juga sanggup memilih untuk tetap ada di penjaranya padahal semua sudah terlepas bebas!
Siapa yang merasa seperti Kepala Penjara, yang masih terbelenggu dalam hidupnya? Orang yang terbelenggu, hidupnya sedemikian keras dan tidak takut untuk membelenggu orang lain, supaya memberikan kesengsaraan yang sama. Mereka tidak punya hidup yang mereka pilih sendiri, dan karenanya memaksa orang lain untuk juga hidup tanpa pilihan. Pada akhirnya, mereka tidak punya keselamatan, maka itulah pertanyaannya: "apa yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Dalam keselamatan ada kemerdekaan, kebebasan memilih. Dalam keselamatan ada kehidupan – keluar dari penjara kehidupan. Dalam keselamatan ada hidup yang kekal.
"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Terpujilah TUHAN!
Jumat, 12 Maret 2010
Cahaya
Kis 9:4-6 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."
Pada dasarnya, Saulus berusaha berbuat benar menurut pandangannya sendiri. Baginya, Hukum harus ditegakkan! Orang yang sesat dan menyimpang harus disingkirkan! Dengan berbuat demikian, ia berusaha mempertahankan kemurnian agama. Salahkah bila seseorang berusaha menjaga agar agamanya tetap lurus dan tepat, sesuai dengan segala hal yang telah digariskan oleh para pendahulunya selama berabad-abad? Di satu sisi, sikap ini mungkin bisa dimaklumi. Tetapi di sisi lain, kenyataannya ini adalah sikap yang melukai, bukan saja sesama manusia, melainkan telah menganiaya TUHAN sendiri. Betapa Saulus terkejut!
Perubahan terbesar dalam hidup Saulus bukanlah mengenai perpindahan agama atau mengubah kepercayaan yang satu dengan yang lainnya. Kita sekarang ini mungkin juga mengalami hal yang serupa: memikirkan pertentangan yang terjadi saat orang berubah agamanya dari satu ke yang lain. Tetapi, mengubah agama tidak mengubah kehidupan secara mendasar. Perubahan terbesar terjadi karena tiba-tiba saat itu Saulus menyadari bahwa segala tindakannya berkaitan dengan TUHAN – suatu realitas bahwa Yang Maha Kuasa dapat terluka oleh karena perbuatan seorang manusia.
Renungkanlah teguran itu: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" – inilah pertanyaan yang mengejutkan, menggoncangkan Saulus sampai ke dasarnya. Tiba-tiba saja, keberadaan TUHAN yang semula nampak begitu jelas – bukankah Dia adalah Allah YHWH yang dituliskan dalam Taurat Musa? – tidak lagi sejelas sebelumnya. Dalam hukum, posisi Allah ada di tempat yang begitu tinggi, di mana Ia bertindak sebagai pengawas, atau sebagai Hakim Terakhir. Itulah sebabnya manusia harus takut dan tunduk kepada Allah. Bagaimana mungkin, sekarang kehadiran TUHAN datang dengan teguran bahwa Saulus telah menganiaya-Nya?
Dalam kebingungan, Saulus akhirnya mempertanyakan keberadaan TUHAN, "Siapakah Engkau, Tuhan?" Untuk pertama kalinya Saulus mempertanyakan eksistensi Tuhan dalam hidupnya. Itulah saat di mana Tuhan memperkenalkan Diri-Nya: Akulah Yesus! Maka, semua maksud Saulus untuk mendukung dan mempertahankan agamanya menjadi absurd. Semakin keras ia berusaha meninggikan agama, semakin dalam luka Yesus olehnya. Pertanyaan ini harus menjadi pertanyaan kita juga, karena mungkin sekali kita melakukan apa yang Saulus lakukan, yaitu menganiaya Yesus. Kiranya, kita bisa melangkah dalam kesadaran penuh, sehingga bukan agama yang kita utamakan melainkan TUHAN yang kita muliakan.
Perubahan hidup terbesar adalah ketika keberadaannya bersentuhan dengan keberadaan TUHAN. Terpujilah TUHAN!
Rabu, 10 Maret 2010
Meretas Batas
Kis 8:4-6 Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
Bagi orang-orang Yahudi, berhubungan dengan orang Samaria adalah suatu kebobrokan yang memalukan. Mereka mempunyai sejarah yang panjang, yang bermula dari pecahnya Israel antara suku Yehuda dan Benyamin serta 10 suku lainnya. Yang dua masih menyembah Allah di Yerusalem, tapi selebihnya menjadi penyembah berhala yang menjijikkan. Bukankah mereka ini telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk menyembelih anak-anak mereka sendiri? Anak-anak keturunan Abraham yang menyembah dewa-dewa penuh kesia-siaan, bukankah itu menghina Perjanjian yang kudus antara Abraham dengan Allah?
Pusat penyembahan itu adalah kota Samaria, dan itulah yang menjadi nama bagi bangsa yang telah meninggalkan Allahnya. Karena itu, antara Yahudi dan Samaria ada perbatasan yang jelas, suatu pemisahan yang nyata. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria, walaupun dalam keseharian mereka harus melintasi tanah Samaria untuk pergi menuju ke tempat lain. Ini sudah terjadi berabad-abad, menjadi kebudayaan yang diikuti dengan patuh.
Tetapi berita Injil tidak perlu mematuhi aturan Taurat, atau memperhatikan pembedaan yang dibuat. Pada akhirnya, orang-orang Yahudi ternyata juga sama bobroknya dengan orang Samaria. Kalau di Samaria orang menyimpang dengan paganisme – menyembah dewa-dewa lain, maka di Yehuda orang menyimpang dengan legalisme – mengutamakan hukum di atas segala-galanya, bahkan lebih utama daripada maksud dan kehendak TUHAN. Berita Injil melampaui itu semua, dan demikianlah yang dilakukan oleh Filipus. Berita disiarkan dan tanda-tanda dinyatakan.
Apakah kehidupan kita terjebak dalam pencarian akan kemakmuran dan kesenangan, sehingga kita menyembah dewa-dewa modern seperti materialisme (mengutamakan materi) atau hedonisme (mengutamakan kenikmatan)? Di sisi lain, mungkin kita juga jatuh dalam legalisme yang mengutamakan hukum, sehingga dengan keras kita menunjuk dan menyalahkan. Lihatlah Filipus! Jika TUHAN bersedia menyentuh kota-kota Samaria dengan Injil dan tanda-tanda kuasa-Nya, tidakkah kita juga bersedia menyentuh orang yang berdosa, karena pada awalnya kita sama saja dengan mereka? Maka buatlah perbedaan yang dahsyat, suatu kehidupan yang baru yang dibawa oleh Injil Kristus.
Orang Samaria yang baik hati pun membutuhkan Injil bagi keselamatannya. Terpujilah TUHAN!
Sabtu, 27 Februari 2010
Menjadi Pelaku
Kis 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
Menjadi murid Kristus dimulai dengan pengalaman. Para rasul mengalami perjumpaan dan kebersamaan, dari kehidupan seorang nelayan atau pemungut cukai menjadi saksi dari kehadiran Yesus. Itu adalah pengalaman yang luar biasa, di mana segala tanda dan mujizat mereka lihat, di mana semua pengajaran yang penuh kuasa mereka dengarkan. Dalam satu hal, pengalaman itu membuka pikiran dan wawasan orang-orang yang biasa-biasa saja ini, sampai muncul pengakuan bahwa Yesus adalah Kristus, yaitu Mesias – orang yang diurapi Allah.
Tetapi dalam hal lain, mereka tetap hadir sebagai saksi. Menjadi saksi adalah seperti menjadi penonton di pinggir lapangan, yang tidak turut ambil bagian dalam pertandingannya. Mereka melihat dan mendengar, tentunya mereka terus menerus membicarakan semua pengalaman tentang Yesus – namun bukan bagian dari Yesus. Ini menjadi hal yang serupa dengan banyak orang Kristen, sampai saat ini juga, bukan? Kita juga memulai dari pengalaman – entah kita melihat tanda dan mujizat, atau mendengar pengajaran yang penuh kuasa dan membuka pikiran dan wawasan. Kita kemudian mengambil keputusan untuk mempercayainya, namun tidak ambil bagian di dalamnya.
Keputusan untuk mempercayai adalah hak dari setiap manusia, yang tidak pernah dipaksakan oleh Tuhan. Namun apakah manusia itu akan masuk ke dalam pekerjaan Tuhan, itu adalah hak-Nya sendiri yang tidak bisa dipaksa oleh manusia. Yang membedakan adalah Roh Kudus, seperti yang terjadi di hari Pentakosta dan mulai saat itu mengubah seluruh kehidupan Para Rasul secara total. Roh Kudus memenuhi orang-orang pilihan Tuhan dan memberikan karunia – anugerah kemampuan untuk mengikuti pertandingan. Dari hanya sekedar penonton, Para Rasul sejak saat itu menjadi pelaku yang memberikan tanda yaitu berkata-kata dalam bahasa lain.
Renungkanlah: seperti apa kekristenan yang kita miliki? Apakah kita hanya menjadi penonton, yang rajin datang ke kebaktian setiap minggu, yang komunitas dan pergaulannya adalah sesama orang Kristen, dan yang sesekali aktif dalam berbagai kegiatan gereja? Atau, kita bukan saja mengamati dan beridentitas 'Kristen', tapi benar-benar menyerahkan pikiran, tujuan, bahkan seluruh keberadaan untuk dipenuhi Roh Kudus, dan dengan begitu menjadi pelaku-pelaku dalam membangun Kerajaan Allah? Tuhan telah memilih, apakah kita bersedia untuk dipilih? Jika YA, maka lihatlah bahwa hidup berubah – secara total. Selamat mengalami hidup baru!
Roh Kudus mengubah yang lama menjadi baru. Terpujilah TUHAN!
Sabtu, 20 Februari 2010
Kutuk Sendiri
Mat 27:24-25 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
Orang-orang itu memulai kerohanian mereka dengan peraturan yang kuat, menjadi adat istiadat yang luar biasa kaku dan keras. Perlahan-lahan, mereka menanamkan kemutlakan dari peraturan dan adat mereka sedemikian kuatnya, sehingga menjadi kebenaran yang absolut, mutlak. Itulah saat dimana keyakinan menjadi agama; ketika masih disebut keyakinan, masih boleh ada pertanyaan dan kritik serta akal sehat mempertimbangkannya. Tetapi saat telah disebut agama, maka pertanyaan dan kritik adalah suatu dosa. Orang-orang ini meletakkan agama di atas pikiran, di atas akal budi dan pertimbangan, menjadi cara yang harus diterima apa adanya, kalau memang mau menjadi pemeluk agama itu.
Yang mereka tidak sadari, agama dapat menjadi kutuk. Itulah yang terjadi dengan bangsa Israel, ketika kepada mereka diperhadapkan dua orang: Yesus dan Barabas. Yang satu tidak ada perbuatan salahnya. Yang satu lagi adalah penjahat besar. Akal sehat mengatakan bahwa seharusnya yang tidak berbuat salah, tidak dihukum. Tetapi agama mereka mengatakan bahwa yang tidak berbuat salah ini sudah menunjuk dirinya sendiri sebagai Anak Allah, dan itu adalah penghujatan yang lebih pantas diganjar oleh hukuman mati, dibandingkan si Barabas yang hanya berbuat salah. Agama membuat pernyataan diri Yesus menjadi kesalahan yang lebih besar dibandingkan perbuatan jahat Barabas. Pernyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah, terdengar jauh lebih jahat bagi mereka yang telinganya sudah ditutupi ajaran agama serta adat istiadat.
Masalahnya, dalam kebodohan itu orang Israel tidak mau menerima bahwa apa yang disampaikan Yesus merupakan hal yang benar. Mereka bahkan tidak bersedia mempertimbangkannya! Ketika para imam dan pemimpin rohani Israel berseru untuk menuntut penyaliban Yesus, keyakinan agama membuat kebenaran versi mereka sendiri tidak lagi dipertanyakan. Pasti begitu, pasti Yesus yang salah, yang harus disalibkan! Saat Pilatus melihat usaha untuk membela Yesus menjadi sia-sia – malah usaha itu mendatangkan kekacauan, ia melihat bahwa akal sehat sudah tidak ada lagi di sana. Pilatus tidak mau ambil bagian; ia mencuci tangan. Orang Yahudilah yang bersama-sama menjawab, "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
Itu adalah kutuk yang hebat, yang terwujud dengan hancurnya Yerusalem beserta seluruh wilayah Yahudi di bawah taring-taring besi Romawi. Mereka yang berseru dalam keyakinan agama itu tidak tahu, bahwa mereka sedang mengutuki diri dan keturunan sendiri dengan cara yang tidak terbayangkan, lebih parah dari kebodohan nenek moyang mereka yang meninggalkan TUHAN demi menyembah dewa-dewa asing. Sejak saat itu, kehidupan orang Israel berubah drastis, sampai hari ini. Pelajaran bagi kita: apakah kita dibutakan oleh keyakinan agama dan segala macam peraturan dan filsafat dunia? TUHAN tidak membuat kita berada dalam keyakinan agamawi yang mati dan tidak lagi berpikir, tidak lagi mempertimbangkan kebenaran yang sesungguhnya. TUHAN mau kita hidup dan bertumbuh dalam Firman-Nya, yang memiliki kuasa untuk menentukan jalan hidup manusia.
Kiranya kita dijauhkan dari kutuk yang kita buat sendiri dalam kebodohan. Terpujilah TUHAN!
Jumat, 19 Februari 2010
Pengkhianat
Mat 26:14-16 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
Orang bisa berubah, kadang-kadang perubahannya adalah menjadi semakin buruk. Bayangkan, bagaimana perjalanannya Yudas Iskariot. Bukankah dia menyertai Yesus dengan segala pengajaran dan tanda serta mujizat-Nya? Bukankah apa yang diajarkan oleh Yesus telah mengubah murid-murid lain, bahkan Petrus mengenali-Nya sebagai Mesias – ini semua diketahui oleh Yudas. Tidakkah dia ingat betapa Yesus naik ke atas gunung dan di sana Ia berubah, lantas disambut oleh Musa dan Elia? Semua tanda telah dilihat dan dialami Yudas. Pikiran yang paling sederhana pun menyimpulkan bahwa Yesus adalah sosok yang mulia, melebihi manusia biasa.
Tapi, Yudas pergi meninggalkan teman-temannya. Ia pergi dari komunitasnya, untuk menemui musuh-musuh-Nya. Ya, Yudas berkhianat, walaupun sudah melihat dan mengetahui semua hal yang besar dan ajaib dari Tuhan Yesus. Apakah yang membuat Yudas pergi? Kita tidak tahu persis. Ada yang mengatakan, bahwa Yudas melihat kesempatan untuk mendapatkan untung besar, maka inilah pertanyaannya: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Tetapi, bisa juga ini hanya suatu pembuka, karena Yudas ingin melihat Yesus melepaskan kuasa-Nya melawan Imam dan penjajah Romawi.
Apapun juga, Yudas ingin memainkan kisahnya sendiri. Dia ingin mendapatkan keuntungan lebih, ingin melihat kepentingannya terpuaskan. Dia bersedia menukarkan apa yang dilihatnya penting, demi sesuatu bagi dirinya sendiri. Inilah hal yang mengubah orang, sekalipun dia adalah murid langsung dari Tuhan Yesus. Perhatikan betapa besarnya bahaya itu! Jika Yudas yang sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri segala sesuatu mengenai Yesus, tetapi masih juga memilih untuk menguntungkan diri sendiri – apakah kita kebal dari keinginan untuk mendapat untung yang sama?
Kenyataannya, saat ini banyak orang Kristen yang memanfaatkan kekristenannya. Dari semula mengagumi Kristus, kita beralih ke tujuan-tujuan mencari keuntungan sendiri, dari segala berkat yang disediakan TUHAN. Lantas kekristenan kita menjadi sumber keuntungan, karena kita bisa berbisnis dengan nilai yang besar. Jika orang mau membayar kita milyaran untuk menjatuhkan kekristenan, untuk menghentikan penginjilan, untuk melemahkan kebenaran Alkitab – maukah kita menerimanya? Lihatlah Yudas. Hidupnya berubah secara drastis, dari salah seorang rasul menjadi pengkhianat.
Biarlah kesetiaan tetap beserta kita. Terpujilah TUHAN!
Senin, 15 Februari 2010
Mesias
Mat 16:15-16 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Simon bin Yunus telah menjadi Petrus ketika ia menyadari bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Ini bukan urusan sederhana bagi bangsa Yahudi, karena tiga hal. Yang pertama, bangsa ini mempunyai sejarah yang panjang dan erat dengan keberadaan YHWH, sejak menjadi Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub, kemudian membangkitkan Musa, Yosua, dan Para Hakim, kemudian jaman raja-raja besar seperti Daud dan Salomo. Semuanya berkaitan dengan TUHAN yang dahsyat dan menakutkan. Yang kedua, bangsa ini bertekad untuk menghidupi Perintah Allah, karena sejak jaman Ezra mereka sudah tahu betul pedihnya dihukum Allah. Dalam hal ini, mereka benar-benar pantang menyebut nama Allah sembarangan. Yang ketiga, ada sistem religius yang sangat ketat di antara orang Yahudi, yang masih tetap ketat sampai jaman sekarang.
Jadi, ketika Petrus menyatakan bahwa inilah Mesias, Anak Allah yang hidup, ia sedang mengambil suatu resiko yang amat sangat besar. Bagi orang Farisi dan kebanyakan orang Yahudi waktu itu, pernyataan demikian sama dengan penghujatan, yang patut dihukum mati. Lebih lagi, yang mengucapkannya hanyalah seorang bekas nelayan biasa, yang bukan orang terdidik dalam Hukum Musa, yang bukan orang terpandang atau dihormati. Pengalaman Petrus telah memberikan penegasan yang tidak terbantahkan tentang Yesus, yang kini patut disebut Kristus – atau Mesias, artinya Yang Diurapi – sekaligus telah membuat hidup Simon berubah. Perubahan ini terjadi karena Tuhan sendiri yang menyatakannya; demikianlah mulai sejak itu Simon disebut Petrus.
Apakah kita memiliki kesadaran yang sama? Kadang, karena pengetahuan ini sudah dibawa sejak kita masih kecil, saat ini kita tidak lagi mengapresiasi artinya. Kita dengan mudah begitu saja menerima bahwa Yesus adalah Tuhan, Mesias, Anak Allah yang hidup. Itu karena kita tidak cukup menggali dan memikirkan betapa Yesus adalah sesosok manusia yang dibesarkan di Nazaret, yang bergaul dengan semua orang lainnya seperti manusia biasa pada umumnya. Memikirkan bahwa Yesus adalah Mesias, sungguh tidak masuk akal! Bagaimana pikiran manusia biasa dapat mengerti, bahwa TUHAN sekaligus adalah Manusia yang hadir bersama-sama orang lainnya?
Karena kita tidak memikirkannya secara mendalam, maka kenyataan ini juga tidak mengubah kehidupan kita, sampai kita benar-benar bersedia mempercayainya. Itulah permulaannya: dari iman orang dapat memikirkan secara mendalam, mengambil kesimpulan dan membuat keputusan. Jika kita turut bersama-sama Petrus menyuarakan pengakuan iman ini, maka kita pun dapat mengambil bagian dalam bangunan yang dibuat-Nya, yaitu Kerajaan Sorga di atas bumi. Inilah pengalaman dan pengakuan yang luar biasa, yang memberikan kehidupan kekal bagi semua orang yang percaya.
Dialah Kristus! Terpujilah TUHAN!
Rabu, 10 Februari 2010
Tinggalkan
Mat 9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
Matius duduk di bangkunya yang nyaman. Seperti biasa, ia menunggu orang datang ke mejanya untuk membayar retribusi alias cukai, dan kalau mereka lalai membayar maka ada tentara yang akan datang untuk menagih. Tidak ada yang suka ditagih oleh tentara, bukan? Jadi mereka dengan wajah murung memaksakan diri datang dan membayar cukai kepada orang ini, yang menjadi sasaran kebencian. Tidak heran, bukankah saat ini Yehuda dijajah oleh Romawi? Dan cukai itu begitu memberatkan serta tidak peduli pada situasi; entah mereka kelaparan atau ditekan oleh kebutuhan, setiap orang yang bekerja tetap harus bayar cukai.
Pada hari itu, Matius melihat bahwa yang datang tidak bermaksud untuk memberikan cukai. Yang datang adalah serombongan orang; mungkin dalam kesan pertama ada perasaan panik pada Matius, kalau-kalau serombongan orang ini mau melakukan suatu kerusuhan. Tetapi di tengah-tengahnya, ia melihat sosok yang tenang, dengan wibawa yang tidak tertahankan, dan untuk pertama kalinya ia merasa berjumpa dengan kuasa yang lebih besar daripada yang pernah dilihatnya. Orang itu berkata singkat, "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikuti Dia.
Di situ tidak ada tanya jawab mengenai kebusukan apa yang pernah dilakukannya. Tidak ada kebencian atau penghukuman yang ditujukan padanya. Yang Matius terima adalah perintah untuk mengikuti Yesus, yang berarti meninggalkan posnya di rumah cukai. Semua yang dianggap buruk, yang menjadi sasaran caci maki orang, kini dilepaskannya. Saat itu juga ada perubahan dahsyat dan drastis terjadi dalam diri Matius, orang yang semula telah tersingkir dari pergaulan masyarakat karena dianggap berdosa. Adakah kita menemukan bahwa apa yang kita kerjakan juga salah dan berdosa?
Matius tidak berhenti dengan meninggalkan posnya di rumah cukai. Ia terus mengikuti Yesus dan menuliskan segala pengalamannya, hingga kelak dialah yang menuliskan Injil Matius. Renungkanlah: jika kita saat ini melakukan apa yang keliru, Tuhan tidak menghukum kita sekarang. Tetapi Dia memanggil dengan tegas agar kita mengikuti-Nya, dengan demikian kita berhenti secara total dari kehidupan berdosa yang biasa kita lakukan. Panggilan-Nya sungguh tegas, sekaligus lembut dengan menawarkan kepemimpinan terhadap orang yang bersalah.
Ikutlah Yesus! Terpujilah TUHAN!
Jumat, 05 Februari 2010
Berita Buruk
Neh 1:3-4 Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit…
Kadang-kadang, kehidupan seseorang berubah drastis karena berita, tepatnya suatu berita buruk. Ada orang yang mendengar berita buruk lantas tertunduk lesu, tidak mau melangkah, tidak memiliki lagi semangat. Orang lain lagi, seperti Nehemia, juga duduk menangis dan berkabung – tetapi berita buruk itu justru membangunkannya dari situasi yang sekarang. Berita buruk mengubahnya dari seorang yang hidup dalam kesenangan dan berperan penghibur di depan Raja. Bukankah Nehemia ini seorang juru minuman raja? Dia mengenal betul jenis-jenis anggur. Yang harum, yang manis, ada yang menghangatkan, ada yang memabukkan. Semuanya menyenangkan. Nehemia adalah orang yang menjadi sumber kesenangan.
Bagaimana seseorang bekerja sebagai juru minuman raja, kalau ia tidak terlatih dalam kesenangan-kesenangan? Hidupnya adalah menghindari kesusahan, sebaliknya belajar apa yang mengasyikkan orang, yang paling utama untuk jaman dahulu kala: anggur. Sejak jaman Nuh, inilah buah yang sarinya bisa memabukkan orang. Tetapi satu berita tentang Yerusalem, tentang kemelaratan yang menimpa sisa-sisa orang Yahudi yang bertahan, lebih keras dan menyakitkan daripada segala kesenangan anggur. Hanya, sebenarnya Nehemia memilih untuk menderita karena berita itu, betapapun sebenarnya ia baik-baik saja di istana. Inilah yang membuatnya berubah.
Berita itu sendiri tidak memiliki kuasa untuk mengubah orang. Nehemia mendengarnya, orang Yahudi lain juga mendengarnya. Tetapi di sini Nehemia yang benar-benar bereaksi, sampai berdoa dan berpuasa ke hadirat Allah semesta langit. Orang lain tidak bereaksi dengan cara yang sama, sampai mereka melihat kepemimpinan Nehemia, yang tadinya hanya juru minuman, menjadi Jendral yang siap berperang, yang memerintahkan membangun tembok sambil menyandang pedang! Apakah kita juga dapat bereaksi dengan cara yang sama ketika mendengar berita buruk?
Kebanyakan dari orang Kristen, rupanya, tidak bereaksi – selama berita itu tidak mempengaruhi kehidupan mereka sendiri. Adakah kita bersedia untuk berubah ketika mengetahui bahwa tanah air kita, bangsa kita, saudara-saudara kita, telah jatuh dalam kemelaratan dan kesusahan karena dosa? Apa yang timbul dalam hati ketika mendengar bahwa mereka sedang dalam proses merusakkan dan memiskinkan diri sendiri, dengan hidup yang tidak bertanggung jawab? Adakah yang berubah hidupnya, meninggalkan lingkungan penuh kesenangan dan kegembiraan, untuk diganti dengan ketegangan dan bersiap berperang melawan kuasa dosa?
Berita ini buruk. Berubahlah! Terpujilah TUHAN!
Kamis, 04 Februari 2010
Tanggung Jawab Peranan
Est 2:17 Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.
Hadasa sejak kecil diasuh oleh Mordekhai, masih tergolong sepupunya sendiri, karena ia tidak lagi beribu bapa. Gadis kecil yang cantik ini mengikuti Mordekhai dalam kehidupan yang keras di benteng Susan. Mereka adalah bagian dari komunitas Ibrani yang tidak suka membaur, yang punya kebiasaan hidup berbeda dari bangsa lainnya. Orang Yahudi ini dibenci Hamman, yang berikhtiar untuk membinasakan mereka semua dalam sebuah pembersihan bangsa. Kita sekarang mengenal tindakan keji ini dengan istilah genosida.
Gadis yang cantik membawa berkah dan kutukan – diinginkan sekaligus dimangsa; bagi Hadasa keadaannya tidak mudah. Ketika ia diambil dari Mordekhai dan menjadi Ester, kehidupannya berubah. Sebagai Ester, ia mendapatkan kasih dari baginda raja yang berkuasa dari India sampai Etiophia – raja diraja yang disembah seperti dewa. Ia lebih disayangi lebih daripada semua anak dara lain, betapapun mereka telah bersolek selama 12 bulan penuh, dengan segala minyak dan wewangian serta semua pelajaran tentang bagaimana menyenangkan raja. Ester menjadi kekasih pilihan, menerima mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan menjadi ratu.
Hadasa adalah gadis Yahudi yang bersembunyi. Ester adalah ratu pendamping raja segala bangsa. Tetapi ini adalah orang yang sama, yang mendapatkan semua keistimewaan itu karena TUHAN mengaruniakannya. Bukankah kecantikan adalah karunia dari TUHAN? Bukankah kasih raja Ahasyweros juga ditimbulkan oleh TUHAN, karena sesungguhnya raja ini pun manusia biasa? Hadasa alias Ester tidak melakukan sesuatu, tidak memilih jalannya, tetapi ia harus berperan dan bertanggung jawab untuk menjalankan perannya. Inilah satu bagian yang penting dalam kehidupan orang Israel, maka sampai hari ini pun mereka merayakan hari raya Purim.
Bagaimana dengan kita, yang juga telah menerima anugerah TUHAN? Kita tidak memilih di mana kita dilahirkan, atau seperti apa rupa kita, seperti apa kepandaian kita. Ada yang terlahir pandai, ada yang kuat, ada yang cantik atau tampan, atau buruk rupa. Ada yang lahir di keluarga raja, ada yang lahir di rumah pengusaha, ada juga yang lahir di gubuk jelata. Di manapun juga, ada peran yang diberikan. Apakah kita bertanggung jawab untuk menerima peran tersebut, seperti Ester yang dikasihi raja dan menerima mahkota serta kuasa? Ketika kesempatan itu datang, bertanggung jawablah. Berikan apa yang terbaik, walaupun masa lalu penuh kesulitan dan masa depan diisi rasa kesepian; mungkin TUHAN sedang menaruh kita untuk menyelamatkan bangsa.
Terimalah peran itu! Terpujilah TUHAN!
Rabu, 03 Februari 2010
Pengetahuan Dan Kepandaian
Dan 1:17 Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.
Serbuan orang Kasdim bukanlah hal yang remeh atau begitu saja; itulah penyerbuan yang dahsyat, mengerikan, dan penuh kekejaman. Mereka datang dan menghancurkan, membunuh, merampas, memperkosa, serta melakukan apa saja sekehendak hati. Betapa orang-orang Yehuda gemetar dan menggigil ketakutan di tengah amukan yang merampas semua kesenangan dan ketenangan – habis sudah hari-hari yang santai dan seenaknya itu. Mereka semula masih berpegang pada 'nubuat' para nabi yang menyatakan bahwa TUHAN akan melindungi, segala sesuatu akan aman sentosa dalam lindungan-Nya – betapapun orang Yehuda membiarkan saja penyembahan berhala terjadi di sana sini yang merupakan perzinahan keji melawan Allah. Siapa yang dapat menahan murka Allah, yang datang bagai api yang menghanguskan?
Dalam keadaan hancur, tidak semua orang diperlakukan sama. Mereka yang muda, yang belum cukup umur untuk berperang, serta yang berlatar belakang bangsawan dan anak-anak istana – yaitu orang-orang muda yang sejak kecil telah menerima pendidikan, diambil untuk dididik dalam lingkungan istana Babel. Ini adalah cara yang cerdik untuk membuat agar seluruh negara taklukan tidak berontak, karena setiap bangsa mempunyai 'wakil' mereka di sana. Sebagai orang taklukan, banyak yang melihat bahwa inilah kesempatan untuk meneruskan masa depan. Bagi anak-anak muda dari taklukan itu, kerajaan mereka dahulu sudah hancur, kini mereka berlomba-lomba mengabdi pada Kerajaan Babilonia yang perkasa. Kalau dahulu masih menyembah Allah, kini mereka menyembah apa saja yang diagungkan oleh Nebukadnezar.
Berapa banyak yang seperti demikian, ketika semua yang terlihat baik, keluarga dan orang tua baik, tiba-tiba dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi yang tidak disangka-sangka? Mendadak saja, orang harus belajar sistem keuangan. Orang dituntut harus mengikuti 'aturan main' dari Babel modern, yang penuh persaingan dan tidak jarang saling menghancurkan. Yang muda kini berlomba-lomba belajar manajemen baru, di dalam prosesnya mengabaikan semua kebijaksanaan lama, melupakan iman dan Firman Tuhan. Pada pokoknya, orang kuatir kalah pandai, kalah pengetahuan mengenai segala hal yang dibutuhkan untuk maju ke depan. Tapi, tidak demikian dengan Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya. Mereka tidak tunduk pada persaingan, tidak perlu menuruti jalan orang-orang lain yang menajiskan diri.
Keempat orang muda itu bukan kuat, bukan lebih pintar daripada orang muda lainnya. Tetapi mereka mendapatkan pengetahuan dan kepandaian dari Allah – itulah yang selamanya mengubah kehidupan mereka, orang-orang muda yang sebelumnya biasa-biasa saja di istana Israel hingga menjadi pembesar di Babel. Orang berpikir bahwa harusnya mengikuti jalan dunia dengan segala kenajisannya untuk maju, tapi keempat anak muda ini memperlihatkan bahwa TUHAN memberi kesanggupan lebih dahsyat daripada yang bisa diberikan oleh dunia. Kepada siapakah kita bergantung untuk mendapatkan pengetahuan dan kepandaian? Siapakah yang bisa mengajarkan tentang penglihatan dan mimpi; sesuatu yang sampai sekarang merupakan misteri? Hanya TUHAN!
Mintalah HIKMAT kepada Tuhan, yang memberikannya dengan cuma-cuma! Terpujilah TUHAN!
Senin, 01 Februari 2010
Memerangi
Yer 1:17-19 Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.
Yeremia adalah seorang keturunan imam di Anatot, di tanah Benyamin. Ia mendapatkan Firman dari TUHAN, artinya menjadi seorang nabi, sejak tahun ketigabelas pemerintahan Yosia. Ini adalah saat di mana penyembahan berhala telah meracuni Yehuda karena Manasye – kakek Yosia – sangat jahat, demikian pula dengan Amon, ayahnya. Yosia diangkat saat ia baru berusia delapan tahun, tetapi hidupnya justru berbalik kepada Allah, sehingga ia kembali mentaati Hukum Taurat, yang ditemukannya saat delapan belas tahun pemerintahan Yosia.
Bagi Yeremia, ia melihat kehidupan yang bobrok, yang jatuh dalam kekejian penyembahan berhala. Ia terlahir sebagai keturunan imam, tetapi ia sendiri tidak menjadi imam, karena memang tidak ada pekerjaan menyembah TUHAN; orang Yehuda melupakannya. Namun TUHAN telah menetapkan Yeremia sejak awal, bahkan sebelum ia dikandung ibunya, untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Ia tidak menjadi imam, melainkan menjadi pembawa Firman TUHAN mengenai Yehuda dan Yerusalem. Ia memberitakan kata-kata Ilahi yang tajam, yang tidak ingin didengar oleh orang baik raja maupun rakyat jelata.
Bagaimana jika kita mendapat tugas untuk memberitakan sesuatu yang tidak menyenangkan siapapun juga, walaupun berita itu benar? Dalam perkara ini, rasanya sukar untuk berkata-kata. Sungguh sukar untuk mengingatkan bahwa orang harus bertanggung jawab atas pilihannya, mereka harus bersiap menerima malapetaka akibat ketidak-pedulian dan kebodohan mengikuti allah-allah bisu dan mati, dengan meninggalkan Allah yang hidup. Siapa yang mau mendengar teguran? Entah raja atau pemuka, entah imam atau rakyat negeri akan marah dan memerangi Yeremia seorang, yang bicaranya benar dan jelas menyampaikan Firman.
Tidak ada manusia yang dapat menghadapi seluruh negeri, kecuali orang itu disertai oleh TUHAN. Maka Yeremia menjadi kuat, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga. Inilah orang yang disertai TUHAN untuk mengabarkan teguran-Nya! Sejak itu, kehidupan Yeremia tidak pernah lagi sama – sampai tiba datangnya hukuman TUHAN. Adakah kita juga siap untuk memberitakan kebenaran? Mungkin berita ini tidak menyenangkan, ditentang orang. Mereka tidak mau bertanggung jawab, tidak mau tahu tentang masa depan, karena masih terbenam dalam ketidak-pedulian dan kebodohan. Mereka tidak mau sungguh-sungguh mengikuti TUHAN, mereka mengabaikan keluarga dan bahkan melalaikan usaha untuk hidupnya sendiri di masa depan! Marilah kita berdiri dan mengingatkan, seperti Yeremia lakukan. Jika kita tidak sanggup, ingatlah bahwa TUHAN menyertai kita untuk melepaskan kita, demikianlah firman TUHAN.
Terpujilah TUHAN!
Kamis, 28 Januari 2010
Yes 6:7-8 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"
Ratusan tahun setelah Israel dan Yehuda terpisah, kedua kerajaan ini tidak berdamai juga. Pada waktu itu hiduplah raja Uzia yang perkasa, yang mau mencari TUHAN dengan sungguh-sungguh. Hanya saja, ketika kesuksesan sudah diraihnya ia menjadi tinggi hati, merasa bisa melakukan apa saja. Uzia memaksa masuk ke Bait Allah, melangkahi para imam keturunan Harun. Maka TUHAN mendatangkan kusta kepadanya – demikianlah ia direndahkan sampai akhir masa hidupnya. Kejadian mewarnai proses yang sepertinya berulang-ulang terjadi di antara raja-raja Yehuda: awalnya bersungguh-sungguh, tetapi kemudian mereka melawan Tuhan.
Dalam keadaan inilah, di akhir masa hidup Uzia, tampil nabi Yesaya. Bangsa itu telah menjadi bangsa yang seperti berdiri di tepi jurang, di mana kesetiaan kepada TUHAN, Allah semesta alam, menjadi salah satu pilihan di antara penyembahan kepada banyak allah dan dewa dewi lain. Bahkan nabi-nabinya pun terpengaruh; melihat keadaan seperti begitu, siapakah yang dapat merasa diri benar di hadapan TUHAN? Bayangkan apa yang dirasakan oleh Yesaya. Seumur hidupnya ia telah mengetahui apa dan bagaimana tuntutan bagi umat TUHAN. Tetapi ia juga sudah melihat bagaimana dirinya berkompromi dengan kehidupan yang rusak, hanya sekedar bisa hidup sedikit lebih enak.
Kesadaran itu menggoncangkan akal dan pikiran Yesaya, ketika ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah kemuliaan TUHAN. Adakah kita juga tergoncang jika berada di tengah-tengah kemuliaan TUHAN? Betapa kita sendiri telah berkompromi dengan dunia! Bukankah anak-anak Tuhan jaman sekarang berlaku seperti bani Yehuda, yang menyembah TUHAN sekaligus membiarkan kesesatan dan penyembahan berhala kekayaan dan kesuksesan merajalela? Berapa banyak orang yang di bibirnya memuliakan TUHAN, tetapi dalam pilihan dan tindakannya, satu-satunya yang diutamakan adalah keberhasilan dan kemakmuran? Bibir ini najis, kata Yesaya, demikian juga ia tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibirnya!
Maka, ketika bara itu menyentuhnya, Yesaya tidak beranjak. Kengerian saat bara api menyentuh bibir tidak seberapa dibandingkan dengan anugerah pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan di hadapan Tuhan! Yang ada adalah penyerahan diri, dan di saat panggilan untuk menjadi utusan itu datang, Yesaya tidak ragu untuk menunjuk dirinya: "Ini aku, utuslah aku!" Apakah kita mempunyai resolusi yang sama, ketika menyadari bahwa darah Kristus telah menyucikan kita dari segala kejahatan dan memberi keampunan bagi setiap dosa? Kita diutus untuk membawa pesan penting; suatu ketetapan Ilahi tentang Yerusalem dan Yehuda. Suatu peringatan bagi umat Tuhan, untuk tidak berkompromi dengan dunia, dan tidak berpaling dari kemuliaan TUHAN mencari kemuliaan diri sendiri belaka.
Soli Deo Gloria! Terpujilah TUHAN!
Minggu, 24 Januari 2010
Angin Badai
2 Raj 2:11-12 Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan.
Elisa adalah seorang yang kuat dan perkasa. Bayangkan, ketika pertama kali Elia melihatnya, Elisa sedang membajak dengan dua belas pasang lembu – itu berarti 24 ekor lembu yang dipasang bersisian, diikat dengan kuk dan tali, serta kayu untuk membajak. Kalau bukan seorang petani yang sangat kuat, bagaimana mungkin melakukan hal semacam itu? Tetapi, Elisa juga adalah seorang yang taat dan setia, saat ia mendapati nabi Allah menjumpainya maka Elisa segera meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan ayah dan ibunya, kemudian melayani Elia dengan baik. Demikianlah hubungan antara Elia dan Elisa terbina selama beberapa tahun.
Pernahkah kita melayani seorang hamba Tuhan yang besar, sehingga kita juga turut memahami visi dan tujuan-tujuan Allah di atas dunia? Dalam satu aspek, mungkin kita juga adalah seorang yang kuat dan perkasa. Barangkali kita memiliki kepandaian dan pengetahuan yang luas dan mendalam. Barangkali kita punya koneksi dan relasi yang berpengaruh, serta memiliki kepemimpinan yang luas bagi banyak orang. Itu adalah peranan Elisa sebelumnya – yang kemudian ia tinggalkan saat menemui nabi TUHAN. Tidak jarang, sekarang ini juga ada orang-orang sukses yang meninggalkan karyanya, agar bisa melayani TUHAN dengan mengikuti seorang hamba Tuhan.
Hubungan itu berjalan baik, tetapi pada akhirnya kita mengerti bahwa yang terpenting bukanlah diri hamba Tuhan itu. Bukan diri nabi Allah. Bagi Elisa, bukan diri Elia. Yang terpenting adalah Dia yang dilayani oleh Elia, oleh nabi Allah, atau oleh hamba Tuhan. Untuk itu, yang terutama adalah mendapatkan bagian dari apa yang semula dimiliki Elia, bahkan Elisa mengharapkan dua kali lipat Roh TUHAN yang ada pada Elia. Adakah kita juga mengharapkan Roh TUHAN dua kali lipat menguatkan kita, bekerja di dalam kita? Elisa tahu bahwa ia harus menghadapi situasi yang sulit, dua kali lebih berat daripada Elia. Itu telah menjadi nubuat yang diberikan kepada Elia, bahwa Elisa harus menyandang pedang dan melawan kekafiran bangsanya!
Itulah saat yang dahsyat dalam diri Elisa, ketika ia melihat bagaimana angin badai mengangkat Elia. Api dan angin badai adalah perwujudan dari TUHAN sendiri. Dia kehilangan Elia sebagai bapanya. Bangsa Israel kehilangan Elia sebagai kereta Israel dan orang yang berkuda. Tetapi hari itu Elisa mendapatkan apa yang dimintanya, dan kehidupan Elisa pun sejak saat itu berubah total. Kehidupan baru yang dimulai dengan dukacita, sampai Elisa merobek pakaiannya sendiri, sekaligus mengalami betapa kuasa Roh TUHAN berkuasa dua kali lipat dalam dirinya. Hal ini terulang kembali dari jaman ke jaman, ketika seorang pelayan nabi menjadi Nabi itu sendiri, saat seorang pelayan pendeta menjadi Pendeta yang bekerja dua kali lebih besar daripada yang semula dilayaninya.
Kita kehilangan, sekaligus mendapatkan apa yang lebih besar daripada ia yang pergi. Terpujilah TUHAN!
Jumat, 22 Januari 2010
Putus Asa
1 Raj 19:4,13 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." … Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"
Seumur hidupnya Elia melayani TUHAN. Dia ini orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, yang muncul di puncak kekafiran bangsa Israel ketika Ahab menjadi raja. Kalau diperhatikan, dimulai dari Yerobeam yang meninggalkan Tuhan, kemudian Baesa dan Ela anaknya yang sama jahat. Hukuman Tuhan jatuh kepada Baesa melalui Zimri – dia ini panglima atas setengah pasukan kereta, yang juga jahat. Rakyat mengangkat Omri, seorang panglima tentara yang membinasakan Zimri, tetapi Omri lebih jahat lagi. Dialah yang membeli Semer dan membangun kota Samaria sebagai pusat penyembahan berhala bagi Israel. Ahab adalah anak Omri, yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih daripada semua orang yang mendahuluinya.
Bayangkan, betapa sukarnya kehidupan kafir bagi orang-orang yang masih setia kepada TUHAN. Mereka bersembunyi, ketakutan oleh kekuasaan jahat yang mencengkram bangsa itu. Dalam keadaan begitulah Elia lahir dan dibesarkan, tetapi ia tetap melayani TUHAN dan membawa pesan yang keras: tidak akan ada hujan yang turun di atas Israel. Biasanya, Tuhan memakai tangan-tangan manusia untuk menjatuhkan hukuman kepada raja atau orang yang jahat di mata-Nya. Tetapi kini, oleh besarnya kejahatan bangsa itu, TUHAN memakai alam yang membawa kesengsaraan kepada setiap orang. Namun, bangsa itu masih saja belum bertobat.
Elia bersembunyi dari Ahab yang dengan panik mencarinya – menyalahkannya atas bencana kekeringan itu. Tetapi akhirnya ia muncul, membuktikan penyertaan TUHAN dengan menantang nabi-nabi baal untuk mempersembahkan korban, serta menunjukkan kepada rakyat itu siapa yang harus disembah. Seharusnya ada perubahan, namun nyatanya Elia kembali ke situasi yang sama seperti sebelumnya: ketakutan oleh kekuasaan jahat yang mencengkeram bangsa. Semua yang dahsyat itu, hasilnya nihil! Izebel masih berkuasa dan berbuat seenaknya – apa yang berubah? Maka, bagi Elia justru dirinya yang berubah, sampai ia masuk ke padang gurun.
Ada kalanya, kesusahan Elia juga menjadi pengalaman kita. Mulainya dari situasi yang tidak baik, situasi sulit. Dalam bagian kita melayani TUHAN, kita membuat ini dan itu serta mengusahakan perbaikan. Tidak jarang, ada kuasa TUHAN dan mujizat yang menyertai, sehingga menjadi bukti yang seharusnya menggerakkan orang. Nyatanya tidak: orang tetap ada di keadaan semula. Akibatnya, sebaliknya dari mengubah orang yang buruk, justru kita yang berubah menjadi putus asa. Kalau mujizat TUHAN sudah diabaikan, lantas apalagi yang bisa dilakukan seorang manusia? Disinilah kita menemukan pertanyaan TUHAN: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"
Apa kerja kita? Adakah kita sanggup untuk mengubah sesuatu? Bukankah kita hanyalah orang-orang yang dipakai oleh TUHAN, melakukan apa yang sudah ditetapkan-Nya, sudah dipersiapkan-Nya untuk kita lakukan? Ingatlah kata-kata Tuhan Yesus: kami hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya mengerjakan apa yang harus kami kerjakan.
Apa kerjamu? Terpujilah TUHAN!
Rabu, 20 Januari 2010
Hati Penuh Hikmat
1 Raja 3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian. Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.
Salomo tidak menjadi raja karena ia berjasa. Ia bukan seorang pahlawan, bukan pula seorang yang berjuang; sebenarnya, ia adalah anak yang lahir belakangan dan mengalami kehidupan yang lebih tenteram dibandingkan semua anak Daud lainnya yang mati dibunuh Absalom. Itu adalah peperangan hebat antara Daud dan anaknya sendiri, yang berakhir menyedihkan. Daud menjanjikan tahtanya kepada Batsyeba, ibu Salomo, karena ia telah mendengarkan Firman Tuhan yang menyatakan bahwa Salomo yang kelak akan membangun Rumah bagi Allah. Salomolah yang akan membangun Bait Allah, maka ia harus menjadi raja penerus Daud.
Pengaturan ini sendiri sebenarnya tidak lazim, karena menurut kebiasaan orang saat itu, yang lebih 'dekat' sebagai pewaris tahta adalah Adonia. Dialah anak tertua setelah Absalom mati – Absalom adalah anak Daud yang dengan kejam membantai hampir semua saudara-saudaranya sendiri, sebagai balas dendam atas penderitaan Tamar, adiknya. Jadi begitulah gambaran kacau balau dari anak-anak Daud, dan dari tengah-tengah kekacauan ini Salomo menjadi raja dengan terburu-buru karena Adonia sudah lebih dahulu menyatakan diri sebagai raja! Bisakah dibayangkan bagaimana Salomo dibesarkan?
Ketika Salomo sudah menjadi raja, TUHAN memberinya kesempatan untuk meminta sesuatu. Kesempatan istimewa! Apakah yang akan diminta oleh seorang manusia kepada Allah semesta alam? Salomo meminta hati penuh hikmat! Ia tidak meminta sesuatu untuk memuaskan dirinya, melainkan memohon kemampuan untuk memikul tanggung jawab sebagai penerus tahta Daud. Salomo menyadari keadaannya dan ia melihat bahwa dirinya bertanggung jawab atas masa depan Israel. Ia bersedia untuk bertanggung jawab – maka TUHAN pun berkenan untuk memberinya hati yang penuh hikmat dan pengertian. Tidak ada lagi raja yang seperti Salomo.
Permintaan itu sendiri telah mengubah Salomo dan memberinya kehidupan yang baru, karena ia kini memahami lebih baik dibandingkan orang lain. Hanya saja, ternyata hikmat itu tidak disertai iman yang cukup besar, tidak seperti Daud, sehingga Salomo lebih melihat kesia-siaan dalam hidup dan perlahan-lahan membuat hidupnya sendiri kacau dengan meninggalkan TUHAN. Bagaimanapun, Salomo menjadi raja yang berhasil mengelola kerajaannya, menjadi sangat kaya dan sangat berpengaruh. Itulah buah dari hati yang penuh hikmat, yang diterima sebagai bagian dari kesediaan untuk bertanggung jawab. Ingin sukses? TUHAN yang memberikannya bagi orang yang layak untuk menerima.
Bertanggung jawablah. Terpujilah TUHAN!
Minggu, 17 Januari 2010
Roh TUHAN
1 Sam 16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.
Daud terbiasa disebut anak kecil. Kisahnya mungkin menyerupai kisah Yusuf, kecuali bahwa Daud tidak disayang dengan cara yang luarbiasa oleh ayahnya. Sebaliknya, ia seperti terbuang dengan tugasnya menggembalakan domba di padang. Itu bukan pekerjaan yang mudah atau aman, karena di sana Daud harus berhadapan dengan singa dan binatang buas lain, juga menghadapi kekerasan sesama gembala, berebut air dan rumput, menahan dinginnya angin dan panasnya matahari – menjadi anak yang terlupakan. Bukankah ia tidak diingat-ingat ketika Samuel mendatangi Isai, ayahnya?
Tujuh anak yang gagah berlalu di hadapan Samuel, semuanya nampak gagah sebagai laskar Israel yang berperang melawan Filistin. Tak ada satupun yang dipilih TUHAN. Isai mengernyitkan dahi di depan Samuel, Hakim atas Israel yang dihormati, yang sekarang datang untuk mempersembahkan korban tapi tidak mau mulai sebelum anak yang bungsu itu datang. Hah, mengapa si bungsu itu perlu datang? Tidak cukupkah ketujuh anak laki-laki untuk mengikuti ritual persembahan? Dibutuhkan waktu beberapa saat untuk memanggil Daud, dan mereka harus menunggu dan menunggu… Ketika Daud hadir di rumahnya, Samuel bangkit dan mengurapinya. Ia mengambil tanduk minyak dan menuangkannya di atas kepala Daud.
Siapa yang menyangka? Isai tidak pernah mengira anak yang kemerah-merahan itu akan diperlakukan begini rupa. Orang tua itu sering bermimpi tentang anak sulungnya dan adik-adiknya sebagai pahlawan Israel, tapi tidak pernah disangka bahwa yang terpilih justru yang bungsu! Daud sendiri juga tidak menyangka – ia hanya menurut saja ketika Samuel mengurapinya di tengah saudara-saudara. Dan disitulah mulainya satu perubahan dahsyat dalam hidup Daud, sesuatu yang dalam seketika mengubahnya secara total dan radikal. Roh TUHAN berkuasa atas Daud sejak hari itu dan seterusnya – bahkan kini Samuel tidak lagi dibutuhkan, maka ia kembali ke Rama, ke rumahnya.
Siapa di antara kita yang merasa diri paling kecil? Yang tidak berarti, yang tidak diharapkan menjadi pahlawan, dan hanya kebagian tugas yang membosankan dan dianggap tidak penting walaupun berbahaya? Sepertinya tidak ada harapan untuk maju. Seolah-olah, kehidupan yang terlihat hanyalah berada di tempat ini, melakukan hal-hal yang biasa saja, menjadi biasa saja. Tetapi TUHAN berkuasa untuk hadir dalam kehidupan, dan mengubah semua gambaran dan rancangan manusia. Apa yang biasa menjadi luar biasa karena Roh TUHAN bersamanya! Bersyukurlah, karena kini bukan hanya Daud, tetapi seluruh anak Allah memperoleh Roh TUHAN atasnya sejak hari Pentakosta. Bukankah kita patut bergembira, karena kehidupan kita pun menjadi berbeda?
Roh TUHAN menguasai kita. Terpujilah TUHAN!
Sabtu, 16 Januari 2010
Penolakan
1 Sam 8:7-8 TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.
Kehidupan Samuel berisi pengalaman langsung dengan TUHAN, sejak pertama kali ia mendengar panggilan-Nya di malam hari. Seumur hidupnya Samuel menjadi hakim atas bangsa itu, yang sudah berulangkali mengalami penindasan dan pembebasan. Itulah Israel yang diatur oleh para Hakim, yang semuanya menjadi wakil dari TUHAN yang melindungi bangsa itu setiap kali keadaan menjadi terlalu berat untuk ditanggung mereka. Tetapi Hakim-Hakim tidak cukup bagi orang Israel. Mereka tidak ingin diperintah oleh Allah yang tidak ada singgasananya di muka bumi. Mereka ingin raja.
Penolakan ini membuat kehidupan Samuel berubah total, demikian juga dengan kehidupan bangsa Israel. Apakah mereka tahu apa yang akan terjadi? Apakah mereka mengerti bahwa ketika orang menduduki tempat yang seharusnya diisi Allah, maka kekacauan dan kesusahan akan mengikuti di belakangnya? Itulah yang ditanyakan oleh Samuel, tetapi bangsa itu menjawab bahwa mereka menerima! Mereka sudah memilih, walaupun mereka tidak paham konsekuensinya! Dan kalau direnungkan, orang-orang Israel waktu itu tidak sadar bahwa mereka sedang menggadaikan kehidupan keturunan mereka kelak demi memuaskan keinginan saat ini.
Penolakan terhadap apa yang benar saat ini tidak selalu menimbulkan akibat saat ini juga – sebaliknya, anak-anak dan cucu-cucu dan cicit-cicit bangsa itulah yang harus menerima kesusahan. Orang seringkali menginginkan perubahan sekarang, termasuk menolak otoritas TUHAN dalam hidup, dan hal itu memuaskan mereka tanpa menyadari bahwa nanti anak-anak mereka akan menderita. Itulah yang dilakukan bangsa Israel sejak mereka keluar dari Mesir. Itu jugalah yang dilakukan bangsa itu terhadap Hakim mereka yang sudah tua. Rasanya hal ini bukan sesuatu yang asing…bukankah sekarang pun orang menolak Tuhan, menolak juga para hamba Tuhan?
Berapa banyak dari kita yang lebih suka memiliki 'kekuasaan' seperti yang dimiliki orang di dunia ini? Kita mau ada 'raja' dengan uang lebih banyak dan pengaruh lebih besar. Kita mendedikasikan diri bagi perusahaan dan bisnis, melebihi dedikasi untuk TUHAN. Dalam berusaha, strategi bisnis demi kemenangan lebih penting ketimbang prinsip-prinsip dari Alkitab. Bisnis dapat menjadi penguasa baru dalam hidup, tetapi kita mau mempunyai 'raja' seperti orang dunia lainnya. Tahu-tahu, orang yang saat mahasiswa jadi aktivis gereja, kini setelah kerja tidak lagi kebaktian Minggu. Yang tadinya halus dan sopan, kini menjadi kasar dan serakah – diajari untuk berbuat begitu. Tiba-tiba, ia seperti jadi orang lain, hidupnya berubah total. Tanpa TUHAN, perubahan itu menyedihkan, karena menggantikan apa yang penting di hari esok dengan apa yang memabukkan di masa sekarang. Belajarlah dari bangsa Israel, dan perhatikan bagaimana akhirnya!
Jangan menolak TUHAN. Terpujilah TUHAN!
Jumat, 15 Januari 2010
Perjumpaan
Hak 6:14-15 Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!" Tetapi jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku."
Ada saatnya menjadi orang yang percaya adalah hal yang sukar, mendekati mustahil. Sekalipun TUHAN telah membuktikan penyertaan-Nya, manusia menjadi sangat bodoh dan lemah di dalam kesulitan. Bodohnya, semakin besar kesulitan, orang pun semakin menjauh dari Allah. Sepertinya sudah menjadi tabiat manusia untuk percaya pada apapun yang dipercaya oleh sang pemenang. Apalagi jika para pemenang itu sedemikian dahsyatnya, sehingga orang Israel begitu ketakutan dan membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu. Itulah kengerian yang dibawa oleh orang-orang Midian.
Bagaimana mengalahkan orang Midian? Mungkin yang dibayangkan oleh orang Ibrani adalah persenjataan yang lebih hebat. Pengalaman dan kebijaksanaan yang lebih cerdas. Bukankah dari jaman dahulu sampai sekarang masih sama saja? Orang yang mau menang harus mengumpulkan kekuatan terlebih dahulu. Kumpulkan uang, pengaruh, kekuasaan, pengetahuan, dan segala hal yang memungkinkan orang mendapatkan kemenangan, termasuk mempunyai dewa yang hebat dan memberi kemenangan. Bagi Gideon yang paling muda di keluarganya, yaitu keluarga yang paling kecil di suku Manasye, ia tidak punya apa-apa.
Ketika perjumpaan itu terjadi dan pernyataan TUHAN diberikan, reaksi Gideon adalah kekerdilan dirinya. Dia muda! Keluarganya kecil! Sukunya tidak berarti! Memiliki penyertaan Allah tidak cukup; ia mengharapkan hal-hal lain yang lebih nyata. Bukankah kita sekarang pun mengalami hal serupa? Penyertaan Tuhan tidak memadai, orang lebih mengandalkan uang dan kepandaian (baca: titel) serta koneksi untuk mendatangkan keberhasilan. Orang yang merasa dirinya kecil mencari-cari 'nasehat' dari berbagai motivator yang heboh di hotel-hotel mewah, sedangkan keyakinannya kepada TUHAN hanya sebatas untuk ritual dan saat kelak meninggalkan dunia saja.
Maka, Gideon meminta tanda untuk meneguhkan keyakinannya. Pertama-tama ia minta tanda bahwa dirinya memang berarti, persembahannya memang diterima. Apakah kita ragu, apakah persembahan kita juga diterima oleh Tuhan? Itu adalah keraguan yang tidak berguna! Di saat TUHAN mengutus anak-anak-Nya, Dia tidak main-main dengan janji-Nya untuk menyertai. Kalau Gideon ragu, Tuhan bersedia memberi tanda. Akan lebih baik lagi jika kita percaya, tanpa harus mendapatkan segala macam tanda! Maka hidup Gideon setelah perjumpaan itu pun berubah: ia menghancurkan berhala-berhala, ia memimpin, dan ia membebaskan bangsanya dari orang Midian.
Temuilah Allah. Terpujilah TUHAN!
Rabu, 13 Januari 2010
Kuatkan Dan Teguhkanlah Hatimu
Ul 31:23 Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."
Ketika ia lahir, bangsanya adalah budak-budak yang ditindas dalam sebuah negara adikuasa, Mesir. Satu-satunya pengharapan yang menghibur bangsa itu adalah ingatan tentang Allah leluhur mereka, Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub – mereka yang telah menerima Perjanjian dengan kuasa Ilahi. Tetapi, semua itu terjadi beratus tahun lalu sedangkan realita kehidupannya adalah penindasan dan penganiayaan yang tidak tertahankan. Semua itu begitu berat, sampai tibalah Musa, orang Ibrani yang dikenal sebagai pangeran Mesir yang terbuang itu, dan melalui serangkaian peristiwa hebat membawa bangsa Israel keluar dari negeri yang besar itu.
TUHAN, memang dahsyat, tetapi berada bersama-Nya juga tidak mudah. Sejak Yosua menjadi bagian dari 10 pengintai ke negeri Kanaan, ia sudah mempunyai gambaran yang elok tentang kehidupan yang sejahtera di tanah Kanaan. Sayang, tidak semua pengintai setuju dengannya, malah hanya Kaleb yang setuju! Setelah itu mereka berbalik, berputar-putar selama 40 tahun di tengah gurun dan padang tandus. Perlahan-lahan, semua yang dikenalnya sejak keluar dari Mesir, mati satu per satu. Itu pengalaman yang tidak mudah, sekalipun bagi seorang yang percaya. Allah itu hebat, dahsyat, tapi juga mematikan.
Dan kini, Yosua tidak muda lagi. Musa yang dilayaninya pun sudah menjadi amat tua. Nampaknya ia tidak sanggup lagi membawa bangsa itu berbaris masuk ke Tanah Perjanjian – inilah saat ketika Yosua menerima firman itu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu! Bayangkan kesulitannya! Ingatlah kengeriannya! Ini bukan tugas yang mudah diterima oleh seorang manusia, kecuali ia menguatkan dan meneguhkan hati. Di seluruh pernyataan yang berkaitan dengan tugas bagi Yosua, kata-kata ini selalu diungkapkan. Yosua bahkan diperintahkan untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya.
Ada tiga hal yang bisa kita pelajari. Yang pertama, bagi Yosua tugas ini tidak mudah dan TUHAN tahu ia merasa gentar, merasa lemah dan rapuh. Itulah sebabnya Firman TUHAN memerintahkan untuk menguatkan dan meneguhkan hati. Yang kedua, tugas ini mengubah kehidupan Yosua secara drastis – dari seorang pelayan menjadi pemimpin yang membawa bangsa yang besar, melalui saat-saat yang menggetarkan hati yang lemah. Yang ketiga, satu-satunya cara untuk menjadi kuat dan teguh hati adalah dengan sepenuhnya mempercayai Allah, bahwa Dia menyertai di setiap langkah. Bagi setiap orang yang mengalami perubahan, yang menerima tugas yang berat menakutkan, ketiga hal ini juga menjadi penghiburan. Tuhan tahu kita lemah. Tuhan tahu perubahan ini menakutkan. Dan Tuhan tahu, harapan kita hanya bergantung pada kenyataan bahwa Tuhan menyertai.
Imanuel! Terpujilah TUHAN!
Senin, 11 Januari 2010
Penyertaan TUHAN
Kel 3:12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini."
Sebelum ini, Musa adalah orang yang menyedihkan. Bayangkan, ia memulai masa kecilnya dengan luar biasa, dari anak ibrani yang harusnya dibuang, justru dibesarkan di istana Firaun. Di sana ia mendapatkan pelajaran terbaik, latihan terbaik, ilmu terbaik – sebab itu sendirian saja ia bisa membunuh orang mesir, juga mengusir gembala-gembala di tanah Midian yang mengganggu gadis-gadis itu. Tetapi kasus pembunuhan terhadap orang Mesir adalah hal yang serius, maka Musa meninggalkan 40 tahun masa hidupnya sebagai pangeran Mesir dan melewati 40 tahun berikutnya sebagai gembala Midian.
Kadang-kadang, kehidupan kita juga begitu. Mulainya baik sekali, namun tiba-tiba kita terpuruk dan harus melalui suatu masa yang keras, sukar, dan sangat berat. Apa yang sudah diusahakan dan dicapai dalam puluhan tahun, tiba-tiba lenyap. Maka kita terpaksa pindah ke tempat lain, mengambil pekerjaan kasar dan jauh dari kenikmatan semula. Menjadi gembala kira-kira setara dengan menjadi buruh kasar di jaman modern, sebagai pekerja di tingkat paling bawah yang kerjanya paling berat dan gajinya paling minim. Sesuatu yang dikerjakan hanya karena tidak ada lagi yang dapat dikerjakan oleh seorang asing ditengah-tengah suku peternak – sekalipun orang asing itu adalah bekas pangeran di Mesir!
Perhatikanlah: selama 80 tahun, Musa tidak tahu bahwa ia disertai TUHAN. Sejak hidupnya di istana Firaun, ia menganggap kehidupan adalah urusannya sendiri; ia tahu dewa-dewa mesir dan juga tahu sesembahan bangsa lain, namun ia tidak memiliki pengenalan akan TUHAN sebelum pertemuannya di hari yang bersejarah ini. Tetapi TUHAN mengenalnya, bahkan menyertainya, sampai tiba waktu bagi TUHAN untuk mengutus Musa. Di saat itulah Musa tahu, Allah menyertainya – bersamanya dalam segala kekejaman pembunuhan, dalam kepahlawanan mengusir gembala-gembala pengganggu, dan dalam hidupnya di usia tua, yang membawanya dalam semak yang menyala tapi tidak terbakar.
Penyertaan Allah diikuti oleh pengutusan, demikianlah Musa diutus untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Tanda penyertaan Allah bukan kedahsyatan tulah di Mesir. Bukan kehebatan luarbiasa ketika laut Merah terbelah dua. Tanda penyertaan Allah adalah saat Musa telah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan beribadah di gunung Horeb. Di kala segenap bangsa Israel berlutut menyembah Allah, itulah tanda yang jelas bahwa Musa adalah utusan-Nya. Sebelum hari perjumpaan dengan TUHAN, Musa tidak melihat apa-apa. Setelah hari itu, hidup Musa tidak pernah sama lagi. Itulah yang diberikan oleh penyertaan TUHAN!
Pegang tangan-Nya! Terpujilah TUHAN!
Kamis, 07 Januari 2010
Kuasa
Kej 41:39-40 Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu."
Bagi seorang manusia, pencarian kekuasaan seringkali menjadi tujuan utama. Ada orang yang meniti karir dan pengaruhnya sejak muda, sehingga ia menjadi semakin besar dan semakin berkuasa. Semakin tinggi kedudukannya, semakin keras pula upaya untuk menjaga kelangsungan kekuasaan yang dimilikinya. Atau seandainya kekuasaan itu tidak bisa dipegang seterusnya, tidak jarang orang berusaha mengambil keuntungan dari apa saja yang bisa diusahakan – selagi masih ada kekuasaan. Tetapi bagi orang lain, kehidupannya adalah bau busuk penjara, di tempat di mana manusia dikerangkeng seperti binatang, bahkan juga diperlakukan sebagai binatang. Jangankan berkuasa; bisa bertahan hidup satu hari lagi saja sudah bagus.
Begitulah hari-harinya Yusuf, selama bertahun-tahun ada di penjara tanpa diadili, ada di kurungan bawah sebagai mahluk yang tidak berarti dan tidak diinginkan. Yusuf sudah membantu, dia menolong sesama tahanan mengartikan mimpinya – dan apa balasannya? Yusuf terlupakan sampai 2 tahun lamanya, padahal ia sudah membuat hal yang luarbiasa yaitu dengan tepat menafsirkan mimpi. Baru setelah Firaun bermimpi dan tidak ada seorangpun yang mampu menafsirkan, nama Yusuf diingat. Hanya setelah urusan mimpi menjadi krisis nasional, terbukalah peluang bagi tahanan yang akrab dengan bau penjara – dan dalam waktu yang tidak lama, Yusuf menerima kuasa.
Apakah Yusuf yang hebat? Bukan, tetapi Firaun melihat dengan jelas bahwa orang yang bernama Yusuf ini memiliki Allah yang berkuasa, yang memberikan akal budi dan kebijaksanaan melebihi semua orang lain. Sebagai manusia, Yusuf tidak meniti karir dan pengaruh – menjadi orang tahanan berarti menjadi orang yang terlupakan. Siapa yang mau mengingat nama seorang tahanan? Ini juga menjadi pengalaman banyak orang di jaman sekarang – dunia yang sibuk, yang diskriminatif, dan yang dengan mudah melupakan nama. Siapa yang mau mengingat nama kita, nama saya atau nama Anda? Tetapi, kuasa datang bukan dari nama kita, melainkan dari penyertaan Allah.
Ketika penyertaan Allah menjadi nyata di hadapan orang, maka tidak ada yang dapat meremehkan kuasa itu. Ketika orang melihat kuasa Tuhan bekerja dalam diri seseorang, maka orang itu menjadi penting. Ada yang berupaya keras membangun kekuasaannya – tapi begitu diperhadapkan dengan kuasa Tuhan, apapun yang dibuat manusia menjadi tidak berarti. Terlalu kecil untuk diperbandingkan, sekalipun oleh seorang Firaun yang disembah bagaikan dewa oleh rakyatnya. Demikianlah kita belajar, bahwa kuasa Tuhan juga memberikan kehidupan baru kepada Yusuf, kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Renungkanlah: sekalipun hidup kita sekarang dilupakan orang, tetapi di dalam Tuhan apapun dapat menjadi kenyataan. Kuasa Tuhan begitu besar, bersama Dia tidak ada yang mustahil!
Terpujilah TUHAN!
Selasa, 05 Januari 2010
Ganti Nama
Kej 32:27-28 Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang."
Kehidupan Yakub adalah hidup dalam pergumulan. Sejak Ishak membawa keluarganya pindah ke tanah Kanaan, mereka harus berjuang keras, sampai-sampai Esau menjual hak kesulungannya demi semangkuk bubur merah. Ketika akhirnya Yakub yang menerima berkat dari Ishak, ia melarikan diri dari hadapan Esau ke rumah Laban, orang Aram saudara ibunya. Di sana 20 tahun ia bekerja – dimanipulasi – demi cintanya kepada Rahel, walau ia juga mendapatkan Lea dan hamba-hambanya. Yakub memang diberkati, tetapi ia dikepung oleh iri hati dan keserakahan anak-anak Laban, sampai ia melarikan diri membawa segala miliknya kembali ke Kanaan, ke rumahnya dahulu… Ironis, bukan? Dahulu ia pergi karena melarikan diri. Sekarang ia pulang juga karena melarikan diri.
Segala hal yang dialami Yakub belum seberapa dibandingkan dengan apa yang dihadapinya. Ia sekarang harus menghadapi Esau. Yakub sudah mengirimkan upeti pendahuluan – untuk membujuk Esau. Malam itu, ternyata Yakub menemui apa yang lebih besar daripada Esau, ketika seseorang berkelahi, bergulat dengannya sepanjang malam sampai fajar menyingsing. Ini adalah pergulatan yang hebat, karena ternyata Yakub tidak mau kalah. Akhirnya orang itu pun mau pergi, tetapi Yakub tidak mau melepaskannya kecuali orang itu memberkatinya terlebih dahulu. Dimulai dari saat itulah, Yakub diberi nama Israel – bergumul dengan Allah dan manusia, dan menang. Bukan 'menang' seperti dalam perlombaan, melainkan tetap bertahan, tidak menyerah.
Sejak itu, kehidupan Yakub berubah. Ia takut pada Esau, tetapi kakaknya ini justru berlari menghampirinya, menyambut dengan kasih sayang. Segala hal berjalan dengan baik, segala karunia menjadi nyata – kepada Esau, Yakub mengakui bahwa segala kesejahteraannya berasal dari Allah yang tidak pernah berhenti memelihara kehidupannya. Ia berjalan terpincang-pincang, tetapi hatinya yang semula pincang kini menjadi tegar. Jika kita harus menghadapi pergumulan – lihatlah Yakub yang bertahan, yang menang setelah melalui 20 tahun pergumulan dan penderitaan. Siapa yang tahan bergumul selama itu?
Bagaimana dengan diri kita sendiri? Kehidupan kita juga tidak luput dari pergumulan, dari masalah dan pihak-pihak yang memanipulasi, mengambil keuntungan seperti Laban. Semakin besar kita mendapat karunia dari Tuhan, semakin besar pula hasrat orang untuk memanfaatkan! Apakah kita bertahan untuk menjalani kehidupan yang keras dan penuh kerikil ini? Di ujungnya, ada pergulatan yang hebat menghadapi Allah – dan mungkin kita tidak melaluinya dengan utuh. Kadang kala, rasanya seperti melawan Tuhan, yang sepertinya bertindak tidak adil terhadap kita. Apakah kita bertahan hingga fajar menyingsing? Saat itu, kita justru tidak mau melepaskan Allah. Kita mau diberkati-Nya, dan Dia pun memberi nama baru bagi kita.
Pemberian nama berarti menyatakan kepemilikan. Nama baru menunjukkan hubungan baru, sesuatu yang khusus dan istimewa. Dan nama baru juga menunjukkan sebuah kehidupan baru. Yakub tidak lagi hanya seorang manusia. Ia telah menjadi Israel, menggenapi janji Allah kepada Abraham dan Ishak. Nama baru ini juga diberikan kepada kita, kalau kita terus bertahan sampai akhir, ketika Tuhan Yesus menggenapi waktu Allah dan datang untuk yang kedua kalinya. Saat itu Dia memanggil kita dengan nama yang baru.
Terimalah! Terpujilah TUHAN!